Daily Archives: Juli 9, 2015

Negara, Agama dan HAM

Published by:

Negara Agama dan HAMJudul: Negara, Agama dan HAM
Pengarang : Otto Gusti Madung
Harga : Rp. 40.000
Tebal : xiv+ 176 hal
Ukuran : 140x210mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Glossy Kilat 230gr, doft ,laminating
ISBN : 978-979-9447-94-4
Mantan Presiden Mahkamah Konstitusi Jerman, Ernst-Wolfgang Böckenförde, pernah mengungkapkan sebuah adagium paradoksal tentang relasi antara agama dan negara: “Der Staat lebt von Vorausetzungen, die er selbst nicht garantieren kann” – “negara hidup dari syarat-syarat yang tak dapat diciptakannya sendiri”. Syarat-syarat dimaksud adalah moralitas substansial yang membentuk akhlak warga. Negara membutuhkan warga yang bermoral agar dapat menata sebuah kehidupan bersama dan membangun jaringan solidaritas. Solidaritas sosial tak pernah bertahan jika sebuah komunitas hanya diisi oleh para egois. Akan tetapi kekuasaan negara tidak dapat menciptakan sendiri moralitas. Sebab jika hal tersebut terjadi negara akan terperosok ke dalam bahaya totalitarisme yang mengintervensi ranah privat dan membonsai kebebasan warganya. Moralitas sudah masuk dalam ranah masyarakat di mana agama, pendidikan, peguyuban-peguyuban dan organisasi-organisasi masyarakat sipil berkiprah. Kekerasan atas nama agama, intoleransi dan rezim moralitas merupakan patologi sosial yang berakar pada rancunya pemahaman tentang relasi antara agama dan negara. Buku Negara, Agama dan HAM coba ikut memberikan kontribusi dalam diskursus tentang relasi antara agama dan negara yang berkembang di tanah air.

Adoremus – Kumpulan Doa-Doa Salve

Published by:

ADOREMUS - depanJudul: ADOREMUS
Penyadur : Simeon Bera Muda, SVD
Harga : Rp. 50.000
Tebal : x+ 253 hlm
Ukuran : 110 x 165 mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Hard cover
ISBN : 978-979-9447-41-0

Buku yang diberi judul “Adoremus Kumpulan Doadoa Salve” ini merupakan terjemahan dari sebagian buku doa berjudul “Preghiere Comunitarie in Uso Della Comunita dei Missionari Verbiti”, Roma, 1990. “Adoremus” berarti “Marilah kita menyembah”, dan “Salve” berarti “Salam”. Dari judulnya dapat kita ketahui bahwa buku ini merupakan kumpulan doa-doa yang disusun menurut tahun liturgi dan tema-tema tertentu untuk digunakan bila ada kesempatan menyembah Yesus yang hadir dalam sakramen mahakudus.
Eucharisticum Mysterium menyebut bahwa devosi kepada sakramen mahakudus sebagai upacara kebaktian dan ulah kesalehan hendaknya memperhatikan masa liturgi Gereja. Dengan demikian kebaktian tersebut
bersumber pada liturgi dan menuntun umat kepada liturgi.

Seni Bicara

Published by:

Seni Bicara - depanJudul     : SENI BICARA
Tahun   : Maret 2014
Penulis  : Hendrikus Dori Wuwur
Harga    : Rp. 40.000
Tebal     : ix + 261 hlm.
Ukuran : 140mm x 205mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-99-9
Felix von Eckardt mengatakan, “Manusia menanamkan pengaruhnya lewat kata-kata.” Satu kebijaksanaan dari Mesir kuno berbunyi, “Jadikan diri Anda tuan atas Seni Bicara maka Anda akan menang.” Untuk menjalankan setiap tugas atau jabatan secara efektif, tidak hanya dituntut keterampilan dan pengetahuan yang terkualifikasi, tetapi juga keterampilan berbicara, yaitu keterampilan untuk merumuskan pikiran dengan kata-kata yang tepat dan kemampuan untuk berargumentasi secara meyakinkan. Bicara. Demosthenes, ahli pidato berkebangsaan Yunani, mengatakan, “Apa yang besar dan penting yang harus Anda katakan dalam hidup Anda, tidak akan dipahami orang lain dengan tepat apabila Anda tidak mengucapkannya secara sungguh-sungguh dan hidup.” Sementara itu, Oscar Wilde berpendapat, “Hanya kata-katalah, yang mampu mengungkapkan realitas dari segala sesuatu.”
Buku ini bermaksud mengembangkan keterampilan dan kreativitas dalam hal Seni Bicara.

Melakukan Teologi di Abad Plural

Published by:

melakukan teologiJudul : MELAKUKAN TEOLOGI di Abad Plural
Tahun : Maret 2015
Penulis : Silvester Ule
Harga : Rp. 80.000
Tebal : xxviii + 425 hlm.
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-04-0

Keseluruhan tulisan ini adalah perkenalan umum terhadap ”metode” Lonergan dalam teologi. Pada bab pertama, penulis berusaha memberi pengantar tentang situasi dunia dengan pelbagai tantangannya yang kompleks pada pelbagai level: kognitif, eksistensial dan spiritual. Dalam situasi yang kompleks ini, maka yang dibutuhkan kiranya bukanlah teknik atau resep siap pakai tertentu yang tinggal diterapkan. Yang dipentingkan adalah pembentukan pribadi otentik, yang siap menghadapi pelbagai perubahan dan kejutan yang terjadi dalam persoalan dunia yang plural di masa ini.
Karenanya, sesudah memaparkan riwayat singkat Lonergan pada bab 2, penulis berusaha memaparkan “metode” Lonergan pada bab 3: di mana “metode” dipahami bukan sebagai teknik tertentu, melainkan merupakan latihan pembentukan pribadi berdasarkan pola normatif dasariah dengan persepsi transendentalnya yang khas: “Pekalah” (Be attentive), “Cerdaslah” (Be intelligent), “Rasionallah” (Be reasonable), “Bertanggungjawablah” (Be responsible), “Kasihilah” (Be in love)”. Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai pentingnya menyadari batas horison, pentingnya pertobatan dan konversi dalam pengetahuan dan hidup religius, atau pentingnya perubahan pelbagai asumsi-asumsi dasar menuju niat baik untuk mencari otentisitas hidup dan tindakan.
Lalu, bagaimana “metode” tersebut diterapkan pada bidang kategorial teologi yang sudah lebih dahulu ada dan berkembang? Pada bab 4, penulis berusaha memaparkan pandangan Lonergan mengenai penerapan “metode” pada bidang teologis yang sudah dikenal, seperti riset, hermeneutika, dogma, sejarah Gereja, dan sebagainya. Yang ditekankan ialah bagaimana seorang spesialis bidang, hermeneutika misalnya, bekerja dalam bidangnya sebagai sebuah ungkapan dari spiritualitasnya (atau sebagai ekspresi dari otentisitasnya), bukannya bekerja dalam menara gading prosedur keilmuannya tanpa keyakinan atau tanpa merasa punya hubungan dengan iman yang konkret atau bidang ilmu yang lain. Karenanya, Lonergan menamakan “metode” sebagai “metode dalam (bidang-bidang) teologi”, bukan “metode teologi”. Lonergan tidak bermaksud menawarkan suatu aliran teologis tertentu, melainkan bermaksud mengubah teologi sebagai aliran-aliran yang sering dianggap berbeda, menjadi satu satu kesatuan yang saling berhubungan dengan fungsi yang berbeda, sekaligus sarana menuju spiritualitas yang berkanjang.
Akhirnya pada bab 5, penulis berusaha memaparkan bagaimana “metode” tersebut mempunyai kemungkinan dikembangkan dalam pelbagai persoalan teologis. Pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab dalam bagian ini adalah pertanyaan dan soal-soal teologis konkrit yang sering ditanyakan dalam teologi, dengan pelbagai asumsi yang melatarinya. Inti “metode” Lonergan kiranya bukan terutama menjawab soal teknis tertentu, melainkan berusaha mengubah asumsi-asumsi dasar dalam pluralitas persoalan teologis di masa ini, dengan tujuan bahwa berdasarkan asumsi-asumsi dasar tersebut dalam dialog atau upaya melakukan teologi di tengah dunia yang plural, “semua orang dengan niat baik yang sama dapat berjumpa”. Lonergan tidak berbicara secara khusus tentang dialog, namun karakter “metode” bersifat dialogis, atau ia tidak berbicara tentang pluralitas, namun pada hemat saya “metode” mempunyai karakter dasar yang peka dengan dunia yang plural.

You might also likeclose