Serpihan Budaya NTT

Serpihan Budaya NTT - depanPenulis : Frans Sarong
Harga : Rp. 125.000
Tebal : xxx + 312 hlm.
Ukuran : 140.5 mm x 210 mm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-25-9

Kebudayaan adalah semesta makna. Makna tercipta dari relasi atau pertengkaran manusia dengan alam, relasi manusia dengan yang misterium, relasi manusia dengan manusia yang mengkonstruksi pranata dan memfasilitasi hidup manusia dalam relasi-relasi tadi. Rasa lapar, cara bercinta, cara menangis, cara beragama, cara makan, jenis makanan, cara berpakaian, corak pakaian, bentuk dan tata letak kamar rumah, cara menghormati orang lain dan cara`menempuh kekuasaan dikonstruksi oleh kebudayaan. Williams pernah berkata, budaya merupakan a whole way of life (keseluruhan cara hidup). Karena itu, menurut `Cliffort Geertz “tanpa budaya manusia akan menjadi keganjilan yang tak dapat diperbaiki, dengan hanya sedikit naluri yang bermanfaat, sedikit perasaan yang dapat dikenali, dan tidak memiliki kecerdasan.”
Nusa Tenggara Timur atau NTT, juga berjulukan provinsi gersang. Sebagian besar wilayah daratannya memang berselimut sabana, gundul dan tandus. Kondisinya bertambah parah akibat aktivitas penambangan terutama mangan, yang nyaris tidak terkendali. Analogi provinsi gersang agaknya cocok juga terkait konteks tradisi, adat dan budayanya. Tidak ada yang berani membantah kalau NTT masa silam sebenarnya sangat kaya dengan aneka tradisi, adat dan budayanya. Harta bathin itu diyakini sebagai sumber kedamaian yang sekaligus mengembuskan keselarasan hubungan dengan sesama, alam, dan Wujud Tertinggi.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan ficer Frans Sarong tentang kebudayaan manusia di NTT. Karena itu membaca buku ini bagaikan sedang bertamasya ke pelosok-pelosok Nusa Tenggara Timur. Selain itu kumpulan tulisan dalam buku ini merupakan dokumentasi budaya, peradaban, sejarah dan sekaligus celah kecil untuk melihat dunia di luarnya. Dunia di luar rentetan peristiwa dan seremoni adat itu tak lain adalah upaya resistensi untuk menahan badai yang datang silih berganti. Oleh karena itu buku ini layak untuk dibaca oleh siapa saja yang mencintai kebuadayaan!

You might also likeclose