Bahasa Indonesia Identitas Kita

Penulis                       : Yohanes Orong
Cetakan 1                   : Januari 2017
ISBN                           : 978-602-1161-34-0
Penerbit                     : Penerbit Ledalero
Cet. 1                           :Januari 2017
Jumlah halaman      : x + 198 hlm,
Ukuran:                      : 155 x 225 mm

Sesuai judul, corak utama buku ini ialah pedoman bagi siapasaja yang ingin mahir berbahasa Indonesia dan menjadikannya identitas diri. Lahirnya judul, berikut artikel-artikel di dalam buku ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa sejak era Reformasi 1998, sebagaimana diulas Kompas, 29 Oktober 2016, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara makin terabaikan.
Selain karena penggunaan bahasa asing yang terus-menerus merebak ruang publik, perabaikannya bahasa Indonesia, terutama dalam lingkup akademik, disebabkan oleh (beberapa di antaranya) tidak perdulinya pengguna bahasa Indonesia terhadap tuntutan gramatikal agar bahasa digunakan secara baik dan benar, minimnya pengetahuan kompetensi dasar bahasa Indonesia dari penggunapenggunannya, dan hilangnya rasa bangga orang Indonesia terhadap bahasa Indonesia.
Di bawah judul “Menduakan Bahasa Sendiri”, Gufran A. Ibrahim (Kompas, 29 Oktober 2016) dengan amat bangga menyebut bahasa Indonesia sebagai “anugerah bahasa” luar biasa bagi bangsa. Menurut Gufran Ibrahim ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bukan sekadar peristiwa linguistik, suatu peristiwa di mana sekelompok orang bersepakat menggunakan bahasa bersama. Para pemuda yang melantangkan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 silam “menyiapkan titik berangkat yang memandu penghormatan atas kebhinekaan, dengan meletakkan “bahasa kami”, bahasa daerah, yang ratusan jumlahnya itu ke dalam kerangka “bahasa kita”, bahasa Indonesia, sebagai titik-jumpanya.” Pilihan ini, lanjut Gufran adalah ikhtiar profetik yang tidak saja mengkhidmati kitaran historis saat itu, tetapi juga terbukti di kemudian hari merupakan upaya perenial yang melampaui zamannya. Bukti nyata dari upaya profetik-profetik itu adalah, kini, Indonesia yang berjumpa, bercakap, memajukan diri, dan terus mengelola kebinekaan dengan menggunakan satu bahasa kita: bahasa Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak lagi terbilang muda, sejak peristiwa Sumpah Pemuda 1928 bahasa Indonesia telah mengalami pencanggihan gramatika yang luar biasa melalui kuasa semantic (semantic power) pemakainya.
Diakui Gufran “Ilmuwan dan kaum cendikia telah membikin bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu melalui reka-cipta kosakata dan pencanggihan wacana ilmiah. Di tangan pakar dan cendikia, bahasa Indonesia menjadi penghela ilmu. Teknokrat, negarawan, dan politisi telah membawa bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi dalam menumbuhkan demokrasi. Sastrawan telah dengan hebatnya mengkreasi, mengeksplorasi, menawarkan cara “pengucapan” baru yang tidak saja semakin memperkaya kosakata, tetapi juga tak hentinya menyodorkan keluhungan gaya dan laras estetiknya. Wartawan dengan gaya pewartaannya, tidak saja memberi kabar pada khalayak, tidak saja menggunakan kata dan kalimat, tetapi lebih dari itu telah menemukan kata-kata baru, menemukan laras baru dan semakin baru dalam kecanggihan pewartaannya. Wartawan telah menghidupkan kata-kata yang nyaris “mati” dalam lembaran kamus, mengeksplorasi kata-kata baru, bahkan membikin idioma-idioma baru yang sebelumnya tak terbayangkan dalam kesederhanaan bahasa Indonesia. Dengan amat sengaja sebagian artikel Gufran A. Ibrahim tersebut di atas dikutip utuh agar imbauannya untuk tidak menduakan bahasa
sendiri mendapatkan gambaran memadai dan pembaca berikhtiar untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia. Secara khusus kaum akademisi dalam setiap lingkungan perguruan tinggi menjadi pihak paling pertama dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam rangka itu melampaui sekadar soal tatabahasa, bidang bahasa Indonesia bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi, sebagaimana dikatakan Gorys Keraf (Keraf: 2004) lebih merupakan sebuah mata kuliah kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa bagi dosen dan mahasiswa dapat dilihat sebagai “conditio sine qua non” (syarat mutlak) bagi upaya mempelajari ilmu pengetahuan.
Atas dasar itu, maka orientasi pelajaran bahasa Indonesia di dalam buku ini terarah pada pencapaian kompetensi-kompetensi dasar berikut. Pertama, pencapaian kemahiran berbahasa (Indonesia), baik lisan, maupun tulis. Konstruksi bahasa lisan sedikit banyak tentu berbeda dengan bahasa tulis. Orang tidak harus dituntut untuk berbicara secara teratur dan sistematis; sebagaimana biasanya terdapat dalam bahasa tulisan. Namun, kemahiran berbahasa secara
lisan sebenarnya setali tiga uang dengan hal yang mesti dimiliki oleh seseorang pada saat dia menulis. Kedua, jika kemahiran berbahasa telah tercapai, dosen dan mahasiswa pada akhirnya mesti mempelajari bahasa sebagai sebuah bidang kajian filsafat, yakni sebuah bidang yang secara umum dikenal sebagai ilmu kebahasaan atau Linguistik. Atas dasar itu, mata kuliah ini dapat merupakan sedikit pengenalan awal akan ilmu kebahasaan. Ketiga, ketika pertentangan antara mayoritas dan minoritas tidak bisa disembunyikan, bahasa Indonesia akan senantiasa menjadi identitas bersama yang keberadaannya melampaui kategori pemisah apa pun. Atas dasar itu, nilai persatuan, sebagaimana termaktup dalam judul buku ini, yaitu “Bahasa Indonesia Identitas Kita” hendaknya menjadi warna dasar perjalanan bangsa Indonesia.

You might also likeclose