Category Archives: Agama

Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi

Published by:

Penulis: Otto Gusti Madung
Tahun Terbit: 2016,
Jumlah Halaman: 198 hlm.
Ukuran: 150 x 230 mm
Penerbit: Ledalero
ISBN: 978-602-1161-30-2
Harga: Rp.60.000
————————

Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi oleh setiap masyarakat multikultural ialah relasi timpang antara kelompok mayoritas dan minoritas. Di Indonesia, akibat dari relasi timpang ini sering diderita oleh kelompok-kelompok minoritas penganut kepercayaan. Penganut Sapto Darmo di Berebes, Jawa Tengah misalnya kesulitan memakamkan keluarganya di pemakaman umum karena kolom agamanya di KTP kosong. Demikianpun perkawinan penganut kepercayaan Marapu di Sumba, Nusa Tenggara Timur, tidak dicatat negara. Akibatnya anak-anaknya tak memiliki akta kelahiran. Bahkan anak- anak Sunda Wiwitan sering harus berbohong soal identitas agamanya agar dapat bersekolah.
Praktik-praktik toleransi yang berbasis pada relasi timpang tidak mengakui prinsip kesetaraan dan hak asasi setiap warga negara untuk diperlakukan secara sama. Toleransi adalah hadiah yang diberikan oleh kelomopok mayoritas kepada kelompok minoritas. Model toleransi seperti ini sangat rapuh dan mudah sekali diprovokasi lewat isu-isu sektarian. Dalam kasus kerusuhan Tanjung Balai, Tolikara dan di tempat-tempat lain di tanah air, kita dapat menyaksikan bagaimana warga begitu gampang meninggalkan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan tradisi toleransi yang sudah diwariskan cukup lama hanya karena hasutan di media sosial. Sesama warga tak segan-segan dihabisi hanya karena berbeda agama dan kayakinan.Satu bukti bahwa toleransi belum tampil sebagai kebajikan politik demokrasi yang harus diperjuangkan. Toleransi dipandang sebagai sikap terpaksa membiarkan yang lain hidup lantaran factum pluralitas.
Kualitas demokrasi di Indonesia yang plural sangat ditentukan oleh kualitas kebajikan toleransi yang berpijak pada prinsip hak, kebebasan dan kesetaraan. Karena itu sudah saatnya untuk beralih dari model toleransi belas kasihan menuju paradigma hak. Bangsa Indonesia harus meninggalkan konsep toleransi pasif yang berbasiskan tradisi semata menuju toleransi otentik dengan penekanan pada persamaan hak antara kelompok mayoritas dan minoritas.
Buku “Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi” ini merupakan sebuah ikhtiar untuk memberikan kontribusi bagi penataan masyarakat Indonesia yang multikultural, beradab, setara dan inklusif.

Pendekatan Reduksionis Terhadap Agama

Published by:

Apa tujuan yang diharapkan oleh buku ini, dengan fokus dan level pendekatan yang demikian, untuk para pembacanya? Tujuan umumnya adalah untuk memampukan pembaca agar bisa melihat relasi antara satu fenomen agama dengan pelbagai kenyataan sosial yang mengitarinya. Dengan
kata lain, ia diharapkan bisa membangun kesadaran teoretis (sosiologis) dalam diri pembaca dalam menyikapi sebuah fenomen agama.
Tujuan umum ini bisa dijelaskan lebih jauh sebagai berikut. Pertama, agar pembaca bisa mempelajari beberapa teori sosiologis yang berkaitan dengan analisis agama, dan menerapkannya dalam SOSA. Haruslah diingat bahwa SOSA itu cumalah satu ilmu terapan dari teori sosiologis
pada umumnya. Kedua, agar pembaca bisa menjadi lebih peka terhadap relasi antara yang sosial dan fenomen agama. Dan ketiga, agar pembaca bisa
membangun suatu sikap metodologis yang pas dalam hadapi satu fenomen agama.

Buku ini cuma membahas tiga perspektif dominan sebagai model. Mereka adalah perspektif Freud, Marx dan Durkheim akan didiskusikan sebagai model. Bagian III akan membahas bagaimana fenomen agama mempengaruhi kenyataan sosial lainnya. Misalnya, ia membahas apa peran agama dalam soal memaknai (e.g. pandangan Geertz dan Weber). BAGIAN IV: Tempat agama dalam dunia (post) modern. Di sini, ia bisa membahas tema seperti sekularisasi, Agama Sipil dan gejala pindah Agama. Akan tetapi, buku kecil cuma akan membicarakan bagian I dan II dari keseluruhan tema di atas. Ini akan ditutup dengan sebuah catatan singkat tentang pendekatan reduksionis mereka.

Ilmu Perbandingan Agama

Published by:

ilmu-perbandingan-agama-2-previewPenulis : Dr. Philipus Tule
Cetakan 1 : September 2016
Terbitan :Penerbit Ledalero
Ketebalan : viii + 146 hlm
Ukuran Buku : 140 x 210 mm
Harga : Rp. 45.000
Bagi sebagian besar individu dan umat, agama itu diterima dari orangtua atau pun nenek moyang sebagai warisan, tanpa kesadaran dan kebebasan untuk memilihnya. Bagi sebagian lain, khususnya di kalangan masyarakat modern, agama dibiarkan untuk dipilih dan dianut secara bebas oleh setiap individu yang dewasa. Oleh karena itu, setiap individu dibiarkan hingga masa dewasa untuk memilih agama yang tepat sesuai pilihan dan keputusan pribadi yang bebas. Terlepas dari dampak positif dan negatif tindakan individu memilih sebuah agama, kenyataan membuktikan bahwa dewasa ini penghayatan serta masalah agama sangat banyak dialami dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam surat kabar, radio dan televisi, dalam konperensi, musyarawarah dan seminar. Ketiga hal berikut dapat diidentifikasi sebagai sebab agama mendominasi kehidupan manusia dewasa ini.
1) Sebab yang azasi adalah bahwa agama itu bukanlah perkara sederhana, tapi merupakan dasar hidup manusia dan masyarakat seutuhnya. Agama itu mencakupi semua hal ikhwal kehidupan manusia: sikap dan pandangan hidup tentang ‘Yang Ilahi’ dan ‘yang duniawi’. Dalam agama segala dasar kehidupan manusia yang pribadi dan sosial terpadu menjadi satu.
2) Sebab yang khusus adalah bahwa dunia umumnya dan bangsa Indonesia khususnya semakin sering menyaksikan dan mengalami kegoncangan dan tantangan terhadap kehidupan bermasyarakat yang aman, sejahtera, damai, sentosa, rukun dan harmonis sebagai akibat dari pemahaman dan penghayatan agama yang keliru.
3) Sebab yang lain adalah bahwa ada pandangan atau paham ekstrim dari segelintir penganut agama dan anggota kelompok etnis tertentu yang semakin mewarnai dunia dewasa ini. Benturan dan bahkan konflik antaragama dan antarbudaya semakin menggejala sebagaimana nampak dalam: – cara hidup lama yang berhadapan dengan cara hidup baru; – cara pandang agama berhadapan dengan cara pandang adat / kebudayaan ; – cara hidup feodal berhadapan dengan cara hidup demokratis; – cara hidup masyarakat yang eksklusif dengan yang inklusif; – cara pandang etnocentris (ke-Jawaan, ke-Floresan, ke- Katolikan, ke-Islaman, ke-Hinduan, dll) berhadapan dengan cara pandang pluralis yang menjunjung tinggi kemajemukan yang harmonis.
Searah dengan tendensi dunia yang mulai menggugat isolasi dan kefanatikan dalam agama, etnisitas dan kebudayaan untuk mengusahakan pembaruan, kita pun mempelajari Ilmu Perbandingan Agama (sejarah nama dan perkembangannya) demi tujuan formasi, transformasi ataupun reformasi (revolusi) sikap iman. Karena seperti pepatah Inggeris mengatakan: “Revolution rejects yesterday and builds up tomorrow”

EVANGELISASI Gereja yang Bergerak Keluar

Published by:

EVANGELISASI GEREJA YG BERGERAK KELUARPenulis : Chirstian Tauchner (Ed.)
Harga : Rp. 50.000
Tebal : viii + 240 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-09-8
Juli 2015

Cara pandang dialog menyeruak di tengah-tengah diskusi Konsili Vatikan II bersama Ensiklik Ecclesiam Suam Paulus VI yang diterbitkan pada Agustus 1964, sekitar 50 tahun lampau. Ensiklik ini menjadi sangat berpengaruh pada teks-teks utama Konsili itu semisal Gaudium et Spes serta berbagai refleksi pada tahun-tahun selanjutnya. Buku EVANGELISASI Gereja yang Bergerak Keluar menunjukkan fakta bahwa tidak ada lagi dikotomi di antara hakikat misioner setiap Gereja dan tugasnya memberitakan Injil melalui cara-cara yang menuntut dialog dengan, pengetahuan tentang dan empati terhadap konteks-konteks konkret di mana manusia hidup, serta keterampilan komunikasi antarbudaya. Sebuah Gereja misioner bisa menggantang keuntungan dari pengalaman tradisional para misionaris “lintas budaya”, karena persis itulah situasi di mana kini hampir setiap Gereja berada. Apa yang dulu dianggap sebagai panggilan bagi beberapa kalangan guna berkarya di tempat-tempat eksotis kini memiliki relevansi untuk semua palayan di dalam semua Gereja. Kita benar-benar berada dalam “era baru”, “fase baru” misi atau evangelisasi. Kebutuhan akan keyakinan dan semangat baru, metode dan ungkapan baru tentu merupakan wawasan yang diwariskan evangelisasi baru kepada kita, tetapi fokus evangelisasi tampaknya telah beralih agar dapat menjangkau pelayanan dari sebuah Gereja yang seluruhnya misioner milik para murid yang diutus. Tugas kita semua ialah untuk merenungkan dan mengembangkan cara-cara berkomunikasi bagaimana Gereja misioner dewasa ini, melalui praktik dialog profetis, dapat ambil bagian dalam misi Allah di tengah dunia kita yang lantak namun dirahmati ini.

Orang-Orang Katolik di Indonesia Jilid 1 & 2

Published by:

 

Orang-Orang Katolik 1- depan Pengarang : Prof. Dr. Karel Steenbrink
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : 1016 halaman
Harga : Rp 165.000,-

Karya Karel Steenbrink ini, merupakan sebuah buku yang unik dan penting, bukan hanya dari segi pendekatan dan metodologi, tetapi juga dari segi substansi. Dengan rinci, penulis mengungkapkan dinamika pertumbuhan orang-orang dan masyarakat Katolik Indonesia; tidak hanya melihat dinamika internal orang-orang Katolik Indonesia, tetapi juga dalam kaitan dengan persaingan dan rivalitas dengan Protestan dan Islam. Buku ini tentu akan menjadi salah satu sumber standar mengenai sejarah Gereja Katolik dalam relasinya dengan Gereja Protestan dan Agama Islam.

Karangan PrOrang - Orang Katolik Jilid 2 - depanof. Dr. Karel Steenbrink ini merupakan sebuah profil sejarah berisikan ulasan rinci dan kritis tentang perkembangan agama Katolik di Indonesia dari tahun 1808 sampai 1942, suatu periode yang cukup penting untuk pertumbuhan umat Katolik di tanah air kita.
Buku ini merupakan salah satu ikhtiar penelusuran dan penjelasan-dari-dalam dengan memanfaatkan dokumen-dokumen yang kebanyakan ditulis oleh orang Barat, dan yang diinterpretasikan seturut kaidah ilmu sejarah yang dapat diverifikasikan.
Kekhasan dan kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku-buku yang sudah terbit sebelumnya tentang Sejarah Katolik di Indonesia adalah pendekatan yang digunakan, yaitu ‘pendekatan dari bawah’: mengutamakan orang-orang Katolik (sebagai pribadi maupun kelompok) ketimbang Gereja Katolik sebagai institusi hierarkis.
Fakta tentang kesalahan orang-orang Katolik bila diukur dengan standar ajaran dan moral Gereja (di samping prestasi, semangat juang, dedikasi, kreativitas) tidak ditutup-tutupi, perbedaan dan bahkan konflik antara Katolik dan Protestan juga tidak disembunyikan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Katolik adalah manusia biasa, yang dengan kelebihan dan kekurangannya telah berupaya memberi yang terbaik bagi bangsa ini. Disamping itu disajikan juga kerjasama di antara keduanya, kendati pada masa itu masih sangat terbatas. Ini merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi proses beroikumene.

Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman

Published by:

MISI EVANGELISASI DAN PENGHAYATAEditor : Georg Kirchberger
Jumlah halaman : 184 halaman
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Harga : Rp. 27.000

Dua tantangan utama yang dihadapi Gereja Asia, yang mencuat secara jelas dalam Sinode para Uskup tentang Asia pada tahun 1998 adalah dialog dan pembaharuan kerohanian. Gereja tidak akan berkembang apabila tetap tertutup dalam satu semangat Ghetto kaum minoritas atau terlampau terpenjara dalam struktur kelembagaan. Membantu menjawabi permasalah dan tantangan di atas, buku ini menampilkan tulisan sejumlah pakar misiologi. Mereka menulis tentang pandangan misi menurut teologi Katolik, konsep evangelisasi ketika berhadapan dengan kebenaran agama-agama, persoalan dialog antaragama, pandangan teologi Katolik tentang Islam, pergumulan tentang etika ekonomi dalam konsep Islam dan Kristen, keberpihakan terhadap kaum miskin, pengalaman Asia dalam berevangelisasi dan konsep tentang Allah yang mendorong dialog.

BERSAING ATAU BERSAHABAT? Dakwah Islam – Misi Kristen di Afrika

Published by:

Bersaing atau bersahabat - depanPengarang : Georg Kirchberger & John M. Prior
Jenis Kertas : cdIMPORT 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xx + 136 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000

Pertumbuhan agama Islam dan Kristen yang paling pesat sedang terjadi di benua Afrika. Diperkirakan bahwa dalam waktu tidak lama lagi, benua Afrika akan terbagi 50-50 di antara kedua aliran agama ini.
Apakah kebangkitan Islam dan Kristen masa kini bakal membawa damai atau konflik? Kita tahu bahwa baik Islam maupun Kristen bersifat ‘ekspansionis’ karena dua-duanya berciri dakwah/misi. Apakah tesisnya Samuel Huntingdon nanti terbukti benar, yaitu bahwa kedua agama ini dengan sendirinya mesti bertubrukan? Banyak faktor turut menentukan jawaban kita.
Sejumlah pertanyaan timbul, antara lain: Apakah orang Islam dan orang Kristen harus saling berhadapan bagai pesaing di ‘pasar agama dunia’? Atau apakah umat Kristen dan Islam, yang sama-sama mengakui Ibrahim/Abraham sebagai leluhur dalam iman, mampu hidup berdampingan bagaikan saudara, malah sebagai rekan peziarah yang bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih adil, damai dan manusiawi? Banyak pihak berpendapat bahwa orang yang sungguh realistis tahu bahwa tubrukan antara Islam dan Kristen sudah hal yang pasti, sedangkan orang yang mengidamkan penghargaan dan kolaborasi Islam-Kristen tidak lain tidak bukan orang idealis yang ‘sedang bermimpi di planet lain’.
Bagi kita di Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia dan sekaligus memiliki minoritas Kristen yang berarti (± 9%) jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini turut mengarahkan masa depan bangsa. Malah masa depan dunia bergantung padanya.

BERDIRI DI AMBANG BATAS – Pergumulan Seputar Iman dan Budaya

Published by:

Diambang Batas - depanPengarang : Dr. John M. Prior
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xxii + 232 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000

Relfeksi-refleksi dalam buku ini menyangkut hal ihwal keberalihan melintas tapal batas sosial, agama dan budaya. Tapal batas membingkai jati diri sekelompok masyarakat. Ia bisa berperan sebagai penghalang atau penghubung. Penghalang yang membeda-bedakan serta memisah-asingkan kelompoknya dari kelompok-kelompok lain, atau sebaliknya menjadi penghubung yang mengundang ‘yang lain’ untuk melintasinya, untuk datang dan mengalami horizon baru, menambah pengetahuan serta memperluas lingkup persahabatannya.
Pewarta lintas budaya mesti pertama-tama menghargai dan memajukan jati diri khas dari ‘yang lain’ itu. Perbedaan tidak boleh dihapus begitu saja dan juga tidak boleh dibekukan atau diabsolutkan. Pewarta lintas budaya mesti membuka diri pada tapal-tapal baru untuk memajukan sebuah peradaban baru, peradaban cinta. Dengan demikian jati diri lama dari kedua belah pihak melebur dalam sebuah identitas baru, identitas yang ditumbuh-kembangkan bersama. Kita sama-sama menjadi manusia lintas budaya seturut citra Allah Tritunggal.

Gerakan Ekumene

Published by:

GERAKAN EKUMENE Pengarang : Georg Kirchberger
Jenis Kertas : Cdimport 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xviii + 360 halaman
Ukuran : 120 mm x 190 mm
Harga : Rp 50.000,-

Dewasa ini ada duaarti dan makna dalam kata “ekumene”: “universal , misioner, menyangkut seluruh dunia” dan “sesuatu yang menyangkut kesatuan Gereja-gereja”. Buku ini berbicara mengenai kesatuan Gereja-gereja. Penulis buku ini berusaha menggambarkan dan memperkenalkna gerakan ekumene sebagai gerakan yang ingin mengusahakan kesatuan Gereja-gereja Kristen. Dan gerakan serta usaha itu digambarkan dalam buku ini dari sudut pandang Katolik.

MENEROBOS BATAS MEROBOHKAN PRASANGKA Jilid 2 – Dialog Demi Kehidupan

Published by:

PengaranMenerobos Batas Merobohkan Prasangka 2 - depang : Paul Budi Kleden & Robert Mirsel (ed.)
Jenis Kertas : Cdimport 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xiv + 429 halaman
Ukuran : 155 mm x 240 mm
Harga : Rp 85.000,-

Menerobos batas menjebol kebekuan bukanlah sebuah tindakan destruktif yang meluluhlantakkan dan menyisakan puing-puing. Dia bertujuan melakukan renovasi, reformasi dan transformasi intelektual dan tradisi religius secara terus-menerus dan terabdi bagi penegakan martabat luhur manusia dan seluruh ciptaan. Sebab itu, jilid kedua buku ini lebih berkonsentrasi pada tujuan dialog yakni demi kehidupan manusia dan pelestarian ciptaan. Tujuan ini hendak disoroti dengan menggunakan beberapa pendekatan diantaranya pendekatan filosofis, sosiologis, teologis (teologi sosial dan teologi feminis), dan homeletis/kateketis.

You might also likeclose