Daily Archives: September 22, 2017

Manajer/Filsuf Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati

Published by:

Penulis                      : Reza A.A. Wattimena
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  150 x 230 mm
Jumlah halaman       : viii + 286hlm
ISBN                          : 978-602-1161-36-4

Manajemen, dalam arti tata kelola kerja sama antar manusia untuk mencapai satu tujuan tertentu, mungkin adalah salah satu temuan terpenting di dalam sejarah perkembangan manusia. Manajemen memungkinkan pengelolaan kerja sama antar beragam orang dengan kemampuan berbeda, guna mencapai satu tujuan yang telah disepakati. Dengan berpijak pada hal ini, manusia lalu bisa mempertahankan keberadaannya di bumi ini, walaupun diancam banyak binatang buas. Mereka juga bisa mewujudkan berbagai hal di dalam sejarahnya, mulai dari seni, budaya, filsafat, ilmu pengetahuan dan politik yang beradab.
Namun, manajemen tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari tindak berpikir manusia. Filsafat, sebagai cara berpikir rasional dan kritis untuk menjelaskan segala yang ada, memainkan peranan penting di sini. Secara harafiah, filsafat adalah pecinta kebijaksanaan. Para filsuf adalah orang yang mencari kebijaksanaan di dalam hidupnya dengan menggunakan akal budinya.
Pemahaman tentang filsafat pun berkembang menjadi penjelasan rasional, kritis dan sistematis atas segala yang ada. Filsafat menawarkan pandangan dunia yang menyeluruh untuk manusia. Filsafat juga menawarkan panduan hidup, supaya orang bisa mencapai kebahagiaan dan pencerahan. Di dalam sejarahnya, filsafat pun berkembang menjadi beragam cabang ilmu pengetahuan, sebagaimana kita kenal sekarang ini.
Manajemen sebagai ilmu adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan tersebut. Manajemen adalah tata kelola, sehingga beragam orang dengan beragam kemampuan dan motivasi bisa bekerja sama, guna mewujudkan satu tujuan tertentu. Tujuan tertentu bisa beragam pula, mulai dari sekedar berwisata keluar kota dengan segala persiapannya, sampai dengan mengelola organisasi internasional dengan ribuan tugas dan sumber daya. Manajemen tentu terus mengalami perkembangan, sejalan dengan perubahan jaman yang semakin kompleks sekarang ini.
Di dalam buku ini, saya akan berfokus pada manajemen bisnis. Walaupun begitu, beberapa bidang manajemen lainnya tentu akan dibahas, seperti yang dijelaskan oleh salah satu pemikir manajemen ternama, yakni Peter Drucker. Di dalam bisnis, tujuan utama dari manajemen adalah menata kerja sama dari beragam manusia dan sumber daya, guna mencapai keuntungan. Keuntungan ini menjadi nyawa bagi bisnis yang sedang berjalan. Namun, keuntungan ini tidak dapat dipersempit semata pada keuntungan ekonomi belaka, tetapi juga keuntungan bagi organisasi tersebut, sekaligus bagi masyarakat maupun alam yang ada di sekitarnya.
Dalam konteks ini, filsafat manajemen bisnis adalah refleksi adalah pengandaian-pengandaian di balik pola pikir dan praktik bisnis yang ada di masyarakat. Filsafat manajemen bisnis hendak melihat anggapan-anggapan yang tersembunyi di balik praktik bisnis. Semua anggapan itu dipertanyakan, diteliti lebih dalam, lalu disesuaikan dengan perubahan yang terus terjadi. Ini membuat semua praktik bisnis menjadi relevan dengan keadaan masyarakat.
Sampai Februari 2016, ini adalah buku pertama yang mengupas beragam hal terkait dengan filsafat manajemen bisnis. Buku ini tidak hanya mengupas etika bisnis, yakni diskusi kritis tentang baik dan buruk di dalam praktik bisnis, tetapi juga menyentuh inti dari praktik bisnis itu sendiri. Ia tidak hanya membahas beragam dimensi di dalam praktik manajemen bisnis, tetapi juga mengajukan arah untuk perkembangan bisnis dalam kaitannya dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Harapannya, buku ini bisa mengembangkan wacana ilmu manajemen sekaligus filsafat, terutama filsafat sosial, di Indonesia.
Buku ini penulis tujukan kepada peminat pengembangan ilmu manajemen maupun praktisi manajemen, khususnya manajemen organisasi bisnis. Buku ini juga ditujukan untuk para peminat filsafat, terutama filsafat sosial yang berupaya memahami dasar-dasar dari kehidupan bersama manusia.

Gereja mandiri, solider dan membebaskan Rencana Strategis Pastoral Keuskupan Sibolga 2016-2020

Published by:

Editor                         : Hubert Thomas Hasulie
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  160 x 240 mm
Jumlah halaman      : x + 304 hlm
ISBN                          : 978-602-1161-35-7

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam dua tahun pemerintahannya menunjukkan bahwa beliau sungguh peduli akan pendidikan, kesehatan dan pangan. Iapeduli kesejahteraan rakyat. Ia bekerja keras, jauh dari KKN. Bahkan beberapa bulan terakhir di paruh kedua tahun 2016, beliau langsung membagikan susu dan makanan bergizi bagi balita agar sehat dan pintarlah generasi mendatang.

Apa yang dicanangkan dan apa yang dikerjakan Sang Presiden, membuat warga Indonesia senang, bahagia. Mereka sungguh merasakan bahwa “oh… inilah Presiden yang telah menjalankan amanat penderitaan rakyat, ia sungguh menjalankan konstitusi Negara Republik Indonesia ini. Ia bukan hanya sebagai Presiden… roh seorang ‘Bapak’ nan peduli amat dialami”. Melalui kehadiran di tengah warga, melalui kerja nyata, orang menjadi yakin bahwa beliau sungguh Presiden dan Bapak.

Sinode II diadakan dengan tujuan untuk mengevaluasi seluruh dinamika karya pastoral dengan segala dimensinya dan rembuk bersama atas apa saja yang perlu dibenahi dan dikerjakan lagi pada masa lima tahun mendatang. Di dalam evaluasi kita tidak hanya melihat segala kekurangan, segala kegagalan dari apa yang kita kerjakan, tetapi juga melihat apa-apa saja yang sudah cukup berhasil kita kerjakan yang sekaligus membangkitkan harapan untuk melanjutkannya di masa mendatang. Kita tidak hanya melihat pengaruh-pengaruh entah posisif maupun negative dari dunia interen gerejani, tetapi juga segala pengaruh baik dan buruk dari dunia yang lebih luas. Dan sejalan dengan metodologi perjuangan yang kita anut, maka titik utama yang paling disorot adalah: apakah Kerajaan Allah terutama Pewartaan Yesus dan Pewartaan Gereja Universal makin dialami, makin berakar dan mekar di Keuskupan Sibolga?

Yesus sendiri mengatakan: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab ANTUK ITULAH Aku diutus” (Luk. 4:43). Dari evaluasi berjenjang yang dilakukan mulai dari basis, paroki dan tingkat keuskupan, Nampak bahwa apa yang kita kerjakan selama lima tahun silam, dengan segala warna-warninya, toh tidak jauh dari Kerajaan Allah. Data memperlihatkan bahwa animo kerja seluruh petugas pastoral yang selalu mengadakan pemberdayaan di tengah-tengah umat basis (lingkungan, stasi) makin tinggi. Maka saya boleh terjemahkan pengalaman ini sebagai Hati Umat Allah Keuskupan Sibolga yang berjuang secara konkrit menghadirkan HATI dan PERJUANGAN YESUS di tengah-tengah umat dan warga secara keseluruhan. Roh itu merasuk dan menguasai hati, pikiran, budi dan kehendak banyak orang untuk bekerja sesuai dengan Perjuangan Yesus yang kita terjemahkan melalui Visi dan Misi gereja lokal Keuskupan Sibolga.

Buku RSPKS Hasil Sinode II ini terdiri dari 3 bagian besar, diawali dengan Kerangka Dasar Pastoral Keuskupan Sibolga dan prolog yang menguraikan tentang metodologi kerja pastoral Keuskupan Sibolga. Bagian pertama menggambarkan Konteks Pastoral Keuskupan Sibolga mulai dari konteks historis global menuju konteks lokal. Kemudian paparan menukik pada hasil Evaluasi Pastoral 5 tahunan yakni berupa pencapaian dan kegagalan yang telah terjadi dalam kerja di lapangan selama lima tahun silam serta pembelajaran untuk meningkatkan mutu pastoral ke depan. Tantangan-tantangan pastoral yang diperoleh dari analisis sosial berjenjang mulai dari tingkat KBG, paroki dan keuskupan menjadi penutup bagian pertama ini. Bagian kedua berisi dokumentasi Refleksi Biblis yang dilakukan dalam Sinode II. Bagian ketiga berisi Tanggapan Pastoral, terdiri dari dua bagian: pertama, Matriks Program yang memuat masalah pokok yang ditetapkan oleh Sinode II, sebab-sebab kuncinya, tujuan jangka panjang (disertai indikator-indikator), sasaran jangka pendek (disertai indikator-indikator) serta kegiatan-kegiatan yang akan dikerjakan selama lima tahun mendatang demi meraih tujuan dan sasaran yang ada. Kedua, Matriks Kegiatan yang merupakan rincian kegiatan-kegiatan pokok yang mesti dijalankan selama lima tahun mendatang. Rincian tersebut mencakup kelompok sasaran, penanggungjawab, tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rentang lima tahun mendatang. Semoga buku ini dapat menjadi pegangan di tangan untuk mengimplementasikan dan menterjemahkan secara lebih konkrit lagi di tengah umat basis jawaban atau tanggapan pastoral kontekstual sesuai dengan visi dan Misi Keuskupan Sibolga.

Bahasa Indonesia Identitas Kita

Published by:

Penulis                       : Yohanes Orong
Cetakan 1                   : Januari 2017
ISBN                           : 978-602-1161-34-0
Penerbit                     : Penerbit Ledalero
Cet. 1                           :Januari 2017
Jumlah halaman      : x + 198 hlm,
Ukuran:                      : 155 x 225 mm

Sesuai judul, corak utama buku ini ialah pedoman bagi siapasaja yang ingin mahir berbahasa Indonesia dan menjadikannya identitas diri. Lahirnya judul, berikut artikel-artikel di dalam buku ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa sejak era Reformasi 1998, sebagaimana diulas Kompas, 29 Oktober 2016, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara makin terabaikan.
Selain karena penggunaan bahasa asing yang terus-menerus merebak ruang publik, perabaikannya bahasa Indonesia, terutama dalam lingkup akademik, disebabkan oleh (beberapa di antaranya) tidak perdulinya pengguna bahasa Indonesia terhadap tuntutan gramatikal agar bahasa digunakan secara baik dan benar, minimnya pengetahuan kompetensi dasar bahasa Indonesia dari penggunapenggunannya, dan hilangnya rasa bangga orang Indonesia terhadap bahasa Indonesia.
Di bawah judul “Menduakan Bahasa Sendiri”, Gufran A. Ibrahim (Kompas, 29 Oktober 2016) dengan amat bangga menyebut bahasa Indonesia sebagai “anugerah bahasa” luar biasa bagi bangsa. Menurut Gufran Ibrahim ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bukan sekadar peristiwa linguistik, suatu peristiwa di mana sekelompok orang bersepakat menggunakan bahasa bersama. Para pemuda yang melantangkan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 silam “menyiapkan titik berangkat yang memandu penghormatan atas kebhinekaan, dengan meletakkan “bahasa kami”, bahasa daerah, yang ratusan jumlahnya itu ke dalam kerangka “bahasa kita”, bahasa Indonesia, sebagai titik-jumpanya.” Pilihan ini, lanjut Gufran adalah ikhtiar profetik yang tidak saja mengkhidmati kitaran historis saat itu, tetapi juga terbukti di kemudian hari merupakan upaya perenial yang melampaui zamannya. Bukti nyata dari upaya profetik-profetik itu adalah, kini, Indonesia yang berjumpa, bercakap, memajukan diri, dan terus mengelola kebinekaan dengan menggunakan satu bahasa kita: bahasa Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak lagi terbilang muda, sejak peristiwa Sumpah Pemuda 1928 bahasa Indonesia telah mengalami pencanggihan gramatika yang luar biasa melalui kuasa semantic (semantic power) pemakainya.
Diakui Gufran “Ilmuwan dan kaum cendikia telah membikin bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu melalui reka-cipta kosakata dan pencanggihan wacana ilmiah. Di tangan pakar dan cendikia, bahasa Indonesia menjadi penghela ilmu. Teknokrat, negarawan, dan politisi telah membawa bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi dalam menumbuhkan demokrasi. Sastrawan telah dengan hebatnya mengkreasi, mengeksplorasi, menawarkan cara “pengucapan” baru yang tidak saja semakin memperkaya kosakata, tetapi juga tak hentinya menyodorkan keluhungan gaya dan laras estetiknya. Wartawan dengan gaya pewartaannya, tidak saja memberi kabar pada khalayak, tidak saja menggunakan kata dan kalimat, tetapi lebih dari itu telah menemukan kata-kata baru, menemukan laras baru dan semakin baru dalam kecanggihan pewartaannya. Wartawan telah menghidupkan kata-kata yang nyaris “mati” dalam lembaran kamus, mengeksplorasi kata-kata baru, bahkan membikin idioma-idioma baru yang sebelumnya tak terbayangkan dalam kesederhanaan bahasa Indonesia. Dengan amat sengaja sebagian artikel Gufran A. Ibrahim tersebut di atas dikutip utuh agar imbauannya untuk tidak menduakan bahasa
sendiri mendapatkan gambaran memadai dan pembaca berikhtiar untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia. Secara khusus kaum akademisi dalam setiap lingkungan perguruan tinggi menjadi pihak paling pertama dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam rangka itu melampaui sekadar soal tatabahasa, bidang bahasa Indonesia bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi, sebagaimana dikatakan Gorys Keraf (Keraf: 2004) lebih merupakan sebuah mata kuliah kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa bagi dosen dan mahasiswa dapat dilihat sebagai “conditio sine qua non” (syarat mutlak) bagi upaya mempelajari ilmu pengetahuan.
Atas dasar itu, maka orientasi pelajaran bahasa Indonesia di dalam buku ini terarah pada pencapaian kompetensi-kompetensi dasar berikut. Pertama, pencapaian kemahiran berbahasa (Indonesia), baik lisan, maupun tulis. Konstruksi bahasa lisan sedikit banyak tentu berbeda dengan bahasa tulis. Orang tidak harus dituntut untuk berbicara secara teratur dan sistematis; sebagaimana biasanya terdapat dalam bahasa tulisan. Namun, kemahiran berbahasa secara
lisan sebenarnya setali tiga uang dengan hal yang mesti dimiliki oleh seseorang pada saat dia menulis. Kedua, jika kemahiran berbahasa telah tercapai, dosen dan mahasiswa pada akhirnya mesti mempelajari bahasa sebagai sebuah bidang kajian filsafat, yakni sebuah bidang yang secara umum dikenal sebagai ilmu kebahasaan atau Linguistik. Atas dasar itu, mata kuliah ini dapat merupakan sedikit pengenalan awal akan ilmu kebahasaan. Ketiga, ketika pertentangan antara mayoritas dan minoritas tidak bisa disembunyikan, bahasa Indonesia akan senantiasa menjadi identitas bersama yang keberadaannya melampaui kategori pemisah apa pun. Atas dasar itu, nilai persatuan, sebagaimana termaktup dalam judul buku ini, yaitu “Bahasa Indonesia Identitas Kita” hendaknya menjadi warna dasar perjalanan bangsa Indonesia.

Sejarah Keuskupan Larantuka

Published by:

Penulis           : Eduard Jebarus, Pr

Penerbit         : Ledalero
Cetakan 1       : Agustus 2017
ISBN               : 978-602-1161-41-8
Ukuran           : 170mm  x 240 mm
Jumlah hlm. : xxvi + 494 hlm

Penulisan Sejarah Keuskupan Larantuka merupakan sebuah upaya penting dan berharga, yang patut diapresiasi dan disyukuri. Ada banyak peristiwa dan kejadian, termasuk orang-orang, yang telah membentuk sejarah itu. Sayang kalau semua itu dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa dicatat atau dibukukan.

Buku Sejarah Keuskupan ini dimaksudkan agar kita boleh mengenal dan mencintai Keuskupan Larantuka, serta belajar dari sejarah itu, sebab sejarah membawa banyak pesan berharga bagi manusia dari generasi ke generasi. Semoga generasi muda semakin mengenal sejarah keuskupannya, mencintai dan mengambil hikmahnya.
Sebagai sebuah buku sejarah buku ini ditujukan terutama untuk lingkup sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Untuk itu, penulis menggunakan banyak judul bawahan, serta “butir” dan “angka” (istilah komputer, bullets dan numbering). Mudah-mudahan dengan cara ini pembaca dibantu untuk menyoroti tema-tema tertentu, menangkap urutannya dan mudah untuk mengungkapkannya kembali. Gaya penulisan Eduardus Jebarus yang khas ini, diharapkan bisa membantu para pembaca umum mengetahui perjalanan sejarah Keuskupan Larantuka.
Pada bagian awal buku ini, berisikan “Ikhtisar Kronologis” dengan maksud agar para pembaca mempunyai gambaran singkat-menyeluruh mengenai sejarah Keuskupan Larantuka sampai dengan tahun 2015.
Di dalam Bab 1, penulis membuka pembicaraan dengan mengisahkan “Jejak Kekatolikan di Sumatera” dengan maksud menempatkan sejarah Keuskupan Larantuka dalam konteks sejarah Gereja Katolik di Indonesia sejak abad ke-7. Di dalam bab ini juga dibicarakan tentang “Tuan Ma” sebagai peristiwa iman khas Larantuka sebelum misionaris Portugis berkarya di wilayah ini.
Periodisasi atau pembabakan selanjutnya sebenarnya diangkat dari “bahasa sehari-sehari”, yakni dari kejadian-kejadian dalam sejarah Keuskupan Larantuka, yang terdiri atas tiga periode misi (Dominikan, Yesuit, dan SVD) dan empat periode masa tugas empat uskup di Larantuka (Mgr. Gabriel Manek, SVD, Mgr. Antonius Thijssen, SVD, Mgr. Darius Nggawa, SVD, dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr). Pembabakan besar seperti ini bisa saja mengandung “penyimpangan” misalnya, karya dua imam projo selama empat tahun (1860 – 1863) pada awal Misi Larantuka dimasukkan ke dalam periode Misi Yesuit (Bab 3). Untuk mengedepankan kekhususan dua imam projo itu, dalam buku ini disajikan satu topik tersendiri perihal mereka sebelum berbicara tentang karya para misionaris Yesuit. Selanjutnya, penulis memberi isi yang lebih luas pada masing-masing periode yang diperoleh dengan menelusuri dan menjelajahi berbagai buku, majalah, manuskrip, dokumen dan arsip serta bertanya pada banyak nara sumber. Buku ini patut dibaca oleh semua orang dalam semua lapisan masyarakat teristimewa umat keuskupan Larantuka.

You might also likeclose