Category Archives: Gereja

Gereja mandiri, solider dan membebaskan Rencana Strategis Pastoral Keuskupan Sibolga 2016-2020

Published by:

Editor                         : Hubert Thomas Hasulie
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  160 x 240 mm
Jumlah halaman      : x + 304 hlm
ISBN                          : 978-602-1161-35-7

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam dua tahun pemerintahannya menunjukkan bahwa beliau sungguh peduli akan pendidikan, kesehatan dan pangan. Iapeduli kesejahteraan rakyat. Ia bekerja keras, jauh dari KKN. Bahkan beberapa bulan terakhir di paruh kedua tahun 2016, beliau langsung membagikan susu dan makanan bergizi bagi balita agar sehat dan pintarlah generasi mendatang.

Apa yang dicanangkan dan apa yang dikerjakan Sang Presiden, membuat warga Indonesia senang, bahagia. Mereka sungguh merasakan bahwa “oh… inilah Presiden yang telah menjalankan amanat penderitaan rakyat, ia sungguh menjalankan konstitusi Negara Republik Indonesia ini. Ia bukan hanya sebagai Presiden… roh seorang ‘Bapak’ nan peduli amat dialami”. Melalui kehadiran di tengah warga, melalui kerja nyata, orang menjadi yakin bahwa beliau sungguh Presiden dan Bapak.

Sinode II diadakan dengan tujuan untuk mengevaluasi seluruh dinamika karya pastoral dengan segala dimensinya dan rembuk bersama atas apa saja yang perlu dibenahi dan dikerjakan lagi pada masa lima tahun mendatang. Di dalam evaluasi kita tidak hanya melihat segala kekurangan, segala kegagalan dari apa yang kita kerjakan, tetapi juga melihat apa-apa saja yang sudah cukup berhasil kita kerjakan yang sekaligus membangkitkan harapan untuk melanjutkannya di masa mendatang. Kita tidak hanya melihat pengaruh-pengaruh entah posisif maupun negative dari dunia interen gerejani, tetapi juga segala pengaruh baik dan buruk dari dunia yang lebih luas. Dan sejalan dengan metodologi perjuangan yang kita anut, maka titik utama yang paling disorot adalah: apakah Kerajaan Allah terutama Pewartaan Yesus dan Pewartaan Gereja Universal makin dialami, makin berakar dan mekar di Keuskupan Sibolga?

Yesus sendiri mengatakan: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab ANTUK ITULAH Aku diutus” (Luk. 4:43). Dari evaluasi berjenjang yang dilakukan mulai dari basis, paroki dan tingkat keuskupan, Nampak bahwa apa yang kita kerjakan selama lima tahun silam, dengan segala warna-warninya, toh tidak jauh dari Kerajaan Allah. Data memperlihatkan bahwa animo kerja seluruh petugas pastoral yang selalu mengadakan pemberdayaan di tengah-tengah umat basis (lingkungan, stasi) makin tinggi. Maka saya boleh terjemahkan pengalaman ini sebagai Hati Umat Allah Keuskupan Sibolga yang berjuang secara konkrit menghadirkan HATI dan PERJUANGAN YESUS di tengah-tengah umat dan warga secara keseluruhan. Roh itu merasuk dan menguasai hati, pikiran, budi dan kehendak banyak orang untuk bekerja sesuai dengan Perjuangan Yesus yang kita terjemahkan melalui Visi dan Misi gereja lokal Keuskupan Sibolga.

Buku RSPKS Hasil Sinode II ini terdiri dari 3 bagian besar, diawali dengan Kerangka Dasar Pastoral Keuskupan Sibolga dan prolog yang menguraikan tentang metodologi kerja pastoral Keuskupan Sibolga. Bagian pertama menggambarkan Konteks Pastoral Keuskupan Sibolga mulai dari konteks historis global menuju konteks lokal. Kemudian paparan menukik pada hasil Evaluasi Pastoral 5 tahunan yakni berupa pencapaian dan kegagalan yang telah terjadi dalam kerja di lapangan selama lima tahun silam serta pembelajaran untuk meningkatkan mutu pastoral ke depan. Tantangan-tantangan pastoral yang diperoleh dari analisis sosial berjenjang mulai dari tingkat KBG, paroki dan keuskupan menjadi penutup bagian pertama ini. Bagian kedua berisi dokumentasi Refleksi Biblis yang dilakukan dalam Sinode II. Bagian ketiga berisi Tanggapan Pastoral, terdiri dari dua bagian: pertama, Matriks Program yang memuat masalah pokok yang ditetapkan oleh Sinode II, sebab-sebab kuncinya, tujuan jangka panjang (disertai indikator-indikator), sasaran jangka pendek (disertai indikator-indikator) serta kegiatan-kegiatan yang akan dikerjakan selama lima tahun mendatang demi meraih tujuan dan sasaran yang ada. Kedua, Matriks Kegiatan yang merupakan rincian kegiatan-kegiatan pokok yang mesti dijalankan selama lima tahun mendatang. Rincian tersebut mencakup kelompok sasaran, penanggungjawab, tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rentang lima tahun mendatang. Semoga buku ini dapat menjadi pegangan di tangan untuk mengimplementasikan dan menterjemahkan secara lebih konkrit lagi di tengah umat basis jawaban atau tanggapan pastoral kontekstual sesuai dengan visi dan Misi Keuskupan Sibolga.

Sejarah Keuskupan Larantuka

Published by:

Penulis           : Eduard Jebarus, Pr

Penerbit         : Ledalero
Cetakan 1       : Agustus 2017
ISBN               : 978-602-1161-41-8
Ukuran           : 170mm  x 240 mm
Jumlah hlm. : xxvi + 494 hlm

Penulisan Sejarah Keuskupan Larantuka merupakan sebuah upaya penting dan berharga, yang patut diapresiasi dan disyukuri. Ada banyak peristiwa dan kejadian, termasuk orang-orang, yang telah membentuk sejarah itu. Sayang kalau semua itu dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa dicatat atau dibukukan.

Buku Sejarah Keuskupan ini dimaksudkan agar kita boleh mengenal dan mencintai Keuskupan Larantuka, serta belajar dari sejarah itu, sebab sejarah membawa banyak pesan berharga bagi manusia dari generasi ke generasi. Semoga generasi muda semakin mengenal sejarah keuskupannya, mencintai dan mengambil hikmahnya.
Sebagai sebuah buku sejarah buku ini ditujukan terutama untuk lingkup sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Untuk itu, penulis menggunakan banyak judul bawahan, serta “butir” dan “angka” (istilah komputer, bullets dan numbering). Mudah-mudahan dengan cara ini pembaca dibantu untuk menyoroti tema-tema tertentu, menangkap urutannya dan mudah untuk mengungkapkannya kembali. Gaya penulisan Eduardus Jebarus yang khas ini, diharapkan bisa membantu para pembaca umum mengetahui perjalanan sejarah Keuskupan Larantuka.
Pada bagian awal buku ini, berisikan “Ikhtisar Kronologis” dengan maksud agar para pembaca mempunyai gambaran singkat-menyeluruh mengenai sejarah Keuskupan Larantuka sampai dengan tahun 2015.
Di dalam Bab 1, penulis membuka pembicaraan dengan mengisahkan “Jejak Kekatolikan di Sumatera” dengan maksud menempatkan sejarah Keuskupan Larantuka dalam konteks sejarah Gereja Katolik di Indonesia sejak abad ke-7. Di dalam bab ini juga dibicarakan tentang “Tuan Ma” sebagai peristiwa iman khas Larantuka sebelum misionaris Portugis berkarya di wilayah ini.
Periodisasi atau pembabakan selanjutnya sebenarnya diangkat dari “bahasa sehari-sehari”, yakni dari kejadian-kejadian dalam sejarah Keuskupan Larantuka, yang terdiri atas tiga periode misi (Dominikan, Yesuit, dan SVD) dan empat periode masa tugas empat uskup di Larantuka (Mgr. Gabriel Manek, SVD, Mgr. Antonius Thijssen, SVD, Mgr. Darius Nggawa, SVD, dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr). Pembabakan besar seperti ini bisa saja mengandung “penyimpangan” misalnya, karya dua imam projo selama empat tahun (1860 – 1863) pada awal Misi Larantuka dimasukkan ke dalam periode Misi Yesuit (Bab 3). Untuk mengedepankan kekhususan dua imam projo itu, dalam buku ini disajikan satu topik tersendiri perihal mereka sebelum berbicara tentang karya para misionaris Yesuit. Selanjutnya, penulis memberi isi yang lebih luas pada masing-masing periode yang diperoleh dengan menelusuri dan menjelajahi berbagai buku, majalah, manuskrip, dokumen dan arsip serta bertanya pada banyak nara sumber. Buku ini patut dibaca oleh semua orang dalam semua lapisan masyarakat teristimewa umat keuskupan Larantuka.

Mengapa Gereja (Harus) Tolak Tambang – Sebuah tinjauan etis, filosofis dan teologis atas korporasi tambang

Published by:

Mengapa Gereja Tolak TambangJuli 2015
Penulis : Beni Denar
Harga : Rp. 65.000
Tebal : xxii + 358 hlm.
Ukuran : 120mm x 190mm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-13-0
Reformasi yang diperjuangkan dengan susah payah dari tangan rezim totaliter Suharto seharusnya sudah cukup tua untuk mengubah tatanan politik dan ekonomi negara ini ke arah yang lebih baik. Namun kenyataannya negeri ini semakin dirusakkan oleh berbagai krisis yang menderanya, seperti krisis kepercayaan, krisis moral, krisis kepemimpinan, krisis demokrasi, krisis lingkungan hidup dan deretan krisis lainnya. Sebagai contoh, Otonomi Daerah yang merupakan salah satu tujuan utama dari agenda reformasi tahun 1998 ternyata tidak semanis yang dicita-citakan. Sebab sistem Otonomi Daerah telah turut serta membawa bias-bias destruktif yang cukup meresahkan masyarakat lokal. Selain memunculkan ladang baru terjadinya KKN, Otonomi Daerah ternyata melahirkan persoalan serius terkait pilihan kebijakan politik pembangunan daerah.
Buku ini secara khusus akan melacak mafia pertambangan sebagai bagian dari arus besar kapitalisme neoliberal. Refleksi tentang keterlibatan Gereja dalam arus besar sistem ekonomi yang berwatak liberal dan eksploitatif itu akan menjadi perhatian kunci buku ini. Keterlibatan Gereja berdasarkan pertimbangan etis, filosofis dan teologis akan mengarah kepada opsi untuk lebih mengabdi kepada kemanusiaan yang sesunggguhnya, dan terutama dengan menerapkan model pembangunan berkelanjutan.

EVANGELISASI Gereja yang Bergerak Keluar

Published by:

EVANGELISASI GEREJA YG BERGERAK KELUARPenulis : Chirstian Tauchner (Ed.)
Harga : Rp. 50.000
Tebal : viii + 240 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-09-8
Juli 2015

Cara pandang dialog menyeruak di tengah-tengah diskusi Konsili Vatikan II bersama Ensiklik Ecclesiam Suam Paulus VI yang diterbitkan pada Agustus 1964, sekitar 50 tahun lampau. Ensiklik ini menjadi sangat berpengaruh pada teks-teks utama Konsili itu semisal Gaudium et Spes serta berbagai refleksi pada tahun-tahun selanjutnya. Buku EVANGELISASI Gereja yang Bergerak Keluar menunjukkan fakta bahwa tidak ada lagi dikotomi di antara hakikat misioner setiap Gereja dan tugasnya memberitakan Injil melalui cara-cara yang menuntut dialog dengan, pengetahuan tentang dan empati terhadap konteks-konteks konkret di mana manusia hidup, serta keterampilan komunikasi antarbudaya. Sebuah Gereja misioner bisa menggantang keuntungan dari pengalaman tradisional para misionaris “lintas budaya”, karena persis itulah situasi di mana kini hampir setiap Gereja berada. Apa yang dulu dianggap sebagai panggilan bagi beberapa kalangan guna berkarya di tempat-tempat eksotis kini memiliki relevansi untuk semua palayan di dalam semua Gereja. Kita benar-benar berada dalam “era baru”, “fase baru” misi atau evangelisasi. Kebutuhan akan keyakinan dan semangat baru, metode dan ungkapan baru tentu merupakan wawasan yang diwariskan evangelisasi baru kepada kita, tetapi fokus evangelisasi tampaknya telah beralih agar dapat menjangkau pelayanan dari sebuah Gereja yang seluruhnya misioner milik para murid yang diutus. Tugas kita semua ialah untuk merenungkan dan mengembangkan cara-cara berkomunikasi bagaimana Gereja misioner dewasa ini, melalui praktik dialog profetis, dapat ambil bagian dalam misi Allah di tengah dunia kita yang lantak namun dirahmati ini.

MERANGKAI IDENTITAS MARIA

Published by:

MERANGKAI IDENTITAS MARIAPenulis : Remigius Ceme
Harga : Rp. 30.000
Tebal : xii + 176 hlm.
Ukuran : 130mm x 200mm
ISBN : 978-979-9447-52-5

Umat beriman sering kali terjebak dalam pemahaman dan praktik devosi yang “aneh”, seolah-olah Maria sama dengan Yesus atau lebih berarti dan lebih tinggi daripada Allah. Buku Merangkai Identitas Maria ingin memberikan pemahaman yang tepat siapa itu Maria dan bagaimana Maria memainkan peranannya dalam karya keselamatan Yesus Kristus. Identitas Maria memang nampak dalam keperawanan dan keibuannya yang adalah anugerah, hadiah Allah kepadanya. Kedua ciri ini sangat kental dalam ungkapan resmi Gereja, seperti dalam doa-doa resmi Gereja atau perayaan ekaristi, khususnya dalam Doa Syukur Agung. Semua gelar lain yang diberikan kepada Maria berdasarkan pada identitas pokok Maria sebagai perawan dan Bunda Allah.

Alam Belum Berhenti Bercerita

Published by:

Alam belum berhenti bercerita - depanPengarang : Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo
Jenis Kertas : cdIMPORT 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xix + 240 halaman
Ukuran : 120 mm x 190 mm
Harga : Rp. 40.000

Bergurulah pada alam. Masyarakat adalah universitas sejati. Di dalam alam dan semua tindak-tanduk masyarakat terdapat sejumlah besar kekayaan intelektual dan pengetahuan kontekstual yang hampir tidak ada batasnya. Pemahaman kita tentang hidup, keselamatan, iman, pelayanan, dan seterusnya akan makin diperkaya kalau kita siap untuk belajar dari alam dan berguru pada masyarakat yang adalah universitas sejati.
Bukan hanya para filosof dan antropolog yang mengajarkan hal sedemikian. Yesus Kristus sendiri meminta para pengikut-Nya untuk berguru pada alam. Ia berkata: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Perhatikanlah bunga bakung di lembah yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu” (Mt 7:28-29).
Alam menyediakan bagi kita sejumlah referensi pengetahuan bukan hanya untuk kebutuhan pengembangan intelektual tetapi juga untuk penguatan iman dan penyerahan diri kepada pemeliharaan Tuhan. Mazmur 19 mengatakan hal itu dengan cara yang sangat memukau. “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Semua ini dilakukan tanpa kata dan tanpa suara, tetapi gemanya terpencar ke seluruh dunia dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.
Dalam buku ini misteri dan kejadian-kejadian dalam alam didiagnosis dan dibedah. Dalam proses itu menjadi nyata bahwa gejala-gejala kehidupan dalam alam yang diperagakan secara naluri oleh pisang, ayam, burung, pohon nangka, dst. mengandung pesan-pesan teologis. Suara-suara tidak memiliki arti yang otonom dan independen. Mereka merupakan resonansi atau gema dari kebenaran kekal yang Allah kerjakan di dalam Yesus Kristus. Penyataan Allah di dalam Kristus didengungkan kembali oleh realitas alam yang puspa ragam dan aneka rupa. Masing-masing kenyataan alam memperdengarkan berita keselamatan dengan cara, gaya, dan ekspresi yang unik. Itulah sebabnya judul yang dipakai untuk buku ini berbunyi: Alam Belum Berhenti Bercerita.

Orang-Orang Katolik di Indonesia Jilid 1 & 2

Published by:

 

Orang-Orang Katolik 1- depan Pengarang : Prof. Dr. Karel Steenbrink
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : 1016 halaman
Harga : Rp 165.000,-

Karya Karel Steenbrink ini, merupakan sebuah buku yang unik dan penting, bukan hanya dari segi pendekatan dan metodologi, tetapi juga dari segi substansi. Dengan rinci, penulis mengungkapkan dinamika pertumbuhan orang-orang dan masyarakat Katolik Indonesia; tidak hanya melihat dinamika internal orang-orang Katolik Indonesia, tetapi juga dalam kaitan dengan persaingan dan rivalitas dengan Protestan dan Islam. Buku ini tentu akan menjadi salah satu sumber standar mengenai sejarah Gereja Katolik dalam relasinya dengan Gereja Protestan dan Agama Islam.

Karangan PrOrang - Orang Katolik Jilid 2 - depanof. Dr. Karel Steenbrink ini merupakan sebuah profil sejarah berisikan ulasan rinci dan kritis tentang perkembangan agama Katolik di Indonesia dari tahun 1808 sampai 1942, suatu periode yang cukup penting untuk pertumbuhan umat Katolik di tanah air kita.
Buku ini merupakan salah satu ikhtiar penelusuran dan penjelasan-dari-dalam dengan memanfaatkan dokumen-dokumen yang kebanyakan ditulis oleh orang Barat, dan yang diinterpretasikan seturut kaidah ilmu sejarah yang dapat diverifikasikan.
Kekhasan dan kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku-buku yang sudah terbit sebelumnya tentang Sejarah Katolik di Indonesia adalah pendekatan yang digunakan, yaitu ‘pendekatan dari bawah’: mengutamakan orang-orang Katolik (sebagai pribadi maupun kelompok) ketimbang Gereja Katolik sebagai institusi hierarkis.
Fakta tentang kesalahan orang-orang Katolik bila diukur dengan standar ajaran dan moral Gereja (di samping prestasi, semangat juang, dedikasi, kreativitas) tidak ditutup-tutupi, perbedaan dan bahkan konflik antara Katolik dan Protestan juga tidak disembunyikan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Katolik adalah manusia biasa, yang dengan kelebihan dan kekurangannya telah berupaya memberi yang terbaik bagi bangsa ini. Disamping itu disajikan juga kerjasama di antara keduanya, kendati pada masa itu masih sangat terbatas. Ini merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi proses beroikumene.

Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman

Published by:

MISI EVANGELISASI DAN PENGHAYATAEditor : Georg Kirchberger
Jumlah halaman : 184 halaman
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Harga : Rp. 27.000

Dua tantangan utama yang dihadapi Gereja Asia, yang mencuat secara jelas dalam Sinode para Uskup tentang Asia pada tahun 1998 adalah dialog dan pembaharuan kerohanian. Gereja tidak akan berkembang apabila tetap tertutup dalam satu semangat Ghetto kaum minoritas atau terlampau terpenjara dalam struktur kelembagaan. Membantu menjawabi permasalah dan tantangan di atas, buku ini menampilkan tulisan sejumlah pakar misiologi. Mereka menulis tentang pandangan misi menurut teologi Katolik, konsep evangelisasi ketika berhadapan dengan kebenaran agama-agama, persoalan dialog antaragama, pandangan teologi Katolik tentang Islam, pergumulan tentang etika ekonomi dalam konsep Islam dan Kristen, keberpihakan terhadap kaum miskin, pengalaman Asia dalam berevangelisasi dan konsep tentang Allah yang mendorong dialog.

BERSAING ATAU BERSAHABAT? Dakwah Islam – Misi Kristen di Afrika

Published by:

Bersaing atau bersahabat - depanPengarang : Georg Kirchberger & John M. Prior
Jenis Kertas : cdIMPORT 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xx + 136 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000

Pertumbuhan agama Islam dan Kristen yang paling pesat sedang terjadi di benua Afrika. Diperkirakan bahwa dalam waktu tidak lama lagi, benua Afrika akan terbagi 50-50 di antara kedua aliran agama ini.
Apakah kebangkitan Islam dan Kristen masa kini bakal membawa damai atau konflik? Kita tahu bahwa baik Islam maupun Kristen bersifat ‘ekspansionis’ karena dua-duanya berciri dakwah/misi. Apakah tesisnya Samuel Huntingdon nanti terbukti benar, yaitu bahwa kedua agama ini dengan sendirinya mesti bertubrukan? Banyak faktor turut menentukan jawaban kita.
Sejumlah pertanyaan timbul, antara lain: Apakah orang Islam dan orang Kristen harus saling berhadapan bagai pesaing di ‘pasar agama dunia’? Atau apakah umat Kristen dan Islam, yang sama-sama mengakui Ibrahim/Abraham sebagai leluhur dalam iman, mampu hidup berdampingan bagaikan saudara, malah sebagai rekan peziarah yang bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih adil, damai dan manusiawi? Banyak pihak berpendapat bahwa orang yang sungguh realistis tahu bahwa tubrukan antara Islam dan Kristen sudah hal yang pasti, sedangkan orang yang mengidamkan penghargaan dan kolaborasi Islam-Kristen tidak lain tidak bukan orang idealis yang ‘sedang bermimpi di planet lain’.
Bagi kita di Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia dan sekaligus memiliki minoritas Kristen yang berarti (± 9%) jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini turut mengarahkan masa depan bangsa. Malah masa depan dunia bergantung padanya.

BERDIRI DI AMBANG BATAS – Pergumulan Seputar Iman dan Budaya

Published by:

Diambang Batas - depanPengarang : Dr. John M. Prior
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xxii + 232 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000

Relfeksi-refleksi dalam buku ini menyangkut hal ihwal keberalihan melintas tapal batas sosial, agama dan budaya. Tapal batas membingkai jati diri sekelompok masyarakat. Ia bisa berperan sebagai penghalang atau penghubung. Penghalang yang membeda-bedakan serta memisah-asingkan kelompoknya dari kelompok-kelompok lain, atau sebaliknya menjadi penghubung yang mengundang ‘yang lain’ untuk melintasinya, untuk datang dan mengalami horizon baru, menambah pengetahuan serta memperluas lingkup persahabatannya.
Pewarta lintas budaya mesti pertama-tama menghargai dan memajukan jati diri khas dari ‘yang lain’ itu. Perbedaan tidak boleh dihapus begitu saja dan juga tidak boleh dibekukan atau diabsolutkan. Pewarta lintas budaya mesti membuka diri pada tapal-tapal baru untuk memajukan sebuah peradaban baru, peradaban cinta. Dengan demikian jati diri lama dari kedua belah pihak melebur dalam sebuah identitas baru, identitas yang ditumbuh-kembangkan bersama. Kita sama-sama menjadi manusia lintas budaya seturut citra Allah Tritunggal.

You might also likeclose