Category Archives: Biografi

Perempuan Tangguh

Published by:

TaPerempuan Tangguhhun : Februari 2015
Penulis : Santisima Gama
Harga : Rp.
Tebal : 170 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : HVS 60 gr full color
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-05-0

Melalui perjuangan politik yang rumit dan berbelit-belit, Frans Lebu Raya kemudian menempati posisi terhormat sebagai Gubernur NTT selama 10 tahun (2008-2018). Lucia Adinda Lebu Raya adalah sosok inspiratif dibalik kegemilangan seorang suami. Ia tampil sebagai perempuan yang cerdas, kreatif, enerjik, pekerja keras, mampu mengayomi banyak pihak dan kelompok masyarakat NTT, dari kelas elit hingga orang-orang yang terlupakan dan terpinggirkan. Ia melanglang dari pulau ke pulau, dari kabupaten ke kabupaten, hampir semua kecamatan di NTT telah disinggahinya. Ia mendaki bukit dan turun ke lembah untuk mendekati dan berbicara dengan semua masyarakat dari semua lapisan.
Buku kecil ini merupakan buah karya seorang penulis wanita muda yang tajam menukik menemukan inti sari ketangguhan kaum hawa yang terlukis indah pada sosok Lucia Adinda Nu’a Nurak. Buku yang pantas dibaca oleh banyak orang dari segala kalangan bukan hanya karena bahasanya yang lugas dan tajam tetapi juga karena Santisima mampu melukiskan dengan jelas tentang keteladanan Ibu Lucia yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi kaum muda untuk bangkit berdiri – menatap dan menata masa depan dengan semangat perjuangan yang tak kenal lelah. Buku ini ingin membuktikan bahwa wanita yang berhasil adalah wanita yang tidak hanya sukses mendampingi suami dalam karier dan membangun keluarga sejahtera yang diimpikan semua orang tetapi juga wanita yang telah membatktikan seluruh hidupnya bagi seluruh rakyat Flobamora.

Kisah Pengembaraan Ibarruri Putri Alam – Anak sulung D.N. Aidit

Published by:

IBARRURI PUTRI ALAMPenulis : Ibarruri
Harga : Rp. 100.000
Tebal : 560 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-07-4
Tahun : Agustus 2015

Jika otobiografi Nelson Rolihlahla Mandela, Long Walk to Freedom telah dialihbahasakan ke dalam empat puluh bahasa lebih, tentu bukanlah sesuatu yang mengherankan; sebab buku itu sungguh mengilham dan memesona. Dalam menghadapi kebiadaban dan kekerasan apartheid di Afrika Selatan, walau pernah “diamankan” oleh rezim dalam penjara selama 27 tahun, Mandela dengan tenang dan tekun mengungkapkan toleransinya serta kerelaannya untuk mengampuni musuh bangsanya yang kejam. Mandela yakin bahwa tidak ada masa depan tanpa pengampunan. Juga tidak ada pengampunan tanpa pengungkapan kembali kekejaman politik masa lampau. Bagi Mandela pengampunan tidak identik dengan pembungkaman. Rekonsiliasi mustahil terjadi dalam diam.
Sebagaimana Nelson Mandela, Ibarruri dalam Kisah Pengembaraan-nya belajar dan bertumbuh ketika mengenang kembali peristiwa-peristiwa pahit yang menimpa dirinya, dan yang menghanyutkan bangsanya. Ibarruri berada di Rusia ketika Gestok (Gerakan Satu Oktober) 1965 alias G30S meledak. Ibarruri, yang ketika itu masih remaja, mesti mengungsi ke Tiongkok, lalu ke Birma dan Macao, dan akhirnya “mendarat” di Perancis. Betapa pahit pengalaman pengembaraannya. Iba, demikian ia disapa, selalu belajar dan senantiasa bertumbuh, baik dalam dirinya, maupun dalam pemikirannya. Oleh karena itu, Kisah Pengembaraan merupakan salah satu karya yang amat inspiratif. Pengalaman pahit terungkap dengan tenang oleh seorang perempuan yang berguru pada setiap pengalaman hidupnya.
Buku ini membuka tabir sebagian sejarah yang bengis pada setengah abad silam, yakni kisah pahit yang menggoncangkan Indonesia sepanjang kurun waktu 1965-1966. Lebih dari itu, buku ini membahasakan sikap ksatria dari pelbagai korban kebengisan rezim, serta apa yang dapat kita petik untuk masa kini.

You might also likeclose