Category Archives: Antropologi

Ilmu Perbandingan Agama

Published by:

ilmu-perbandingan-agama-2-previewPenulis : Dr. Philipus Tule
Cetakan 1 : September 2016
Terbitan :Penerbit Ledalero
Ketebalan : viii + 146 hlm
Ukuran Buku : 140 x 210 mm
Harga : Rp. 45.000
Bagi sebagian besar individu dan umat, agama itu diterima dari orangtua atau pun nenek moyang sebagai warisan, tanpa kesadaran dan kebebasan untuk memilihnya. Bagi sebagian lain, khususnya di kalangan masyarakat modern, agama dibiarkan untuk dipilih dan dianut secara bebas oleh setiap individu yang dewasa. Oleh karena itu, setiap individu dibiarkan hingga masa dewasa untuk memilih agama yang tepat sesuai pilihan dan keputusan pribadi yang bebas. Terlepas dari dampak positif dan negatif tindakan individu memilih sebuah agama, kenyataan membuktikan bahwa dewasa ini penghayatan serta masalah agama sangat banyak dialami dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam surat kabar, radio dan televisi, dalam konperensi, musyarawarah dan seminar. Ketiga hal berikut dapat diidentifikasi sebagai sebab agama mendominasi kehidupan manusia dewasa ini.
1) Sebab yang azasi adalah bahwa agama itu bukanlah perkara sederhana, tapi merupakan dasar hidup manusia dan masyarakat seutuhnya. Agama itu mencakupi semua hal ikhwal kehidupan manusia: sikap dan pandangan hidup tentang ‘Yang Ilahi’ dan ‘yang duniawi’. Dalam agama segala dasar kehidupan manusia yang pribadi dan sosial terpadu menjadi satu.
2) Sebab yang khusus adalah bahwa dunia umumnya dan bangsa Indonesia khususnya semakin sering menyaksikan dan mengalami kegoncangan dan tantangan terhadap kehidupan bermasyarakat yang aman, sejahtera, damai, sentosa, rukun dan harmonis sebagai akibat dari pemahaman dan penghayatan agama yang keliru.
3) Sebab yang lain adalah bahwa ada pandangan atau paham ekstrim dari segelintir penganut agama dan anggota kelompok etnis tertentu yang semakin mewarnai dunia dewasa ini. Benturan dan bahkan konflik antaragama dan antarbudaya semakin menggejala sebagaimana nampak dalam: – cara hidup lama yang berhadapan dengan cara hidup baru; – cara pandang agama berhadapan dengan cara pandang adat / kebudayaan ; – cara hidup feodal berhadapan dengan cara hidup demokratis; – cara hidup masyarakat yang eksklusif dengan yang inklusif; – cara pandang etnocentris (ke-Jawaan, ke-Floresan, ke- Katolikan, ke-Islaman, ke-Hinduan, dll) berhadapan dengan cara pandang pluralis yang menjunjung tinggi kemajemukan yang harmonis.
Searah dengan tendensi dunia yang mulai menggugat isolasi dan kefanatikan dalam agama, etnisitas dan kebudayaan untuk mengusahakan pembaruan, kita pun mempelajari Ilmu Perbandingan Agama (sejarah nama dan perkembangannya) demi tujuan formasi, transformasi ataupun reformasi (revolusi) sikap iman. Karena seperti pepatah Inggeris mengatakan: “Revolution rejects yesterday and builds up tomorrow”

LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah

Published by:

Luka Lawo NgawuJudul : LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah
Penulis : Prof. Dr. Willemijn de Jong
Penerbit : Penerbit Ledalero, Cet. 1 Oktober 2015
Jumlah Hlm : xiv + 456 hlm
Ukuran buku : 150 x 230 mm
ISBN : 978-602-1161-14-2
Harga : Rp.95.000
Kategori : Sosio Antropologi

Pokok pembicaraan dalam buku ini ialah perempuan-perempuan penenun di Lio, Pulau Flores, serta arti sosial yang menyeluruh dari tenunan mereka yang bernilai tinggi dari segi prestise dan seni, yang kebanyakannya ditenun dengan pola ikat yang indah, yang dikerjakan dengan cara rumit dan kompleks. Tenunan-tenunan itu, dipandang sebagai kekayaan kain (clothwealth), yang penting untuk dipakai, dijual, dan dihadiahkan, terutama sebagai pemberian balasan untuk belis. Yang hendak ditelaah selanjutnya ialah arti penting dan nilai dari kain tenunan itu dalam bidang pekerjaan, perkawinan, dan apa pengaruhnya untuk posisi perempuan serta hubungan antara jenis kelamin di dalam masyarakat kampung mereka. Di dalamnya terungkap pendapat dari perempuan-perempuan penenun dengan latar belakang sosial yang berbeda-beda, serta keterikatan mereka dengan anggota-anggota keluarga terdekat dan juga pendapat dari tokoh-tokoh lokal yang mempunyai kewenangan.
Buku ini berusaha menyoroti suasana kehidupan petani dari sebuah wilayah dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang pada umumnya dipandang miskin, jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Dengan memusatkan perhatian pada tenunan sebagai sebuah bentuk kekayaan lokal yang penting, sebagai karya seni budaya, dan sebagai objek harta dan prestise, kiranya buku ini dapat mewakili suatu pandangan yang menyeluruh, tanpa hendak meremehkan masalah-masalah ekonomi yang sudah sangat tersebar, yang juga dikemukakan sebagai tema dalam hubungan dengan pekerjaan menenun.
Edisi karya penelitian ini, sudah terbit hampir dua puluh tahun lalu dalam Bahasa Jerman. Edisi kedua ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia mencakup bagian etnografis yang kiranya menarik perhatian pembaca Indonesia. Satu edisi lengkap membutuhkan pengolahan ulang dari bagian pertama, yaitu bagian teoretis dari karya ini. Suatu diskusi teoretis mengenai kekayaan tenunan, belis dan hubungan antar jenis kelamin ada pada bab penutup buku ini. Ini adalah diskusi dan telaahan dari perspektif sosio-antropologis, yang dibuat dengan cara melakukan beragam pengamatan, wawancara, pembicaraan informal hingga informasi, dan data dianalisa. Tesis-tesis, konsep-konsep serta pengertian-pengertian utama dari studi ini dikemukakan dalam bentuk yang singkat dalam bab pendahuluan yang telah dikerjakan ulang. Dalam hubungan dengan posisi penelitian, buku ini terutama mencerminkan perdebatan-perdebatan dari tahun 1980-an dan tahun 1990-an. Hanya beberapa publikasi yang terpilih, yang sudah terbit sesudah tahun 1998 dimasukkan lagi di dalam bab pendahuluan dan bab penutup. Hanya sedikit sekali perubahan yang diadakan dalam hubungan dengan etnografi itu sendiri. Perubahan-perubahan ini berhubungan terutama dengan aspek-aspek formal dan di beberapa tempat diadakan perbaikan-perbaikan kecil untuk melindungi para narasumber, baik perempuan maupun laki-laki.
Beberapa pengertian yang digunakan dalam karya ini, membutuhkan suatu uraian yang lebih tepat dari sudut pandang sekarang. “Tradisi-tradisi”, “cara tradisional” pada umumnya menunjuk pada jaman kolonialisme sampai tahun 1945 dan masa pemerintahan Presiden Soekarno sampai pertengahan tahun 1960-an. Namun dalam banyak konteks pengertian-pengertian ini digunakan dalam hubungan dengan modernitas. “Tradisi-tradisi” dari sudut pandang pribumi pada waktu diadakan penelitian ini, sangat sentral, dan tetap sentral sampai sekarang. Tradisi-tradisi lokal yang kerapkali diasosiasi dengan seluruh kompleks norma-norma hukum adat dan praktek-praktek adat yang berkaitan, bersama membentuk keterikatan historis – dan demikian bagian-bagian yang penting – dari bentuk-bentuk yang spesifik dari modernitas di Indonesia. Juga Orde Baru dari Presiden Soeharto yang mengarah kepada perkembangan telah mendorong timbulnya bentuk-bentuk khusus dan regional yang baru dari modernitas ini. Terutama dengan perkembangan pertanian, kerajinan tangan, pendidikan dan kesehatan oleh Misi Katolik dan Pemerintah Indonesia, di Flores, telah berkembang bentuk-bentuk modernitas tersendiri, di mana tradisi-tradisi tetap memainkan peranan yang penting.
Penulis memandang publikasi ini sebagai suatu penghormatan kepada budaya yang hidup dari kerajinan tangan di Indonesia dan khususnya sebagai penghormatan untuk perempuan-perempuan penenun, yang memiliki pengetahuan khusus dan kemampuan yang luar biasa – dan didukung oleh keluarga mereka – serta mempesona para pemerhati lokal dan asing. Namun “seni ikat” tidak mudah terpantau oleh mata yang tidak terlatih, seperti yang dikemukakan oleh peneliti asal Flores, P. Sareng Orinbao, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1972 dengan judul “Seni Tenun suatu Segi Kebudayaan Orang Flores”. Kekhususan dan arti tenunan baru dapat terbuka melalui pembahasan yang mendalam. Kita berharap kekayaan tenunan di Flores, latar belakangnya, gerakannya, dan implikasinya oleh sebuah publikasi lebih lanjut dalam bahasa Indonesia dapat terbuka untuk suatu kelompok pembaca yang lebih luas dan dengan demikian makin diperkenalkan kepada masyarakat luas. Dengan itu, pengetahuan dan kemampuan perempuan-perempuan penenun di Indonesia Timur ini semakin dikenal.

ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA – Sebuah Pengantar

Published by:

ANTROPOLOGI Sosial - depanPengarang : Thomas Hyllan Eriksen
Jumlah Hal. : xvi + 572 hlm.
Ukuran : 15.5 cm x 22.5 cm
Jenis Kertas Isi : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
ISBN : 978-979-9447-80-0
Harga : Rp. 95.000
Buku ini merupakan ikhtisan komprehensif mengenai ilmu antropologis social dan budaya. Pelbagai aspek metode kerja cabang ilmu ini dibahas, begitu juga aliran penting dan topic-topik sentral yang lazimnya diuraikan dalam ilmu antropologi. Penulis sendiri menjelaskna tujuan buku ini sebagai berikuti: Sasaran saya dalam buku ini ialah untuk mengajari para mahasiswa-mahasiswi prasarjana baik tentang pokok soal antrologis social maupun tentang suatu cara berpikir yang bercorak antropologis. Saya yakin bahwa kaji banding antara masyarakat dan kebudayaan merupakan sebuah aktivitas intelektual fundamental yang memiliki potensi eksistensial dan politis yang sangat ampuh. Melalui kajian atas aneka ragam masyarakat, kita belajar sesuatu yang hakiki tidak saja tentang dunia, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Menyitir kata-kata Kristen Hastrup, apa yang dilakukan para antropolog adalah setali dengan membuat familia itu eksotik dan yang eksotik itu familiar. Oleh karena itu, perbandingan dengan masyarakat “Barat” merupakan sebuah persoalan yang melandasi keseluruhan buku ini, juga bila tema yang tengah dibicarakan bersangkut paut dengan model pemberian hadiah masyarakat Melanesia, ritual orang-orang Malagasi, atau politik kaum Nuer. Bahkan keseluruhan buku ini dapat dibaca sebagai serangkaian “kuliah perbandingan.”

ANTROPOLOGI, PEMBANGUNAN & TANTANGAN PASCAMODERN

Published by:

Antropologi, Pembangunan & Tantangan Pascamodern_depanPengarang : Katy Gardner & David Lewis
Jumlah hal. : xxxviii + 309 hlm.
Ukuran : 14,8 cm x 21 cm
Kertas Isi : HVS 60 gr
Cover : Ivory 230 grm
ISBN : 978-979-9447-81-X
Harga : Rp. 55.000

Antropologi dan pembangunan dalam banyak hal memiliki latar belakang yang sama, namun tidak mudah untuk menemukan hubungan antara keduanya. Para praktisi antropologi sering kali dikelompokkan berdasarkan premis-premis, metode dan objek-objek yang secara luas tidak saling bertemu, bahkan tidak saling mengisi.
Buku ini mengjembatani gap dan menawarkan kepada para pembaca dasar-dasar studi pembangunan. Para penulis berusaha menjawab pertanyaan antropolog. Pada hakikatnya studi ini adalah sebuah kritik antropologis tentang praktik pembangunan konvensional yang berusaha mencari hubungan antara kedua subjek ini. Para penulis buku ini berpendapat bahwa dialog dua arah antara kedua disiplin ini adalah mungkin dan dapat mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting tentang pertalian antara yang global dan yang lokal, pemerintah dan masyarakat, kemiskinan dan kuasa. Gardner dan Lewis menggarisbawahi isu-isu sosial kunci dan masalah-masalah pembangunan. Mereka menyimpulkan bahwa perspektif-perspektif antropologis dapat memberikan kontribusi secara positif kepada kebijakan dan praktik pembangunan.

ATA PU’AN – Tatanan Sosial dan Seremonial Tana Wai Brama di Flores

Published by:

Ata Pu'an - depanPenulis : Dr. E Douglas Lewis
Harga : Rp. 100.000
Tebal : 596 hlm.
Ukuran : 15.5cm x 23.5cm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-02-X
Buku ini merupakan satu catatan awal tentang penelitian lapangan di Tana ‘Ai. Ata Pu’an dimaksudkan sebagai yang pertama dari studi berjilid tiga tentang Ata Tana ‘Ai atau “Orang dari Negeri Hutan” di Flores tengah bagian timur. Buku ini ditujukan secara khusus untuk mempelajari organisasi sosial Tana Wai Brama, dengan bermula pada gagasan-gagasan tentang asal usul wilayah itu seperti dikisahkan dalam hikayat-hikayat lisan yang dituturkan para juru ritusnya.
Etnografi yang baik melibatkan semacam penyingkapan yang berlangsung secara teratur. Ihwal melukiskan sebuah masyarakat dan menyajikan ide-ide yang menopangnya menuntut pembabaran secara saksama. Namun apresiasi tentang pentingnya segi-segi eksposisi ini hanya bisa datang secara retrospektif tatkala etnografi berhasil membuat satu budaya lebih dipahami. Hal ini terutama berlaku untuk Ata Pu’an. Ia menelisik sebuah masyarakat yang tidak memiliki kumpulan literatur apa pun sebelumnya dan mesti merancang langkah demi langkah suatu pemahaman etnografi yang sistematis.
Namun Ata Pu’an lebih daripada sekadar etnografi tentang sebuah masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki dokumen apa pun di kawasan timur Indonesia. Ia adalah studi tentang sebuah masyarakat yang organisasi sosialnya menyajikan beberapa variasi yang sangat mencolok dibanding pola-pola umum di seluruh kawasan itu. Dari sudut pandang perbandingan, buku ini adalah studi yang sangat penting.

PEMBURU YANG CEKATAN – Anjangsana Bersama Karya-Karya E. Douglas Lewis

Published by:

pemburucekatanJudul: PEMBURU YANG CEKATAN – Anjangsana Bersama Karya-Karya E. Douglas Lewis
Tahun: Januari 2015
Penyuting: Julian C.H. Lee dan John M. Prior
Harga: Rp. 121.000
Tebal: xxviii + 512 hlm.
Ukuran: 150mm x 230mm
Kertas isi: HVS 60 gr
Kertas Cover: Ivory 230gr, doft laminating
ISBN: 978-602-1161-03-6

Penciptaan kreatif atas etnografi yang unggul adalah aspirasi tertinggi dan prestasi terbesar dalam ranah antropologi. Kupasan teoritis di bidang itu paling banter memiliki paruh hidup satu dasawarsa. Sebaliknya, etnografi yang cerdas adalah andil jangka panjang antropologi atas kesinambungan dan masa depan pemahaman manusia.

Douglas Lewis telah mendarmakan andil etnografis besar terhadap antropologi – atau lebih tepat suksesi beragam andil: pertama bersama mahakaryanya People of the Source, lalu film etnografisnya A Celebration of Origins, yang dibuatnya bersama Tim dan Patsy Asch, dan yang paling belakangan The Stranger- Kings of Sikka. Semua karya ini menyajikan sebuah fokus utama pada wilayah tertentu di Pulau Flores yang terletak di kawasan timur Indonesia.

Buku ini, yang disatukan sebagai sebuah bunga rampai oleh murid, rekan dan koleganya, merupakan sebuah pengakuan atas prestasi Douglas Lewis. Buku ini adalah juga maklumat atas pengaruh intelektual dan kerja sama kolegialnya yang sangat erat yang telah ia lestarikan melalui beragam penelitian dan pengajarannya. Bunga rampai yang menghiasi buku ini sama-sama bervariasi dan beragamnya seperti andil Douglas Lewis dalam bidang-bidang bersangkutan.

Duet penyunting buku ini, Julian C.H. Lee dan John M. Prior menulis sebuah pengantar terperinci untuk beragam karya Lewis, seraya menunjuk tidak hanya kepakaran etnografisnya, tetapi juga pengaruh masa pengajarannya selama bertahun-tahun di Universitas Melbourne.

Apa yang menandai dan mencirikan berbagai karangan dalam buku ini adalah serba keragamannya; namun semuanya berbagi dan melarik benang merah yang sama: semuanya melacak ide-ide yang memuasal dari sebuah sumber tunggal – pelbagai penelitian dan pengajaran E. Douglas Lewis. Bersama buku ini, bolehlah Douglas Lewis berbangga atas dukungan dan penghormatan para rekannya.

 

You might also likeclose