Daily Archives: Juli 14, 2017

DEMOKRASI MINUS DISKURSUS

Published by:

Penulis                  : Silvianus M. Mongko
Penerbit                : Ledalero
Tahun Terbit        : Oktober 2016
ISBN                      : 978-602-1161-28-9
Ukuran Buku        : 140mm X 210 mm
Ketebalan Buku   : 246 halaman
Harga                    : –

“Demokrasi  Minus   Diskursus”.  Demikian   judul buku  kecil  ini.  Sebuah judul yang mungkin tidak terlalu ‘menohok’, tapi serentak mengundang diskusi. Sejak awal, saya merasa perlu mengingatkan Anda, supaya jangan terlalu ‘membuang’ waktu  untuk   membayangkan ‘kerennya’  isi  buku  ini. Syukurlah kalau Anda tidak  sampai mengerutkan dahi! Saya tak  mau  Anda akhirnya ‘menyesal’  karena setelah membaca buku ini, Anda mungkin tidak mendapatkan apa- apa sebagaimana Anda harapkan. Sebab, apa yang tersaji di sini lebih sebagai ungkapan kekecewaan, letupan emosi, umpatan, rasa sesal, sinisme, cercaan, celotehan, dan di atas segalanya ialah hembusan spirit keprihatinan penulis ketika menyaksikan bagaimana dunia, sejarah, dan peradaban kita terjungkal ke titik nadir. Mungkin Anda menganggap saya berlebihan! Tapi memang begitulah kenyataannya, jika kita ingin melihat dan mengungkapkan secara jujur panorama sosial di sekitar kita. Kita sedang berziarah pada sebuah lintasan sejarah yang kian mencemaskan!

Abad yang mencemaskan ini ditandai oleh kemiskinan dan  ‘ketersesatan’  berpikir, kelalaian untuk  memikirkan lebih serius tentang masa depan sejarah dan peradaban kita, bahkan sikap ‘malas  tahu’  terhadap ketidakadilan situasi sosial, ekonomi,  politik,  hukum,  budaya,  yang  sedang menggilas dan mengjungkirbalikkan sisi-sisi kehidupan kita. Kita sedang apatis dengan apa yang datang, atau yang sengaja diciptakan oleh perlakuan kekuasaan, yang membahayakan masa depan sejarah dan  perabadan kita sendiri. Karena kita, saya, Anda, dan institusi-institusi yang mengitari kita (sosial, politik, hukum,  agama, budaya, dan pendidikan) tidak serius memikirkan, mendiskusikan, menemukan solusi serta berkomitmen pada panggilan masing-masing, maka kita menganggap sejarah degradasi moral yang ‘mencincang’ kemanusiaan dan  peradaban bangsa sebagai pengalaman biasa  (banal).  Sikap  ‘remeh-temeh’  untuk   memikirkan masa depan sosialitas dalam ‘kerangkeng’ politik kekuasaan ini dapat dijadikan definisi sederhana dari apa yang saya maksudkan dengan “Demokrasi Minus Diskursus’.

“Demokrasi    Minus     Diskursus”    berbicara    soal ‘ketidakseriusan’ kekuasaan untuk mengurus negara, mulai dari  kebablasan basis konseptual (kesadaran epistemis), ‘kegagapan’ etika, dan ‘ketersesatan’ praksis politik. Pada titik  ini,  demokrasi ‘berkontribusi’  melahirkan paradoks dan ironi kehidupan bersama. Untuk itu, apa yang tertuang di sini lebih banyak manarasikan bagaimana para pelaku kekuasaan, atas  nama  demokrasi, justru  lebih  banyak bertindak sebagai ‘parasit’  demokrasi itu  sendiri. Mereka memanfaatkan ‘kemurahan’  demokrasi untuk  kemudian mengeruk keuntungan  bagi  diri  sendiri dan  kelompok oligarkis.

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Published by:

Penulis               : Yohanes Orong

Penerbit             : Ledalero

Tahun Terbit     : September 2016

ISBN                   : 978-602-1161-26-5

Ukuran               : 150 mm x 225 mm

Ketebalan           : 144 halaman

Harga                  : Rp. 45.000

Oprah Winfrey di dalam buku “Words That Matter” berkata “Tidak ada penemuan yang tidak berisiko – dan risiko yang Anda ambil mengungkapkan apa yang Anda nilai berharga.”

Risiko paling pertama ketika Anda membaca buku ini boleh jadi ialah perkara metodologis yang bersifat kaku dan cendrung menuntut. Namun, justru setelah Anda mampu menghadapinya, Anda telah menetapkan sebuah pilihan berharga.

Buku ini berharga sebab mengandung panduan pokok menguasai klaim  ilmiah  akademik,  pembuatan  kutipan,  isu orisinalitas dan  plagiarisme, penulisan referensi, penulisan bibliografi, unsur-unsur  penting  karya ilmiah,  dan  tata  cara penulisan skripsi dan tesis. Setidaknya ketika banyak orang terjebak pada kebebasan dangkal dengan tidak lagi peduli terhadap hal-hal yang bersifat menuntun atau memandu, buku ini justru memaksa pembaca untuk melawan kedangkalan.

MGR. PETRUS NOYEN, SVD – Perintis Misi SVD di Indonesia

Published by:

Pengarang : Alex Beding
Penerbit : Ledalero
ISBN : 978-602-1161-25-8
Terbit : Agustus 2016
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Jumlah hlm. : 140 halaman
Harga : Rp. 40.000

Kisah para Rasul bab 2 ayat 9-11, adalah sebenarnya pembukaan kisah awal sejarah penyebaran Kabar Gembira Yesus Kristus untuk seluruh jagat. Bukan kebetulan peristiwa Pentekosta yang menggemparkan itu langsung disaksikan dan  didengar sendiri oleh sejumlah besar bangsa-bangsa Asia, orang-orang  dari Roma dan Afrika utara… yang hadir di Yerusalem. Mereka memberi kesaksian: “kami mendengar mereka (Rasul-rasul) berbicara dalam bahasa kita tentang perbuatan-perbuatan ajaib  yang  dilakukan  Allah”. Dan mereka semua yang menjadi saksi mata itu telah menjadi misionaris-misionaris pertama.  Mereka  telah  membuka jaringan penyebaran dengan menceriterakan peristiwa Pentekosta itu ke mana- mana hingga ke Asia Timur. Selama 20  abad  kemudian  setelah mendengar  pewartaan para misionaris kepada semua bangsa di seluruh dunia, orang- orang boleh mengulangi kata-kata yang sama di atas: … “kami mendengar mereka (misionaris-misionaris berbicara dalam bahasa kami tentang perbuatan- perbuatan ajaib yang dilakukan  Allah!” Itulah keajaiban Misi Yesus.

Semangat penyebaran Kabar Baik ini telah memberi inspirasi kepada imam Arnoldus Janssen untuk mendirikan Serikat Sabda Allah pada 1875  di Steyl, Belanda untuk menyediakan pasukan-pasukan misionaris yang akan diutus ke seluruh dunia. Sebelum akhir abad 19 dia sudah mulai mengirim  anggota- anggotanya pertama  ke  Cina.  Dan Cina  terus menarik minat.  Buku kecil ini  memberikan satu gambaran tentang salah seorang yang sejak kecil sudah menaruh hati untuk pergi ke Cina membawa Kabar Gembira Yesus  Kristus, ialah Petrus Noyen, misionaris dari Serikat Sabda Allah.

Dalam sketsa singkat ini kita coba mengenal P. Noyen sebagai seorang  yang  berpengalaman  dan  mempunyai bakat sebagai organisator yang pandai berintegrasi dengan orang-orang di sekitarnya dan merancang suatu karya besar untuk  membuat  orang-orang itu  bahagia dan  sejahtera sesuai dengan ajaran Injil. Dengan mengelola pendidikan di sekolah-sekolah Katolik P. Noyen meletakkan dasar untuk karya Misi yakni membangun manusia bermutu dan beriman yang utuh, beradab dan bermartabat “yang mengasihi Allah di atas segala-galanya,  dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.”

Didorong oleh cinta akan tugas missioner dan semangat berkorban Mgr.  Noyen  telah menjadi teladan yang mengobarkan hati banyak pemuda dan pemudi untuk menjadi  misionaris  dalam  serikat-serikat religius  yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen yang hingga saat ini bekerja di Indonesia. Dan jika pada tahun 2013 para putera-puteri Santo Arnoldus Janssen memperingati masa bakti selama seratus tahun di Indonesia, maka sudah pada tempatnya kita semua bergabung dalam madah syukur dan pujian kepada Allah yang telah memberkati dengan limpah karya pelayanan yang tulus dalam kebun anggur- Nya di Indonesia yang dirintis oleh Mgr. Petrus Noyen SVD. Sudah puluhan tahun bangsa yang mendiami kepulauan yang indah ini telah mendengar misionaris-misionaris berbicara dalam bahasa mereka tentang perbuatan-perbuatan  ajaib Allah!

MONOLOGION – Ketika Kata Bertingkah

Published by:

Jika Anda tidak ingin disindir tutup dan buanglah buku ini di tempat sampah!

Pengarang   : Fredy Sebho
Penerbit       : Ledalero
ISBN             : 978-602-1161-24-1
Terbit            : Juni 2016
Ukuran          : 140 mm x 210 mm
Jumlah hlm.  : 192 halaman
Harga             : Rp. 50.000

Monologion ini dibuka dengan sebuah proposisi tentang kata. Kata mendasari universum dan kepadanyalah segala sesuatu tergantung. Kata itu tampak mulai dari yang paling renik sampai yang paling rumit dan, seperti diamini penulis buku ini, hingga tak lagi bisa ditemukan oleh bahasa.

Jika memang demikian, bagaimanakah sesuatu yang tidak bisa ditemukan oleh bahasa terpahami, sementara bahasa dimafumi sebagai sarana pengantar manusia kepada pengertian, termasuk kepada pemahaman akan kata sebagai fundamen segala keberadaan? Dan apakah yang tidak bisa ditemukan oleh bahasa itu pada akhirnya, sekali lagi, ekuivalen dengan kata?

Pertanyaan eksistensial ini mewadahi permenungan setiap pencari kebenaran, termasuk mereka yang menggunakan tulisan sebagai instrumen. Melalui tulisan sesuatu yang disebut rahasia terungkap. Hal ini tentu bukan tujuan satu-satunya, sebab menurut Roland Barthes menulis itu tidak hanya menyingkapkan rahasia, tetapi pada akhirnya harus bersifat revolusioner, yakni menolak makna.[1] Namun, apa itu “menolak makna”? Barthes tentu tidak salah, walaupun juga tidak selamanya benar.

Penulis, seturut Barthes, belum berhasil jika sekadar puas dengan ramuan kata yang sedap bagi mata dan telinga. Pesannya ialah penolakan terhadap kedangkalan makna dan pesan di dalam teks. Hanya saja cukup banyak penulis yang gagal, sebab salah memilih cara menyampaikan pesan. Tidak sedikit penulis yang merasa puas dengan mendikte pembaca, dan berpikir bahwa sebuah tulisan telah cukup mengubah dunia.

Dalam rangka menyingkapkan rahasia dan melawan kedangkalan pesan, cukup banyak penulis menggunakan dialog sebagai metode. Namun, pada sebagian, rahasia justru terungkap melalui teknik monolog(ion). Di dalam teknik ini sindiran dipilih bukan karena dianggap etis, melainkan karena lebih baik daripada mendikte.   

Di dalam buku ini monologion diberi arti “kembara tanpa batas ke dalam diri sendiri”. Namun, arti tersebut kehilangan daya magisnya jika tidak dikaitkan dengan kembara iman dan intelektual manusia yang paling primordial. Dalam rangka ini, kita mesti kembali pada era medieval, zaman di mana eksistensi Allah dicari melalui pergulatan intelektual, dan saat di mana siapa pun pasti terpaut dengan Anselmus dari Canterbury. Selain kita terpesona oleh pembuktian Anselmus akan keberadaan Allah yang didaulatnya melalui rasio murni dan silogisme, kita berjumpa dengan sumber dari mana terma “monologion” yang dipakai penulis buku ini berasal. 

You might also likeclose