Category Archives: Lain-lain

Manajer/Filsuf Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati

Published by:

Penulis                      : Reza A.A. Wattimena
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  150 x 230 mm
Jumlah halaman       : viii + 286hlm
ISBN                          : 978-602-1161-36-4

Manajemen, dalam arti tata kelola kerja sama antar manusia untuk mencapai satu tujuan tertentu, mungkin adalah salah satu temuan terpenting di dalam sejarah perkembangan manusia. Manajemen memungkinkan pengelolaan kerja sama antar beragam orang dengan kemampuan berbeda, guna mencapai satu tujuan yang telah disepakati. Dengan berpijak pada hal ini, manusia lalu bisa mempertahankan keberadaannya di bumi ini, walaupun diancam banyak binatang buas. Mereka juga bisa mewujudkan berbagai hal di dalam sejarahnya, mulai dari seni, budaya, filsafat, ilmu pengetahuan dan politik yang beradab.
Namun, manajemen tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari tindak berpikir manusia. Filsafat, sebagai cara berpikir rasional dan kritis untuk menjelaskan segala yang ada, memainkan peranan penting di sini. Secara harafiah, filsafat adalah pecinta kebijaksanaan. Para filsuf adalah orang yang mencari kebijaksanaan di dalam hidupnya dengan menggunakan akal budinya.
Pemahaman tentang filsafat pun berkembang menjadi penjelasan rasional, kritis dan sistematis atas segala yang ada. Filsafat menawarkan pandangan dunia yang menyeluruh untuk manusia. Filsafat juga menawarkan panduan hidup, supaya orang bisa mencapai kebahagiaan dan pencerahan. Di dalam sejarahnya, filsafat pun berkembang menjadi beragam cabang ilmu pengetahuan, sebagaimana kita kenal sekarang ini.
Manajemen sebagai ilmu adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan tersebut. Manajemen adalah tata kelola, sehingga beragam orang dengan beragam kemampuan dan motivasi bisa bekerja sama, guna mewujudkan satu tujuan tertentu. Tujuan tertentu bisa beragam pula, mulai dari sekedar berwisata keluar kota dengan segala persiapannya, sampai dengan mengelola organisasi internasional dengan ribuan tugas dan sumber daya. Manajemen tentu terus mengalami perkembangan, sejalan dengan perubahan jaman yang semakin kompleks sekarang ini.
Di dalam buku ini, saya akan berfokus pada manajemen bisnis. Walaupun begitu, beberapa bidang manajemen lainnya tentu akan dibahas, seperti yang dijelaskan oleh salah satu pemikir manajemen ternama, yakni Peter Drucker. Di dalam bisnis, tujuan utama dari manajemen adalah menata kerja sama dari beragam manusia dan sumber daya, guna mencapai keuntungan. Keuntungan ini menjadi nyawa bagi bisnis yang sedang berjalan. Namun, keuntungan ini tidak dapat dipersempit semata pada keuntungan ekonomi belaka, tetapi juga keuntungan bagi organisasi tersebut, sekaligus bagi masyarakat maupun alam yang ada di sekitarnya.
Dalam konteks ini, filsafat manajemen bisnis adalah refleksi adalah pengandaian-pengandaian di balik pola pikir dan praktik bisnis yang ada di masyarakat. Filsafat manajemen bisnis hendak melihat anggapan-anggapan yang tersembunyi di balik praktik bisnis. Semua anggapan itu dipertanyakan, diteliti lebih dalam, lalu disesuaikan dengan perubahan yang terus terjadi. Ini membuat semua praktik bisnis menjadi relevan dengan keadaan masyarakat.
Sampai Februari 2016, ini adalah buku pertama yang mengupas beragam hal terkait dengan filsafat manajemen bisnis. Buku ini tidak hanya mengupas etika bisnis, yakni diskusi kritis tentang baik dan buruk di dalam praktik bisnis, tetapi juga menyentuh inti dari praktik bisnis itu sendiri. Ia tidak hanya membahas beragam dimensi di dalam praktik manajemen bisnis, tetapi juga mengajukan arah untuk perkembangan bisnis dalam kaitannya dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Harapannya, buku ini bisa mengembangkan wacana ilmu manajemen sekaligus filsafat, terutama filsafat sosial, di Indonesia.
Buku ini penulis tujukan kepada peminat pengembangan ilmu manajemen maupun praktisi manajemen, khususnya manajemen organisasi bisnis. Buku ini juga ditujukan untuk para peminat filsafat, terutama filsafat sosial yang berupaya memahami dasar-dasar dari kehidupan bersama manusia.

Bahasa Indonesia Identitas Kita

Published by:

Penulis                       : Yohanes Orong
Cetakan 1                   : Januari 2017
ISBN                           : 978-602-1161-34-0
Penerbit                     : Penerbit Ledalero
Cet. 1                           :Januari 2017
Jumlah halaman      : x + 198 hlm,
Ukuran:                      : 155 x 225 mm

Sesuai judul, corak utama buku ini ialah pedoman bagi siapasaja yang ingin mahir berbahasa Indonesia dan menjadikannya identitas diri. Lahirnya judul, berikut artikel-artikel di dalam buku ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa sejak era Reformasi 1998, sebagaimana diulas Kompas, 29 Oktober 2016, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara makin terabaikan.
Selain karena penggunaan bahasa asing yang terus-menerus merebak ruang publik, perabaikannya bahasa Indonesia, terutama dalam lingkup akademik, disebabkan oleh (beberapa di antaranya) tidak perdulinya pengguna bahasa Indonesia terhadap tuntutan gramatikal agar bahasa digunakan secara baik dan benar, minimnya pengetahuan kompetensi dasar bahasa Indonesia dari penggunapenggunannya, dan hilangnya rasa bangga orang Indonesia terhadap bahasa Indonesia.
Di bawah judul “Menduakan Bahasa Sendiri”, Gufran A. Ibrahim (Kompas, 29 Oktober 2016) dengan amat bangga menyebut bahasa Indonesia sebagai “anugerah bahasa” luar biasa bagi bangsa. Menurut Gufran Ibrahim ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bukan sekadar peristiwa linguistik, suatu peristiwa di mana sekelompok orang bersepakat menggunakan bahasa bersama. Para pemuda yang melantangkan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 silam “menyiapkan titik berangkat yang memandu penghormatan atas kebhinekaan, dengan meletakkan “bahasa kami”, bahasa daerah, yang ratusan jumlahnya itu ke dalam kerangka “bahasa kita”, bahasa Indonesia, sebagai titik-jumpanya.” Pilihan ini, lanjut Gufran adalah ikhtiar profetik yang tidak saja mengkhidmati kitaran historis saat itu, tetapi juga terbukti di kemudian hari merupakan upaya perenial yang melampaui zamannya. Bukti nyata dari upaya profetik-profetik itu adalah, kini, Indonesia yang berjumpa, bercakap, memajukan diri, dan terus mengelola kebinekaan dengan menggunakan satu bahasa kita: bahasa Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak lagi terbilang muda, sejak peristiwa Sumpah Pemuda 1928 bahasa Indonesia telah mengalami pencanggihan gramatika yang luar biasa melalui kuasa semantic (semantic power) pemakainya.
Diakui Gufran “Ilmuwan dan kaum cendikia telah membikin bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu melalui reka-cipta kosakata dan pencanggihan wacana ilmiah. Di tangan pakar dan cendikia, bahasa Indonesia menjadi penghela ilmu. Teknokrat, negarawan, dan politisi telah membawa bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi dalam menumbuhkan demokrasi. Sastrawan telah dengan hebatnya mengkreasi, mengeksplorasi, menawarkan cara “pengucapan” baru yang tidak saja semakin memperkaya kosakata, tetapi juga tak hentinya menyodorkan keluhungan gaya dan laras estetiknya. Wartawan dengan gaya pewartaannya, tidak saja memberi kabar pada khalayak, tidak saja menggunakan kata dan kalimat, tetapi lebih dari itu telah menemukan kata-kata baru, menemukan laras baru dan semakin baru dalam kecanggihan pewartaannya. Wartawan telah menghidupkan kata-kata yang nyaris “mati” dalam lembaran kamus, mengeksplorasi kata-kata baru, bahkan membikin idioma-idioma baru yang sebelumnya tak terbayangkan dalam kesederhanaan bahasa Indonesia. Dengan amat sengaja sebagian artikel Gufran A. Ibrahim tersebut di atas dikutip utuh agar imbauannya untuk tidak menduakan bahasa
sendiri mendapatkan gambaran memadai dan pembaca berikhtiar untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia. Secara khusus kaum akademisi dalam setiap lingkungan perguruan tinggi menjadi pihak paling pertama dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam rangka itu melampaui sekadar soal tatabahasa, bidang bahasa Indonesia bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi, sebagaimana dikatakan Gorys Keraf (Keraf: 2004) lebih merupakan sebuah mata kuliah kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa bagi dosen dan mahasiswa dapat dilihat sebagai “conditio sine qua non” (syarat mutlak) bagi upaya mempelajari ilmu pengetahuan.
Atas dasar itu, maka orientasi pelajaran bahasa Indonesia di dalam buku ini terarah pada pencapaian kompetensi-kompetensi dasar berikut. Pertama, pencapaian kemahiran berbahasa (Indonesia), baik lisan, maupun tulis. Konstruksi bahasa lisan sedikit banyak tentu berbeda dengan bahasa tulis. Orang tidak harus dituntut untuk berbicara secara teratur dan sistematis; sebagaimana biasanya terdapat dalam bahasa tulisan. Namun, kemahiran berbahasa secara
lisan sebenarnya setali tiga uang dengan hal yang mesti dimiliki oleh seseorang pada saat dia menulis. Kedua, jika kemahiran berbahasa telah tercapai, dosen dan mahasiswa pada akhirnya mesti mempelajari bahasa sebagai sebuah bidang kajian filsafat, yakni sebuah bidang yang secara umum dikenal sebagai ilmu kebahasaan atau Linguistik. Atas dasar itu, mata kuliah ini dapat merupakan sedikit pengenalan awal akan ilmu kebahasaan. Ketiga, ketika pertentangan antara mayoritas dan minoritas tidak bisa disembunyikan, bahasa Indonesia akan senantiasa menjadi identitas bersama yang keberadaannya melampaui kategori pemisah apa pun. Atas dasar itu, nilai persatuan, sebagaimana termaktup dalam judul buku ini, yaitu “Bahasa Indonesia Identitas Kita” hendaknya menjadi warna dasar perjalanan bangsa Indonesia.

DIPANGGIL UNTUK KEMERDEKAAN

Published by:

DIPANGGIL UNTUK KEMERDEKAAN sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja apalagi wajah bukunya mengundang orang tertarik untuk mau membacanya. Isi buku ini sangat penting dan bermanfaat bagi setiap warga gereja dan pemimpin gerejagereja bahwa perubahan pola pikir, pola tindak, pola layanan merupakan tuntutan perkembangan pada masa sekarang dan masa yang akan datang.Buku kecil ini sebenarnya sangat kaya dengan tema-tema yang relevan dengan gereja masa kini.
Gereja dan para pelayannya mesti ingat bahwa menjadi gereja dan menjadi pelayan gereja berarti terpanggil untuk menghidupi komitmen yang radikal. Menjadi gereja dan pelayan gereja berarti tidak hidup bagi diri sendiri. Gereja
dan para pelayan gereja adalah komunitas dan individu yang Allah panggi untuk memberikan diri bagi kebaikan dunia.
Gereja sebagai persekutuan tidak boleh melayani dirinya sendiri. Para pendeta tidak boleh menggunakan kekuasaan pelayanan gereja untuk kepentingan mereka. Seluruh fasilitas dan potensi yang ada dalam diri gereja sebagai persekutuan dan dalam diri para pendeta sebagai individu mestinya diarahkan bagi keselamatan dunia dan manusia, di mana gereja dan pendeta melayani.

MGR. PETRUS NOYEN, SVD – Perintis Misi SVD di Indonesia

Published by:

Pengarang : Alex Beding
Penerbit : Ledalero
ISBN : 978-602-1161-25-8
Terbit : Agustus 2016
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Jumlah hlm. : 140 halaman
Harga : Rp. 40.000

Kisah para Rasul bab 2 ayat 9-11, adalah sebenarnya pembukaan kisah awal sejarah penyebaran Kabar Gembira Yesus Kristus untuk seluruh jagat. Bukan kebetulan peristiwa Pentekosta yang menggemparkan itu langsung disaksikan dan  didengar sendiri oleh sejumlah besar bangsa-bangsa Asia, orang-orang  dari Roma dan Afrika utara… yang hadir di Yerusalem. Mereka memberi kesaksian: “kami mendengar mereka (Rasul-rasul) berbicara dalam bahasa kita tentang perbuatan-perbuatan ajaib  yang  dilakukan  Allah”. Dan mereka semua yang menjadi saksi mata itu telah menjadi misionaris-misionaris pertama.  Mereka  telah  membuka jaringan penyebaran dengan menceriterakan peristiwa Pentekosta itu ke mana- mana hingga ke Asia Timur. Selama 20  abad  kemudian  setelah mendengar  pewartaan para misionaris kepada semua bangsa di seluruh dunia, orang- orang boleh mengulangi kata-kata yang sama di atas: … “kami mendengar mereka (misionaris-misionaris berbicara dalam bahasa kami tentang perbuatan- perbuatan ajaib yang dilakukan  Allah!” Itulah keajaiban Misi Yesus.

Semangat penyebaran Kabar Baik ini telah memberi inspirasi kepada imam Arnoldus Janssen untuk mendirikan Serikat Sabda Allah pada 1875  di Steyl, Belanda untuk menyediakan pasukan-pasukan misionaris yang akan diutus ke seluruh dunia. Sebelum akhir abad 19 dia sudah mulai mengirim  anggota- anggotanya pertama  ke  Cina.  Dan Cina  terus menarik minat.  Buku kecil ini  memberikan satu gambaran tentang salah seorang yang sejak kecil sudah menaruh hati untuk pergi ke Cina membawa Kabar Gembira Yesus  Kristus, ialah Petrus Noyen, misionaris dari Serikat Sabda Allah.

Dalam sketsa singkat ini kita coba mengenal P. Noyen sebagai seorang  yang  berpengalaman  dan  mempunyai bakat sebagai organisator yang pandai berintegrasi dengan orang-orang di sekitarnya dan merancang suatu karya besar untuk  membuat  orang-orang itu  bahagia dan  sejahtera sesuai dengan ajaran Injil. Dengan mengelola pendidikan di sekolah-sekolah Katolik P. Noyen meletakkan dasar untuk karya Misi yakni membangun manusia bermutu dan beriman yang utuh, beradab dan bermartabat “yang mengasihi Allah di atas segala-galanya,  dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.”

Didorong oleh cinta akan tugas missioner dan semangat berkorban Mgr.  Noyen  telah menjadi teladan yang mengobarkan hati banyak pemuda dan pemudi untuk menjadi  misionaris  dalam  serikat-serikat religius  yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen yang hingga saat ini bekerja di Indonesia. Dan jika pada tahun 2013 para putera-puteri Santo Arnoldus Janssen memperingati masa bakti selama seratus tahun di Indonesia, maka sudah pada tempatnya kita semua bergabung dalam madah syukur dan pujian kepada Allah yang telah memberkati dengan limpah karya pelayanan yang tulus dalam kebun anggur- Nya di Indonesia yang dirintis oleh Mgr. Petrus Noyen SVD. Sudah puluhan tahun bangsa yang mendiami kepulauan yang indah ini telah mendengar misionaris-misionaris berbicara dalam bahasa mereka tentang perbuatan-perbuatan  ajaib Allah!

Ilmu Perbandingan Agama

Published by:

ilmu-perbandingan-agama-2-previewPenulis : Dr. Philipus Tule
Cetakan 1 : September 2016
Terbitan :Penerbit Ledalero
Ketebalan : viii + 146 hlm
Ukuran Buku : 140 x 210 mm
Harga : Rp. 45.000
Bagi sebagian besar individu dan umat, agama itu diterima dari orangtua atau pun nenek moyang sebagai warisan, tanpa kesadaran dan kebebasan untuk memilihnya. Bagi sebagian lain, khususnya di kalangan masyarakat modern, agama dibiarkan untuk dipilih dan dianut secara bebas oleh setiap individu yang dewasa. Oleh karena itu, setiap individu dibiarkan hingga masa dewasa untuk memilih agama yang tepat sesuai pilihan dan keputusan pribadi yang bebas. Terlepas dari dampak positif dan negatif tindakan individu memilih sebuah agama, kenyataan membuktikan bahwa dewasa ini penghayatan serta masalah agama sangat banyak dialami dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam surat kabar, radio dan televisi, dalam konperensi, musyarawarah dan seminar. Ketiga hal berikut dapat diidentifikasi sebagai sebab agama mendominasi kehidupan manusia dewasa ini.
1) Sebab yang azasi adalah bahwa agama itu bukanlah perkara sederhana, tapi merupakan dasar hidup manusia dan masyarakat seutuhnya. Agama itu mencakupi semua hal ikhwal kehidupan manusia: sikap dan pandangan hidup tentang ‘Yang Ilahi’ dan ‘yang duniawi’. Dalam agama segala dasar kehidupan manusia yang pribadi dan sosial terpadu menjadi satu.
2) Sebab yang khusus adalah bahwa dunia umumnya dan bangsa Indonesia khususnya semakin sering menyaksikan dan mengalami kegoncangan dan tantangan terhadap kehidupan bermasyarakat yang aman, sejahtera, damai, sentosa, rukun dan harmonis sebagai akibat dari pemahaman dan penghayatan agama yang keliru.
3) Sebab yang lain adalah bahwa ada pandangan atau paham ekstrim dari segelintir penganut agama dan anggota kelompok etnis tertentu yang semakin mewarnai dunia dewasa ini. Benturan dan bahkan konflik antaragama dan antarbudaya semakin menggejala sebagaimana nampak dalam: – cara hidup lama yang berhadapan dengan cara hidup baru; – cara pandang agama berhadapan dengan cara pandang adat / kebudayaan ; – cara hidup feodal berhadapan dengan cara hidup demokratis; – cara hidup masyarakat yang eksklusif dengan yang inklusif; – cara pandang etnocentris (ke-Jawaan, ke-Floresan, ke- Katolikan, ke-Islaman, ke-Hinduan, dll) berhadapan dengan cara pandang pluralis yang menjunjung tinggi kemajemukan yang harmonis.
Searah dengan tendensi dunia yang mulai menggugat isolasi dan kefanatikan dalam agama, etnisitas dan kebudayaan untuk mengusahakan pembaruan, kita pun mempelajari Ilmu Perbandingan Agama (sejarah nama dan perkembangannya) demi tujuan formasi, transformasi ataupun reformasi (revolusi) sikap iman. Karena seperti pepatah Inggeris mengatakan: “Revolution rejects yesterday and builds up tomorrow”

KEKRISTENAN: SEBUAH IKHTISAR

Published by:

kekristenanJudul: KEKRISTENAN: SEBUAH IKHTISAR
Tahun: September 2014
Penulis: Leonardo Boff
Harga: Rp. 42.000
Tebal: xii + 202 hlm.
Ukuran: 140mm x 210mm
Kertas isi: HVS 60 gr
Kertas Cover: Ivory 230gr, doft laminating
ISBN: 978-602-1161-02-9

Dalam lebih dari 2000 tahun sejarahnya Kekristenan telah menjadi sangat rumit dengan aneka doktrin, sistem teologis, kode etik, ritus dan upacara serta pelbagai aturan kanonis dan hierarkis.

Umat Kristen kebanyakan dan bahkan komunitas teologi menghadapi suatu kesulitan khusus ketika berupaya mengidentifikasi benang merah yang mengaitkan dan menyambung kembali secara selaras butir-butir utama iman dan membangun sebuah hierarki di dalam kebenaran.

Setelah 50 tahun keterlibatan intensif yang berkesinambungan dalam refleksi teologis, Boff memberanikan diri bertualang, sebagai semacam persembahan terakhir, untuk mencoba merumuskan “yang minimum dari yang minimum,” atau mengenali “yang maksimum dari yang minimum” dari Kekristenan, dengan suatu cara yang dapat dipahami oleh orang-orang yang menunjukkan keterpesonaan dan ketertarikan tertentu kepada amanat Kristen.

Ia mencoba mengungkapkan apa yang akan ia katakan dalam cara pandang kontemporer seperti yang disajikan kepada kita oleh bumi dan ilmu-ilmu hayat. Itu berarti memahami kosmos dalam evolusi dan ekspansinya, dan bagi orang beriman, dengan ditopang oleh daya cipta Allah yang berkesinambungan. Dari alam semesta ini muncul secara bertahap banyak fenomena semisal artikulasi samar-samar energi kosmis yang mengatur jalannya benda-benda angkasa, kompleksitas tatanan yang kian berkembang dan pada akhirnya menyeruaknya kehidupan dan kesadaran, dan dewasa ini penyatuan spesies manusia melalui proses globalisasi.

Yesus dari Nazaret itu sendiri, inkarnasi Sang Putra, tiadaklah asing lagi dengan proses ini, lantaran Ia pun adalah buah dari perlintasan panjang dan menyakitkan pendakian dan pembatinan yang telah diberi andil oleh semua elemen, energi kosmis serta serba kekuatan yang menghasilkan umat manusia.

MEMAHAMI IMAN DALAM DUNIA SEKULER

Published by:

memahamiimanJudul : MEMAHAMI IMAN DALAM DUNIA SEKULER
Tahun : Mei 2014
Penulis : Georg Kirchberger
Harga : Rp. 30.000
Tebal : 198 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-01-2

Dalam teologinya, Edward Schillebeeckx berusaha memberikan suatu jawaban iman atas pertanyaan yang muncul dari sikap dan cara berpikir modern dan sekuler. Ia mengusahakan suatu inkulturasi teologi ke dalam budaya modern. Ia yakin bahwa banyak orang modern menolak atau tidak memperhatikan injil dan warta Yesus Kristus, bukan karena mereka berkeberatan terhadap inti warta itu, melainkan karena cara Gereja mewartakan injil dan bahwa penjelasan teologi, selain tidak bisa dimengerti secara tepat, juga tidak sesuai dengan cara mereka berpikir.

Upaya untuk menginkulturasikan warta injil, yakni menciptakan suatu teologi yang bisa menjelaskan isi iman kristiani dengan gaya budaya yang dihayati oleh umat beriman di Indonesia, merupakan kebutuhan yang seringkali dibicarakan. Namun sering kali orang memahami inkulturasi sebagai usaha berbicara dengan bahasa budaya tradisional. Ini tidak salah; karena tradisi budaya yang dimiliki umat beriman di Indonesia itu kaya dan penuh arti.

Tradisi itu perlu mendapat perhatian. Akan tetapi kita mesti perhatikan juga bahwa dewasa ini berkembang suatu budaya „asli dan khas“ Indonesia yang dipengaruhi oleh banyak faktor dan arus budaya yang bersama-sama membentuk budaya yang dimiliki umat kristiani di Indonesia.

SOSIOLOGI

Published by:

sosiologiJudul: SOSIOLOGI (cet.ke 3)
Tahun: Desember 2014
Penulis: Bernard Raho
Harga: Rp. 65.000
Tebal: viii + 362 hlm.
Ukuran: 140mm x 210mm
Kertas isi: HVS 60 gr
Kertas Cover: Ivory 230gr, doft laminating
ISBN: 978-979-9447-79-8

Apakah Sosiologi itu? George Ritzer menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan berparadigma ganda. Paradigma adalah pokok persoalan yang menjadi obyek studi sebuah ilmu pengetahuan. Menurut George Ritzer, ada tiga pokok persoalan yang menjadi obyek kajian sosiologi yakni fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial. Teori-teori yang dibangun oleh sosiologi bisa diletakan di bawah tiga paradigma tersebut.

Buku ini memperkenalkan sosiologi sebagai satu studi ilmiah yang mendiskusikan pengertian sosiologi, sejarah perkembangan sosiologi, metode-metode penelitian di dalam sosiologi, paradigma dan teori-teori sosiologi, serta konsep-konsep penting lain yang berkaitan dengan sosiologi. Selanjutnya buku ini membahas beberapa fakta sosial seperti kebudayaan dan masyarakat, kekuasaan dan kepincangan sosial, institusi-institusi sosial, perubahan sosial dan kehidupan modern.

SCINTILLA CONSCIENTIAE – LETUPAN NURANI

Published by:

letupan nuraniJudul: SCINTILLA CONSCIENTIAE – LETUPAN NURANI
Tahun: November 2014
Penulis: Richard Muga Buku
Harga: Rp. 52.000
Tebal: xii + 332 hlm.
Ukuran: 140mm x 210mm
Kertas isi: HVS 60 gr
Kertas Cover: Ivory 230gr, doft laminating
ISBN: 978-602-1161-00-5

Kata scintilla conscientiae dimaknai sebagai letupan nurani. Buku ini merupakan tanggapan atau letupan nurani penulis terhadap realitas sosial politik yang dialami rakyat Indonesia pada umumnya dan masyarakat NTT pada khususnya.

Santo Thomas Aquinas, salah satu pemikir penting Abad Pertengahan menegaskan bahwa hatinurani itu tidak pernah padam, termasuk dalam diri para penjahat yang paling jahat sekalipun. Maka tugas kita adalah bagaimana berusaha untuk selalu menyentak nurani sendiri dan nurani orang lain. Menyentak nurani sama artinya dengan selalu berpaling kepada kebaikan, karena memang hati nuarani adalah instansi dalam diri setiap orang yang selalu mendorong melakukan kebaikan dan mengelahkan yang jahat. Dengan terus meletupkan nurani, semakin juga nurani kita terjaga dan terawat.

Hati adalah pusat kesadaran moral. Di sana berdiam Dia yang senantiasa berharap agar kita hidup dengan baik dan benar seturut kehendakNya. Pada esensinya menelengkan diri pada bisikan hati nurani tidak lain dari menguping suara Tuhan sendiri. ”Hati nurani adalah inti yang paling rahasia dan tempat suci manusia. Di sana ia berada sendirian dengan Allah, suara Siapa   bergema di dalam lubuk hatinya”, demikian pengakuan Bapa-Bapa Konsili Vatikan II sebagaimana diungkapkan dalam Gaudium et spes. Baik juga kalau kita mengaku seperti Daoed Joesoef, ”karena itu saya berani membantah nalar saya, tapi tidak berani membantah nurani saya” (Dia dan Aku. Memoar Pencari kebenaran).

You might also likeclose