Author Archives: ledalero

Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi

Published by:

Penulis: Otto Gusti Madung
Tahun Terbit: 2016,
Jumlah Halaman: 198 hlm.
Ukuran: 150 x 230 mm
Penerbit: Ledalero
ISBN: 978-602-1161-30-2
Harga: Rp.60.000
————————

Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi oleh setiap masyarakat multikultural ialah relasi timpang antara kelompok mayoritas dan minoritas. Di Indonesia, akibat dari relasi timpang ini sering diderita oleh kelompok-kelompok minoritas penganut kepercayaan. Penganut Sapto Darmo di Berebes, Jawa Tengah misalnya kesulitan memakamkan keluarganya di pemakaman umum karena kolom agamanya di KTP kosong. Demikianpun perkawinan penganut kepercayaan Marapu di Sumba, Nusa Tenggara Timur, tidak dicatat negara. Akibatnya anak-anaknya tak memiliki akta kelahiran. Bahkan anak- anak Sunda Wiwitan sering harus berbohong soal identitas agamanya agar dapat bersekolah.
Praktik-praktik toleransi yang berbasis pada relasi timpang tidak mengakui prinsip kesetaraan dan hak asasi setiap warga negara untuk diperlakukan secara sama. Toleransi adalah hadiah yang diberikan oleh kelomopok mayoritas kepada kelompok minoritas. Model toleransi seperti ini sangat rapuh dan mudah sekali diprovokasi lewat isu-isu sektarian. Dalam kasus kerusuhan Tanjung Balai, Tolikara dan di tempat-tempat lain di tanah air, kita dapat menyaksikan bagaimana warga begitu gampang meninggalkan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan tradisi toleransi yang sudah diwariskan cukup lama hanya karena hasutan di media sosial. Sesama warga tak segan-segan dihabisi hanya karena berbeda agama dan kayakinan.Satu bukti bahwa toleransi belum tampil sebagai kebajikan politik demokrasi yang harus diperjuangkan. Toleransi dipandang sebagai sikap terpaksa membiarkan yang lain hidup lantaran factum pluralitas.
Kualitas demokrasi di Indonesia yang plural sangat ditentukan oleh kualitas kebajikan toleransi yang berpijak pada prinsip hak, kebebasan dan kesetaraan. Karena itu sudah saatnya untuk beralih dari model toleransi belas kasihan menuju paradigma hak. Bangsa Indonesia harus meninggalkan konsep toleransi pasif yang berbasiskan tradisi semata menuju toleransi otentik dengan penekanan pada persamaan hak antara kelompok mayoritas dan minoritas.
Buku “Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi” ini merupakan sebuah ikhtiar untuk memberikan kontribusi bagi penataan masyarakat Indonesia yang multikultural, beradab, setara dan inklusif.

Pendekatan Reduksionis Terhadap Agama

Published by:

Apa tujuan yang diharapkan oleh buku ini, dengan fokus dan level pendekatan yang demikian, untuk para pembacanya? Tujuan umumnya adalah untuk memampukan pembaca agar bisa melihat relasi antara satu fenomen agama dengan pelbagai kenyataan sosial yang mengitarinya. Dengan
kata lain, ia diharapkan bisa membangun kesadaran teoretis (sosiologis) dalam diri pembaca dalam menyikapi sebuah fenomen agama.
Tujuan umum ini bisa dijelaskan lebih jauh sebagai berikut. Pertama, agar pembaca bisa mempelajari beberapa teori sosiologis yang berkaitan dengan analisis agama, dan menerapkannya dalam SOSA. Haruslah diingat bahwa SOSA itu cumalah satu ilmu terapan dari teori sosiologis
pada umumnya. Kedua, agar pembaca bisa menjadi lebih peka terhadap relasi antara yang sosial dan fenomen agama. Dan ketiga, agar pembaca bisa
membangun suatu sikap metodologis yang pas dalam hadapi satu fenomen agama.

Buku ini cuma membahas tiga perspektif dominan sebagai model. Mereka adalah perspektif Freud, Marx dan Durkheim akan didiskusikan sebagai model. Bagian III akan membahas bagaimana fenomen agama mempengaruhi kenyataan sosial lainnya. Misalnya, ia membahas apa peran agama dalam soal memaknai (e.g. pandangan Geertz dan Weber). BAGIAN IV: Tempat agama dalam dunia (post) modern. Di sini, ia bisa membahas tema seperti sekularisasi, Agama Sipil dan gejala pindah Agama. Akan tetapi, buku kecil cuma akan membicarakan bagian I dan II dari keseluruhan tema di atas. Ini akan ditutup dengan sebuah catatan singkat tentang pendekatan reduksionis mereka.

Manajer/Filsuf Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati

Published by:

Penulis                      : Reza A.A. Wattimena
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  150 x 230 mm
Jumlah halaman       : viii + 286hlm
ISBN                          : 978-602-1161-36-4

Manajemen, dalam arti tata kelola kerja sama antar manusia untuk mencapai satu tujuan tertentu, mungkin adalah salah satu temuan terpenting di dalam sejarah perkembangan manusia. Manajemen memungkinkan pengelolaan kerja sama antar beragam orang dengan kemampuan berbeda, guna mencapai satu tujuan yang telah disepakati. Dengan berpijak pada hal ini, manusia lalu bisa mempertahankan keberadaannya di bumi ini, walaupun diancam banyak binatang buas. Mereka juga bisa mewujudkan berbagai hal di dalam sejarahnya, mulai dari seni, budaya, filsafat, ilmu pengetahuan dan politik yang beradab.
Namun, manajemen tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari tindak berpikir manusia. Filsafat, sebagai cara berpikir rasional dan kritis untuk menjelaskan segala yang ada, memainkan peranan penting di sini. Secara harafiah, filsafat adalah pecinta kebijaksanaan. Para filsuf adalah orang yang mencari kebijaksanaan di dalam hidupnya dengan menggunakan akal budinya.
Pemahaman tentang filsafat pun berkembang menjadi penjelasan rasional, kritis dan sistematis atas segala yang ada. Filsafat menawarkan pandangan dunia yang menyeluruh untuk manusia. Filsafat juga menawarkan panduan hidup, supaya orang bisa mencapai kebahagiaan dan pencerahan. Di dalam sejarahnya, filsafat pun berkembang menjadi beragam cabang ilmu pengetahuan, sebagaimana kita kenal sekarang ini.
Manajemen sebagai ilmu adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan tersebut. Manajemen adalah tata kelola, sehingga beragam orang dengan beragam kemampuan dan motivasi bisa bekerja sama, guna mewujudkan satu tujuan tertentu. Tujuan tertentu bisa beragam pula, mulai dari sekedar berwisata keluar kota dengan segala persiapannya, sampai dengan mengelola organisasi internasional dengan ribuan tugas dan sumber daya. Manajemen tentu terus mengalami perkembangan, sejalan dengan perubahan jaman yang semakin kompleks sekarang ini.
Di dalam buku ini, saya akan berfokus pada manajemen bisnis. Walaupun begitu, beberapa bidang manajemen lainnya tentu akan dibahas, seperti yang dijelaskan oleh salah satu pemikir manajemen ternama, yakni Peter Drucker. Di dalam bisnis, tujuan utama dari manajemen adalah menata kerja sama dari beragam manusia dan sumber daya, guna mencapai keuntungan. Keuntungan ini menjadi nyawa bagi bisnis yang sedang berjalan. Namun, keuntungan ini tidak dapat dipersempit semata pada keuntungan ekonomi belaka, tetapi juga keuntungan bagi organisasi tersebut, sekaligus bagi masyarakat maupun alam yang ada di sekitarnya.
Dalam konteks ini, filsafat manajemen bisnis adalah refleksi adalah pengandaian-pengandaian di balik pola pikir dan praktik bisnis yang ada di masyarakat. Filsafat manajemen bisnis hendak melihat anggapan-anggapan yang tersembunyi di balik praktik bisnis. Semua anggapan itu dipertanyakan, diteliti lebih dalam, lalu disesuaikan dengan perubahan yang terus terjadi. Ini membuat semua praktik bisnis menjadi relevan dengan keadaan masyarakat.
Sampai Februari 2016, ini adalah buku pertama yang mengupas beragam hal terkait dengan filsafat manajemen bisnis. Buku ini tidak hanya mengupas etika bisnis, yakni diskusi kritis tentang baik dan buruk di dalam praktik bisnis, tetapi juga menyentuh inti dari praktik bisnis itu sendiri. Ia tidak hanya membahas beragam dimensi di dalam praktik manajemen bisnis, tetapi juga mengajukan arah untuk perkembangan bisnis dalam kaitannya dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Harapannya, buku ini bisa mengembangkan wacana ilmu manajemen sekaligus filsafat, terutama filsafat sosial, di Indonesia.
Buku ini penulis tujukan kepada peminat pengembangan ilmu manajemen maupun praktisi manajemen, khususnya manajemen organisasi bisnis. Buku ini juga ditujukan untuk para peminat filsafat, terutama filsafat sosial yang berupaya memahami dasar-dasar dari kehidupan bersama manusia.

Gereja mandiri, solider dan membebaskan Rencana Strategis Pastoral Keuskupan Sibolga 2016-2020

Published by:

Editor                         : Hubert Thomas Hasulie
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  160 x 240 mm
Jumlah halaman      : x + 304 hlm
ISBN                          : 978-602-1161-35-7

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam dua tahun pemerintahannya menunjukkan bahwa beliau sungguh peduli akan pendidikan, kesehatan dan pangan. Iapeduli kesejahteraan rakyat. Ia bekerja keras, jauh dari KKN. Bahkan beberapa bulan terakhir di paruh kedua tahun 2016, beliau langsung membagikan susu dan makanan bergizi bagi balita agar sehat dan pintarlah generasi mendatang.

Apa yang dicanangkan dan apa yang dikerjakan Sang Presiden, membuat warga Indonesia senang, bahagia. Mereka sungguh merasakan bahwa “oh… inilah Presiden yang telah menjalankan amanat penderitaan rakyat, ia sungguh menjalankan konstitusi Negara Republik Indonesia ini. Ia bukan hanya sebagai Presiden… roh seorang ‘Bapak’ nan peduli amat dialami”. Melalui kehadiran di tengah warga, melalui kerja nyata, orang menjadi yakin bahwa beliau sungguh Presiden dan Bapak.

Sinode II diadakan dengan tujuan untuk mengevaluasi seluruh dinamika karya pastoral dengan segala dimensinya dan rembuk bersama atas apa saja yang perlu dibenahi dan dikerjakan lagi pada masa lima tahun mendatang. Di dalam evaluasi kita tidak hanya melihat segala kekurangan, segala kegagalan dari apa yang kita kerjakan, tetapi juga melihat apa-apa saja yang sudah cukup berhasil kita kerjakan yang sekaligus membangkitkan harapan untuk melanjutkannya di masa mendatang. Kita tidak hanya melihat pengaruh-pengaruh entah posisif maupun negative dari dunia interen gerejani, tetapi juga segala pengaruh baik dan buruk dari dunia yang lebih luas. Dan sejalan dengan metodologi perjuangan yang kita anut, maka titik utama yang paling disorot adalah: apakah Kerajaan Allah terutama Pewartaan Yesus dan Pewartaan Gereja Universal makin dialami, makin berakar dan mekar di Keuskupan Sibolga?

Yesus sendiri mengatakan: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab ANTUK ITULAH Aku diutus” (Luk. 4:43). Dari evaluasi berjenjang yang dilakukan mulai dari basis, paroki dan tingkat keuskupan, Nampak bahwa apa yang kita kerjakan selama lima tahun silam, dengan segala warna-warninya, toh tidak jauh dari Kerajaan Allah. Data memperlihatkan bahwa animo kerja seluruh petugas pastoral yang selalu mengadakan pemberdayaan di tengah-tengah umat basis (lingkungan, stasi) makin tinggi. Maka saya boleh terjemahkan pengalaman ini sebagai Hati Umat Allah Keuskupan Sibolga yang berjuang secara konkrit menghadirkan HATI dan PERJUANGAN YESUS di tengah-tengah umat dan warga secara keseluruhan. Roh itu merasuk dan menguasai hati, pikiran, budi dan kehendak banyak orang untuk bekerja sesuai dengan Perjuangan Yesus yang kita terjemahkan melalui Visi dan Misi gereja lokal Keuskupan Sibolga.

Buku RSPKS Hasil Sinode II ini terdiri dari 3 bagian besar, diawali dengan Kerangka Dasar Pastoral Keuskupan Sibolga dan prolog yang menguraikan tentang metodologi kerja pastoral Keuskupan Sibolga. Bagian pertama menggambarkan Konteks Pastoral Keuskupan Sibolga mulai dari konteks historis global menuju konteks lokal. Kemudian paparan menukik pada hasil Evaluasi Pastoral 5 tahunan yakni berupa pencapaian dan kegagalan yang telah terjadi dalam kerja di lapangan selama lima tahun silam serta pembelajaran untuk meningkatkan mutu pastoral ke depan. Tantangan-tantangan pastoral yang diperoleh dari analisis sosial berjenjang mulai dari tingkat KBG, paroki dan keuskupan menjadi penutup bagian pertama ini. Bagian kedua berisi dokumentasi Refleksi Biblis yang dilakukan dalam Sinode II. Bagian ketiga berisi Tanggapan Pastoral, terdiri dari dua bagian: pertama, Matriks Program yang memuat masalah pokok yang ditetapkan oleh Sinode II, sebab-sebab kuncinya, tujuan jangka panjang (disertai indikator-indikator), sasaran jangka pendek (disertai indikator-indikator) serta kegiatan-kegiatan yang akan dikerjakan selama lima tahun mendatang demi meraih tujuan dan sasaran yang ada. Kedua, Matriks Kegiatan yang merupakan rincian kegiatan-kegiatan pokok yang mesti dijalankan selama lima tahun mendatang. Rincian tersebut mencakup kelompok sasaran, penanggungjawab, tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rentang lima tahun mendatang. Semoga buku ini dapat menjadi pegangan di tangan untuk mengimplementasikan dan menterjemahkan secara lebih konkrit lagi di tengah umat basis jawaban atau tanggapan pastoral kontekstual sesuai dengan visi dan Misi Keuskupan Sibolga.

Bahasa Indonesia Identitas Kita

Published by:

Penulis                       : Yohanes Orong
Cetakan 1                   : Januari 2017
ISBN                           : 978-602-1161-34-0
Penerbit                     : Penerbit Ledalero
Cet. 1                           :Januari 2017
Jumlah halaman      : x + 198 hlm,
Ukuran:                      : 155 x 225 mm

Sesuai judul, corak utama buku ini ialah pedoman bagi siapasaja yang ingin mahir berbahasa Indonesia dan menjadikannya identitas diri. Lahirnya judul, berikut artikel-artikel di dalam buku ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa sejak era Reformasi 1998, sebagaimana diulas Kompas, 29 Oktober 2016, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara makin terabaikan.
Selain karena penggunaan bahasa asing yang terus-menerus merebak ruang publik, perabaikannya bahasa Indonesia, terutama dalam lingkup akademik, disebabkan oleh (beberapa di antaranya) tidak perdulinya pengguna bahasa Indonesia terhadap tuntutan gramatikal agar bahasa digunakan secara baik dan benar, minimnya pengetahuan kompetensi dasar bahasa Indonesia dari penggunapenggunannya, dan hilangnya rasa bangga orang Indonesia terhadap bahasa Indonesia.
Di bawah judul “Menduakan Bahasa Sendiri”, Gufran A. Ibrahim (Kompas, 29 Oktober 2016) dengan amat bangga menyebut bahasa Indonesia sebagai “anugerah bahasa” luar biasa bagi bangsa. Menurut Gufran Ibrahim ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bukan sekadar peristiwa linguistik, suatu peristiwa di mana sekelompok orang bersepakat menggunakan bahasa bersama. Para pemuda yang melantangkan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 silam “menyiapkan titik berangkat yang memandu penghormatan atas kebhinekaan, dengan meletakkan “bahasa kami”, bahasa daerah, yang ratusan jumlahnya itu ke dalam kerangka “bahasa kita”, bahasa Indonesia, sebagai titik-jumpanya.” Pilihan ini, lanjut Gufran adalah ikhtiar profetik yang tidak saja mengkhidmati kitaran historis saat itu, tetapi juga terbukti di kemudian hari merupakan upaya perenial yang melampaui zamannya. Bukti nyata dari upaya profetik-profetik itu adalah, kini, Indonesia yang berjumpa, bercakap, memajukan diri, dan terus mengelola kebinekaan dengan menggunakan satu bahasa kita: bahasa Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak lagi terbilang muda, sejak peristiwa Sumpah Pemuda 1928 bahasa Indonesia telah mengalami pencanggihan gramatika yang luar biasa melalui kuasa semantic (semantic power) pemakainya.
Diakui Gufran “Ilmuwan dan kaum cendikia telah membikin bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu melalui reka-cipta kosakata dan pencanggihan wacana ilmiah. Di tangan pakar dan cendikia, bahasa Indonesia menjadi penghela ilmu. Teknokrat, negarawan, dan politisi telah membawa bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi dalam menumbuhkan demokrasi. Sastrawan telah dengan hebatnya mengkreasi, mengeksplorasi, menawarkan cara “pengucapan” baru yang tidak saja semakin memperkaya kosakata, tetapi juga tak hentinya menyodorkan keluhungan gaya dan laras estetiknya. Wartawan dengan gaya pewartaannya, tidak saja memberi kabar pada khalayak, tidak saja menggunakan kata dan kalimat, tetapi lebih dari itu telah menemukan kata-kata baru, menemukan laras baru dan semakin baru dalam kecanggihan pewartaannya. Wartawan telah menghidupkan kata-kata yang nyaris “mati” dalam lembaran kamus, mengeksplorasi kata-kata baru, bahkan membikin idioma-idioma baru yang sebelumnya tak terbayangkan dalam kesederhanaan bahasa Indonesia. Dengan amat sengaja sebagian artikel Gufran A. Ibrahim tersebut di atas dikutip utuh agar imbauannya untuk tidak menduakan bahasa
sendiri mendapatkan gambaran memadai dan pembaca berikhtiar untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia. Secara khusus kaum akademisi dalam setiap lingkungan perguruan tinggi menjadi pihak paling pertama dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam rangka itu melampaui sekadar soal tatabahasa, bidang bahasa Indonesia bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi, sebagaimana dikatakan Gorys Keraf (Keraf: 2004) lebih merupakan sebuah mata kuliah kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa bagi dosen dan mahasiswa dapat dilihat sebagai “conditio sine qua non” (syarat mutlak) bagi upaya mempelajari ilmu pengetahuan.
Atas dasar itu, maka orientasi pelajaran bahasa Indonesia di dalam buku ini terarah pada pencapaian kompetensi-kompetensi dasar berikut. Pertama, pencapaian kemahiran berbahasa (Indonesia), baik lisan, maupun tulis. Konstruksi bahasa lisan sedikit banyak tentu berbeda dengan bahasa tulis. Orang tidak harus dituntut untuk berbicara secara teratur dan sistematis; sebagaimana biasanya terdapat dalam bahasa tulisan. Namun, kemahiran berbahasa secara
lisan sebenarnya setali tiga uang dengan hal yang mesti dimiliki oleh seseorang pada saat dia menulis. Kedua, jika kemahiran berbahasa telah tercapai, dosen dan mahasiswa pada akhirnya mesti mempelajari bahasa sebagai sebuah bidang kajian filsafat, yakni sebuah bidang yang secara umum dikenal sebagai ilmu kebahasaan atau Linguistik. Atas dasar itu, mata kuliah ini dapat merupakan sedikit pengenalan awal akan ilmu kebahasaan. Ketiga, ketika pertentangan antara mayoritas dan minoritas tidak bisa disembunyikan, bahasa Indonesia akan senantiasa menjadi identitas bersama yang keberadaannya melampaui kategori pemisah apa pun. Atas dasar itu, nilai persatuan, sebagaimana termaktup dalam judul buku ini, yaitu “Bahasa Indonesia Identitas Kita” hendaknya menjadi warna dasar perjalanan bangsa Indonesia.

Sejarah Keuskupan Larantuka

Published by:

Penulis           : Eduard Jebarus, Pr

Penerbit         : Ledalero
Cetakan 1       : Agustus 2017
ISBN               : 978-602-1161-41-8
Ukuran           : 170mm  x 240 mm
Jumlah hlm. : xxvi + 494 hlm

Penulisan Sejarah Keuskupan Larantuka merupakan sebuah upaya penting dan berharga, yang patut diapresiasi dan disyukuri. Ada banyak peristiwa dan kejadian, termasuk orang-orang, yang telah membentuk sejarah itu. Sayang kalau semua itu dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa dicatat atau dibukukan.

Buku Sejarah Keuskupan ini dimaksudkan agar kita boleh mengenal dan mencintai Keuskupan Larantuka, serta belajar dari sejarah itu, sebab sejarah membawa banyak pesan berharga bagi manusia dari generasi ke generasi. Semoga generasi muda semakin mengenal sejarah keuskupannya, mencintai dan mengambil hikmahnya.
Sebagai sebuah buku sejarah buku ini ditujukan terutama untuk lingkup sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Untuk itu, penulis menggunakan banyak judul bawahan, serta “butir” dan “angka” (istilah komputer, bullets dan numbering). Mudah-mudahan dengan cara ini pembaca dibantu untuk menyoroti tema-tema tertentu, menangkap urutannya dan mudah untuk mengungkapkannya kembali. Gaya penulisan Eduardus Jebarus yang khas ini, diharapkan bisa membantu para pembaca umum mengetahui perjalanan sejarah Keuskupan Larantuka.
Pada bagian awal buku ini, berisikan “Ikhtisar Kronologis” dengan maksud agar para pembaca mempunyai gambaran singkat-menyeluruh mengenai sejarah Keuskupan Larantuka sampai dengan tahun 2015.
Di dalam Bab 1, penulis membuka pembicaraan dengan mengisahkan “Jejak Kekatolikan di Sumatera” dengan maksud menempatkan sejarah Keuskupan Larantuka dalam konteks sejarah Gereja Katolik di Indonesia sejak abad ke-7. Di dalam bab ini juga dibicarakan tentang “Tuan Ma” sebagai peristiwa iman khas Larantuka sebelum misionaris Portugis berkarya di wilayah ini.
Periodisasi atau pembabakan selanjutnya sebenarnya diangkat dari “bahasa sehari-sehari”, yakni dari kejadian-kejadian dalam sejarah Keuskupan Larantuka, yang terdiri atas tiga periode misi (Dominikan, Yesuit, dan SVD) dan empat periode masa tugas empat uskup di Larantuka (Mgr. Gabriel Manek, SVD, Mgr. Antonius Thijssen, SVD, Mgr. Darius Nggawa, SVD, dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr). Pembabakan besar seperti ini bisa saja mengandung “penyimpangan” misalnya, karya dua imam projo selama empat tahun (1860 – 1863) pada awal Misi Larantuka dimasukkan ke dalam periode Misi Yesuit (Bab 3). Untuk mengedepankan kekhususan dua imam projo itu, dalam buku ini disajikan satu topik tersendiri perihal mereka sebelum berbicara tentang karya para misionaris Yesuit. Selanjutnya, penulis memberi isi yang lebih luas pada masing-masing periode yang diperoleh dengan menelusuri dan menjelajahi berbagai buku, majalah, manuskrip, dokumen dan arsip serta bertanya pada banyak nara sumber. Buku ini patut dibaca oleh semua orang dalam semua lapisan masyarakat teristimewa umat keuskupan Larantuka.

DIPANGGIL UNTUK KEMERDEKAAN

Published by:

DIPANGGIL UNTUK KEMERDEKAAN sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja apalagi wajah bukunya mengundang orang tertarik untuk mau membacanya. Isi buku ini sangat penting dan bermanfaat bagi setiap warga gereja dan pemimpin gerejagereja bahwa perubahan pola pikir, pola tindak, pola layanan merupakan tuntutan perkembangan pada masa sekarang dan masa yang akan datang.Buku kecil ini sebenarnya sangat kaya dengan tema-tema yang relevan dengan gereja masa kini.
Gereja dan para pelayannya mesti ingat bahwa menjadi gereja dan menjadi pelayan gereja berarti terpanggil untuk menghidupi komitmen yang radikal. Menjadi gereja dan pelayan gereja berarti tidak hidup bagi diri sendiri. Gereja
dan para pelayan gereja adalah komunitas dan individu yang Allah panggi untuk memberikan diri bagi kebaikan dunia.
Gereja sebagai persekutuan tidak boleh melayani dirinya sendiri. Para pendeta tidak boleh menggunakan kekuasaan pelayanan gereja untuk kepentingan mereka. Seluruh fasilitas dan potensi yang ada dalam diri gereja sebagai persekutuan dan dalam diri para pendeta sebagai individu mestinya diarahkan bagi keselamatan dunia dan manusia, di mana gereja dan pendeta melayani.

DEMOKRASI MINUS DISKURSUS

Published by:

Penulis                  : Silvianus M. Mongko
Penerbit                : Ledalero
Tahun Terbit        : Oktober 2016
ISBN                      : 978-602-1161-28-9
Ukuran Buku        : 140mm X 210 mm
Ketebalan Buku   : 246 halaman
Harga                    : –

“Demokrasi  Minus   Diskursus”.  Demikian   judul buku  kecil  ini.  Sebuah judul yang mungkin tidak terlalu ‘menohok’, tapi serentak mengundang diskusi. Sejak awal, saya merasa perlu mengingatkan Anda, supaya jangan terlalu ‘membuang’ waktu  untuk   membayangkan ‘kerennya’  isi  buku  ini. Syukurlah kalau Anda tidak  sampai mengerutkan dahi! Saya tak  mau  Anda akhirnya ‘menyesal’  karena setelah membaca buku ini, Anda mungkin tidak mendapatkan apa- apa sebagaimana Anda harapkan. Sebab, apa yang tersaji di sini lebih sebagai ungkapan kekecewaan, letupan emosi, umpatan, rasa sesal, sinisme, cercaan, celotehan, dan di atas segalanya ialah hembusan spirit keprihatinan penulis ketika menyaksikan bagaimana dunia, sejarah, dan peradaban kita terjungkal ke titik nadir. Mungkin Anda menganggap saya berlebihan! Tapi memang begitulah kenyataannya, jika kita ingin melihat dan mengungkapkan secara jujur panorama sosial di sekitar kita. Kita sedang berziarah pada sebuah lintasan sejarah yang kian mencemaskan!

Abad yang mencemaskan ini ditandai oleh kemiskinan dan  ‘ketersesatan’  berpikir, kelalaian untuk  memikirkan lebih serius tentang masa depan sejarah dan peradaban kita, bahkan sikap ‘malas  tahu’  terhadap ketidakadilan situasi sosial, ekonomi,  politik,  hukum,  budaya,  yang  sedang menggilas dan mengjungkirbalikkan sisi-sisi kehidupan kita. Kita sedang apatis dengan apa yang datang, atau yang sengaja diciptakan oleh perlakuan kekuasaan, yang membahayakan masa depan sejarah dan  perabadan kita sendiri. Karena kita, saya, Anda, dan institusi-institusi yang mengitari kita (sosial, politik, hukum,  agama, budaya, dan pendidikan) tidak serius memikirkan, mendiskusikan, menemukan solusi serta berkomitmen pada panggilan masing-masing, maka kita menganggap sejarah degradasi moral yang ‘mencincang’ kemanusiaan dan  peradaban bangsa sebagai pengalaman biasa  (banal).  Sikap  ‘remeh-temeh’  untuk   memikirkan masa depan sosialitas dalam ‘kerangkeng’ politik kekuasaan ini dapat dijadikan definisi sederhana dari apa yang saya maksudkan dengan “Demokrasi Minus Diskursus’.

“Demokrasi    Minus     Diskursus”    berbicara    soal ‘ketidakseriusan’ kekuasaan untuk mengurus negara, mulai dari  kebablasan basis konseptual (kesadaran epistemis), ‘kegagapan’ etika, dan ‘ketersesatan’ praksis politik. Pada titik  ini,  demokrasi ‘berkontribusi’  melahirkan paradoks dan ironi kehidupan bersama. Untuk itu, apa yang tertuang di sini lebih banyak manarasikan bagaimana para pelaku kekuasaan, atas  nama  demokrasi, justru  lebih  banyak bertindak sebagai ‘parasit’  demokrasi itu  sendiri. Mereka memanfaatkan ‘kemurahan’  demokrasi untuk  kemudian mengeruk keuntungan  bagi  diri  sendiri dan  kelompok oligarkis.

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Published by:

Penulis               : Yohanes Orong

Penerbit             : Ledalero

Tahun Terbit     : September 2016

ISBN                   : 978-602-1161-26-5

Ukuran               : 150 mm x 225 mm

Ketebalan           : 144 halaman

Harga                  : Rp. 45.000

Oprah Winfrey di dalam buku “Words That Matter” berkata “Tidak ada penemuan yang tidak berisiko – dan risiko yang Anda ambil mengungkapkan apa yang Anda nilai berharga.”

Risiko paling pertama ketika Anda membaca buku ini boleh jadi ialah perkara metodologis yang bersifat kaku dan cendrung menuntut. Namun, justru setelah Anda mampu menghadapinya, Anda telah menetapkan sebuah pilihan berharga.

Buku ini berharga sebab mengandung panduan pokok menguasai klaim  ilmiah  akademik,  pembuatan  kutipan,  isu orisinalitas dan  plagiarisme, penulisan referensi, penulisan bibliografi, unsur-unsur  penting  karya ilmiah,  dan  tata  cara penulisan skripsi dan tesis. Setidaknya ketika banyak orang terjebak pada kebebasan dangkal dengan tidak lagi peduli terhadap hal-hal yang bersifat menuntun atau memandu, buku ini justru memaksa pembaca untuk melawan kedangkalan.

MGR. PETRUS NOYEN, SVD – Perintis Misi SVD di Indonesia

Published by:

Pengarang : Alex Beding
Penerbit : Ledalero
ISBN : 978-602-1161-25-8
Terbit : Agustus 2016
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Jumlah hlm. : 140 halaman
Harga : Rp. 40.000

Kisah para Rasul bab 2 ayat 9-11, adalah sebenarnya pembukaan kisah awal sejarah penyebaran Kabar Gembira Yesus Kristus untuk seluruh jagat. Bukan kebetulan peristiwa Pentekosta yang menggemparkan itu langsung disaksikan dan  didengar sendiri oleh sejumlah besar bangsa-bangsa Asia, orang-orang  dari Roma dan Afrika utara… yang hadir di Yerusalem. Mereka memberi kesaksian: “kami mendengar mereka (Rasul-rasul) berbicara dalam bahasa kita tentang perbuatan-perbuatan ajaib  yang  dilakukan  Allah”. Dan mereka semua yang menjadi saksi mata itu telah menjadi misionaris-misionaris pertama.  Mereka  telah  membuka jaringan penyebaran dengan menceriterakan peristiwa Pentekosta itu ke mana- mana hingga ke Asia Timur. Selama 20  abad  kemudian  setelah mendengar  pewartaan para misionaris kepada semua bangsa di seluruh dunia, orang- orang boleh mengulangi kata-kata yang sama di atas: … “kami mendengar mereka (misionaris-misionaris berbicara dalam bahasa kami tentang perbuatan- perbuatan ajaib yang dilakukan  Allah!” Itulah keajaiban Misi Yesus.

Semangat penyebaran Kabar Baik ini telah memberi inspirasi kepada imam Arnoldus Janssen untuk mendirikan Serikat Sabda Allah pada 1875  di Steyl, Belanda untuk menyediakan pasukan-pasukan misionaris yang akan diutus ke seluruh dunia. Sebelum akhir abad 19 dia sudah mulai mengirim  anggota- anggotanya pertama  ke  Cina.  Dan Cina  terus menarik minat.  Buku kecil ini  memberikan satu gambaran tentang salah seorang yang sejak kecil sudah menaruh hati untuk pergi ke Cina membawa Kabar Gembira Yesus  Kristus, ialah Petrus Noyen, misionaris dari Serikat Sabda Allah.

Dalam sketsa singkat ini kita coba mengenal P. Noyen sebagai seorang  yang  berpengalaman  dan  mempunyai bakat sebagai organisator yang pandai berintegrasi dengan orang-orang di sekitarnya dan merancang suatu karya besar untuk  membuat  orang-orang itu  bahagia dan  sejahtera sesuai dengan ajaran Injil. Dengan mengelola pendidikan di sekolah-sekolah Katolik P. Noyen meletakkan dasar untuk karya Misi yakni membangun manusia bermutu dan beriman yang utuh, beradab dan bermartabat “yang mengasihi Allah di atas segala-galanya,  dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.”

Didorong oleh cinta akan tugas missioner dan semangat berkorban Mgr.  Noyen  telah menjadi teladan yang mengobarkan hati banyak pemuda dan pemudi untuk menjadi  misionaris  dalam  serikat-serikat religius  yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen yang hingga saat ini bekerja di Indonesia. Dan jika pada tahun 2013 para putera-puteri Santo Arnoldus Janssen memperingati masa bakti selama seratus tahun di Indonesia, maka sudah pada tempatnya kita semua bergabung dalam madah syukur dan pujian kepada Allah yang telah memberkati dengan limpah karya pelayanan yang tulus dalam kebun anggur- Nya di Indonesia yang dirintis oleh Mgr. Petrus Noyen SVD. Sudah puluhan tahun bangsa yang mendiami kepulauan yang indah ini telah mendengar misionaris-misionaris berbicara dalam bahasa mereka tentang perbuatan-perbuatan  ajaib Allah!

You might also likeclose