Category Archives: Pastoral

Gereja mandiri, solider dan membebaskan Rencana Strategis Pastoral Keuskupan Sibolga 2016-2020

Published by:

Editor                         : Hubert Thomas Hasulie
Cetakan 1                   : Februari 2017- Penerbit Ledalero
Ukuran                       :  160 x 240 mm
Jumlah halaman      : x + 304 hlm
ISBN                          : 978-602-1161-35-7

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam dua tahun pemerintahannya menunjukkan bahwa beliau sungguh peduli akan pendidikan, kesehatan dan pangan. Iapeduli kesejahteraan rakyat. Ia bekerja keras, jauh dari KKN. Bahkan beberapa bulan terakhir di paruh kedua tahun 2016, beliau langsung membagikan susu dan makanan bergizi bagi balita agar sehat dan pintarlah generasi mendatang.

Apa yang dicanangkan dan apa yang dikerjakan Sang Presiden, membuat warga Indonesia senang, bahagia. Mereka sungguh merasakan bahwa “oh… inilah Presiden yang telah menjalankan amanat penderitaan rakyat, ia sungguh menjalankan konstitusi Negara Republik Indonesia ini. Ia bukan hanya sebagai Presiden… roh seorang ‘Bapak’ nan peduli amat dialami”. Melalui kehadiran di tengah warga, melalui kerja nyata, orang menjadi yakin bahwa beliau sungguh Presiden dan Bapak.

Sinode II diadakan dengan tujuan untuk mengevaluasi seluruh dinamika karya pastoral dengan segala dimensinya dan rembuk bersama atas apa saja yang perlu dibenahi dan dikerjakan lagi pada masa lima tahun mendatang. Di dalam evaluasi kita tidak hanya melihat segala kekurangan, segala kegagalan dari apa yang kita kerjakan, tetapi juga melihat apa-apa saja yang sudah cukup berhasil kita kerjakan yang sekaligus membangkitkan harapan untuk melanjutkannya di masa mendatang. Kita tidak hanya melihat pengaruh-pengaruh entah posisif maupun negative dari dunia interen gerejani, tetapi juga segala pengaruh baik dan buruk dari dunia yang lebih luas. Dan sejalan dengan metodologi perjuangan yang kita anut, maka titik utama yang paling disorot adalah: apakah Kerajaan Allah terutama Pewartaan Yesus dan Pewartaan Gereja Universal makin dialami, makin berakar dan mekar di Keuskupan Sibolga?

Yesus sendiri mengatakan: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab ANTUK ITULAH Aku diutus” (Luk. 4:43). Dari evaluasi berjenjang yang dilakukan mulai dari basis, paroki dan tingkat keuskupan, Nampak bahwa apa yang kita kerjakan selama lima tahun silam, dengan segala warna-warninya, toh tidak jauh dari Kerajaan Allah. Data memperlihatkan bahwa animo kerja seluruh petugas pastoral yang selalu mengadakan pemberdayaan di tengah-tengah umat basis (lingkungan, stasi) makin tinggi. Maka saya boleh terjemahkan pengalaman ini sebagai Hati Umat Allah Keuskupan Sibolga yang berjuang secara konkrit menghadirkan HATI dan PERJUANGAN YESUS di tengah-tengah umat dan warga secara keseluruhan. Roh itu merasuk dan menguasai hati, pikiran, budi dan kehendak banyak orang untuk bekerja sesuai dengan Perjuangan Yesus yang kita terjemahkan melalui Visi dan Misi gereja lokal Keuskupan Sibolga.

Buku RSPKS Hasil Sinode II ini terdiri dari 3 bagian besar, diawali dengan Kerangka Dasar Pastoral Keuskupan Sibolga dan prolog yang menguraikan tentang metodologi kerja pastoral Keuskupan Sibolga. Bagian pertama menggambarkan Konteks Pastoral Keuskupan Sibolga mulai dari konteks historis global menuju konteks lokal. Kemudian paparan menukik pada hasil Evaluasi Pastoral 5 tahunan yakni berupa pencapaian dan kegagalan yang telah terjadi dalam kerja di lapangan selama lima tahun silam serta pembelajaran untuk meningkatkan mutu pastoral ke depan. Tantangan-tantangan pastoral yang diperoleh dari analisis sosial berjenjang mulai dari tingkat KBG, paroki dan keuskupan menjadi penutup bagian pertama ini. Bagian kedua berisi dokumentasi Refleksi Biblis yang dilakukan dalam Sinode II. Bagian ketiga berisi Tanggapan Pastoral, terdiri dari dua bagian: pertama, Matriks Program yang memuat masalah pokok yang ditetapkan oleh Sinode II, sebab-sebab kuncinya, tujuan jangka panjang (disertai indikator-indikator), sasaran jangka pendek (disertai indikator-indikator) serta kegiatan-kegiatan yang akan dikerjakan selama lima tahun mendatang demi meraih tujuan dan sasaran yang ada. Kedua, Matriks Kegiatan yang merupakan rincian kegiatan-kegiatan pokok yang mesti dijalankan selama lima tahun mendatang. Rincian tersebut mencakup kelompok sasaran, penanggungjawab, tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rentang lima tahun mendatang. Semoga buku ini dapat menjadi pegangan di tangan untuk mengimplementasikan dan menterjemahkan secara lebih konkrit lagi di tengah umat basis jawaban atau tanggapan pastoral kontekstual sesuai dengan visi dan Misi Keuskupan Sibolga.

Sejarah Keuskupan Larantuka

Published by:

Penulis           : Eduard Jebarus, Pr

Penerbit         : Ledalero
Cetakan 1       : Agustus 2017
ISBN               : 978-602-1161-41-8
Ukuran           : 170mm  x 240 mm
Jumlah hlm. : xxvi + 494 hlm

Penulisan Sejarah Keuskupan Larantuka merupakan sebuah upaya penting dan berharga, yang patut diapresiasi dan disyukuri. Ada banyak peristiwa dan kejadian, termasuk orang-orang, yang telah membentuk sejarah itu. Sayang kalau semua itu dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa dicatat atau dibukukan.

Buku Sejarah Keuskupan ini dimaksudkan agar kita boleh mengenal dan mencintai Keuskupan Larantuka, serta belajar dari sejarah itu, sebab sejarah membawa banyak pesan berharga bagi manusia dari generasi ke generasi. Semoga generasi muda semakin mengenal sejarah keuskupannya, mencintai dan mengambil hikmahnya.
Sebagai sebuah buku sejarah buku ini ditujukan terutama untuk lingkup sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Untuk itu, penulis menggunakan banyak judul bawahan, serta “butir” dan “angka” (istilah komputer, bullets dan numbering). Mudah-mudahan dengan cara ini pembaca dibantu untuk menyoroti tema-tema tertentu, menangkap urutannya dan mudah untuk mengungkapkannya kembali. Gaya penulisan Eduardus Jebarus yang khas ini, diharapkan bisa membantu para pembaca umum mengetahui perjalanan sejarah Keuskupan Larantuka.
Pada bagian awal buku ini, berisikan “Ikhtisar Kronologis” dengan maksud agar para pembaca mempunyai gambaran singkat-menyeluruh mengenai sejarah Keuskupan Larantuka sampai dengan tahun 2015.
Di dalam Bab 1, penulis membuka pembicaraan dengan mengisahkan “Jejak Kekatolikan di Sumatera” dengan maksud menempatkan sejarah Keuskupan Larantuka dalam konteks sejarah Gereja Katolik di Indonesia sejak abad ke-7. Di dalam bab ini juga dibicarakan tentang “Tuan Ma” sebagai peristiwa iman khas Larantuka sebelum misionaris Portugis berkarya di wilayah ini.
Periodisasi atau pembabakan selanjutnya sebenarnya diangkat dari “bahasa sehari-sehari”, yakni dari kejadian-kejadian dalam sejarah Keuskupan Larantuka, yang terdiri atas tiga periode misi (Dominikan, Yesuit, dan SVD) dan empat periode masa tugas empat uskup di Larantuka (Mgr. Gabriel Manek, SVD, Mgr. Antonius Thijssen, SVD, Mgr. Darius Nggawa, SVD, dan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr). Pembabakan besar seperti ini bisa saja mengandung “penyimpangan” misalnya, karya dua imam projo selama empat tahun (1860 – 1863) pada awal Misi Larantuka dimasukkan ke dalam periode Misi Yesuit (Bab 3). Untuk mengedepankan kekhususan dua imam projo itu, dalam buku ini disajikan satu topik tersendiri perihal mereka sebelum berbicara tentang karya para misionaris Yesuit. Selanjutnya, penulis memberi isi yang lebih luas pada masing-masing periode yang diperoleh dengan menelusuri dan menjelajahi berbagai buku, majalah, manuskrip, dokumen dan arsip serta bertanya pada banyak nara sumber. Buku ini patut dibaca oleh semua orang dalam semua lapisan masyarakat teristimewa umat keuskupan Larantuka.

Ilmu Perbandingan Agama

Published by:

ilmu-perbandingan-agama-2-previewPenulis : Dr. Philipus Tule
Cetakan 1 : September 2016
Terbitan :Penerbit Ledalero
Ketebalan : viii + 146 hlm
Ukuran Buku : 140 x 210 mm
Harga : Rp. 45.000
Bagi sebagian besar individu dan umat, agama itu diterima dari orangtua atau pun nenek moyang sebagai warisan, tanpa kesadaran dan kebebasan untuk memilihnya. Bagi sebagian lain, khususnya di kalangan masyarakat modern, agama dibiarkan untuk dipilih dan dianut secara bebas oleh setiap individu yang dewasa. Oleh karena itu, setiap individu dibiarkan hingga masa dewasa untuk memilih agama yang tepat sesuai pilihan dan keputusan pribadi yang bebas. Terlepas dari dampak positif dan negatif tindakan individu memilih sebuah agama, kenyataan membuktikan bahwa dewasa ini penghayatan serta masalah agama sangat banyak dialami dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam surat kabar, radio dan televisi, dalam konperensi, musyarawarah dan seminar. Ketiga hal berikut dapat diidentifikasi sebagai sebab agama mendominasi kehidupan manusia dewasa ini.
1) Sebab yang azasi adalah bahwa agama itu bukanlah perkara sederhana, tapi merupakan dasar hidup manusia dan masyarakat seutuhnya. Agama itu mencakupi semua hal ikhwal kehidupan manusia: sikap dan pandangan hidup tentang ‘Yang Ilahi’ dan ‘yang duniawi’. Dalam agama segala dasar kehidupan manusia yang pribadi dan sosial terpadu menjadi satu.
2) Sebab yang khusus adalah bahwa dunia umumnya dan bangsa Indonesia khususnya semakin sering menyaksikan dan mengalami kegoncangan dan tantangan terhadap kehidupan bermasyarakat yang aman, sejahtera, damai, sentosa, rukun dan harmonis sebagai akibat dari pemahaman dan penghayatan agama yang keliru.
3) Sebab yang lain adalah bahwa ada pandangan atau paham ekstrim dari segelintir penganut agama dan anggota kelompok etnis tertentu yang semakin mewarnai dunia dewasa ini. Benturan dan bahkan konflik antaragama dan antarbudaya semakin menggejala sebagaimana nampak dalam: – cara hidup lama yang berhadapan dengan cara hidup baru; – cara pandang agama berhadapan dengan cara pandang adat / kebudayaan ; – cara hidup feodal berhadapan dengan cara hidup demokratis; – cara hidup masyarakat yang eksklusif dengan yang inklusif; – cara pandang etnocentris (ke-Jawaan, ke-Floresan, ke- Katolikan, ke-Islaman, ke-Hinduan, dll) berhadapan dengan cara pandang pluralis yang menjunjung tinggi kemajemukan yang harmonis.
Searah dengan tendensi dunia yang mulai menggugat isolasi dan kefanatikan dalam agama, etnisitas dan kebudayaan untuk mengusahakan pembaruan, kita pun mempelajari Ilmu Perbandingan Agama (sejarah nama dan perkembangannya) demi tujuan formasi, transformasi ataupun reformasi (revolusi) sikap iman. Karena seperti pepatah Inggeris mengatakan: “Revolution rejects yesterday and builds up tomorrow”

Mengapa Gereja (Harus) Tolak Tambang – Sebuah tinjauan etis, filosofis dan teologis atas korporasi tambang

Published by:

Mengapa Gereja Tolak TambangJuli 2015
Penulis : Beni Denar
Harga : Rp. 65.000
Tebal : xxii + 358 hlm.
Ukuran : 120mm x 190mm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-602-1161-13-0
Reformasi yang diperjuangkan dengan susah payah dari tangan rezim totaliter Suharto seharusnya sudah cukup tua untuk mengubah tatanan politik dan ekonomi negara ini ke arah yang lebih baik. Namun kenyataannya negeri ini semakin dirusakkan oleh berbagai krisis yang menderanya, seperti krisis kepercayaan, krisis moral, krisis kepemimpinan, krisis demokrasi, krisis lingkungan hidup dan deretan krisis lainnya. Sebagai contoh, Otonomi Daerah yang merupakan salah satu tujuan utama dari agenda reformasi tahun 1998 ternyata tidak semanis yang dicita-citakan. Sebab sistem Otonomi Daerah telah turut serta membawa bias-bias destruktif yang cukup meresahkan masyarakat lokal. Selain memunculkan ladang baru terjadinya KKN, Otonomi Daerah ternyata melahirkan persoalan serius terkait pilihan kebijakan politik pembangunan daerah.
Buku ini secara khusus akan melacak mafia pertambangan sebagai bagian dari arus besar kapitalisme neoliberal. Refleksi tentang keterlibatan Gereja dalam arus besar sistem ekonomi yang berwatak liberal dan eksploitatif itu akan menjadi perhatian kunci buku ini. Keterlibatan Gereja berdasarkan pertimbangan etis, filosofis dan teologis akan mengarah kepada opsi untuk lebih mengabdi kepada kemanusiaan yang sesunggguhnya, dan terutama dengan menerapkan model pembangunan berkelanjutan.

BERSAING ATAU BERSAHABAT? Dakwah Islam – Misi Kristen di Afrika

Published by:

Bersaing atau bersahabat - depanPengarang : Georg Kirchberger & John M. Prior
Jenis Kertas : cdIMPORT 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xx + 136 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000

Pertumbuhan agama Islam dan Kristen yang paling pesat sedang terjadi di benua Afrika. Diperkirakan bahwa dalam waktu tidak lama lagi, benua Afrika akan terbagi 50-50 di antara kedua aliran agama ini.
Apakah kebangkitan Islam dan Kristen masa kini bakal membawa damai atau konflik? Kita tahu bahwa baik Islam maupun Kristen bersifat ‘ekspansionis’ karena dua-duanya berciri dakwah/misi. Apakah tesisnya Samuel Huntingdon nanti terbukti benar, yaitu bahwa kedua agama ini dengan sendirinya mesti bertubrukan? Banyak faktor turut menentukan jawaban kita.
Sejumlah pertanyaan timbul, antara lain: Apakah orang Islam dan orang Kristen harus saling berhadapan bagai pesaing di ‘pasar agama dunia’? Atau apakah umat Kristen dan Islam, yang sama-sama mengakui Ibrahim/Abraham sebagai leluhur dalam iman, mampu hidup berdampingan bagaikan saudara, malah sebagai rekan peziarah yang bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih adil, damai dan manusiawi? Banyak pihak berpendapat bahwa orang yang sungguh realistis tahu bahwa tubrukan antara Islam dan Kristen sudah hal yang pasti, sedangkan orang yang mengidamkan penghargaan dan kolaborasi Islam-Kristen tidak lain tidak bukan orang idealis yang ‘sedang bermimpi di planet lain’.
Bagi kita di Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia dan sekaligus memiliki minoritas Kristen yang berarti (± 9%) jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini turut mengarahkan masa depan bangsa. Malah masa depan dunia bergantung padanya.

BERDIRI DI AMBANG BATAS – Pergumulan Seputar Iman dan Budaya

Published by:

Diambang Batas - depanPengarang : Dr. John M. Prior
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xxii + 232 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000

Relfeksi-refleksi dalam buku ini menyangkut hal ihwal keberalihan melintas tapal batas sosial, agama dan budaya. Tapal batas membingkai jati diri sekelompok masyarakat. Ia bisa berperan sebagai penghalang atau penghubung. Penghalang yang membeda-bedakan serta memisah-asingkan kelompoknya dari kelompok-kelompok lain, atau sebaliknya menjadi penghubung yang mengundang ‘yang lain’ untuk melintasinya, untuk datang dan mengalami horizon baru, menambah pengetahuan serta memperluas lingkup persahabatannya.
Pewarta lintas budaya mesti pertama-tama menghargai dan memajukan jati diri khas dari ‘yang lain’ itu. Perbedaan tidak boleh dihapus begitu saja dan juga tidak boleh dibekukan atau diabsolutkan. Pewarta lintas budaya mesti membuka diri pada tapal-tapal baru untuk memajukan sebuah peradaban baru, peradaban cinta. Dengan demikian jati diri lama dari kedua belah pihak melebur dalam sebuah identitas baru, identitas yang ditumbuh-kembangkan bersama. Kita sama-sama menjadi manusia lintas budaya seturut citra Allah Tritunggal.

DI TEBING WAKTU – Dimensi Sosio Politis Perayaan Kristen

Published by:

PengaraDi Tebing Waktu - depanng : Dr. Paul Budi Kleden
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xx + 246 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 42.000
Agama adalah ungkapan persentuhan dunia dan sejarah dengan Yang Kudus dan keyakinan serta perayaan keterlibatan Yang Kudus dalam dunia serta sejarah. Dunia menyatakan dimensi tempat, sementara sejarah merujuk pada sisi waktu dari yang profan. Yang Kudus dibedakan dari yang profan, karena Dia tidak dibatasi oleh waktu dan ruang. Dalam arti ini Yang Kudus bersifat absolut, memberi dasar pertama, menjadi pendamping setia dan tujuan terakhir penziarahan dan sejarah. Salah satu bentuk konkret dari pembedaan itu adalah pengkhususan. Yang Kudus dikhususkan dari yang profan. Ada tempat dan waktu yang dikhususkan untuk mengingatkan manusia akan persentuhan dengan Yang Kudus. Di tempat dan pada waktu tertentu itu dirayakan ritus oleh orang-orang yang dikhususkan berdasarkan tradisi religius masing-masing. Sebab itu, dalam tradisi agama-agama dikenal hari-hari raya keagamaan yang biasanya disertai dengan ritus khusus di tempat-tempat tertentu.
“Di Tebing Waktu”. Berada di tebing kita dipaksa untuk berlangkah lebih hati-hati dan penuh kesadaran. Tebing adalah tempat dan kesempatan kita mengalami kesadaran secara sangat intensif. Di tebing waktu kita dihadapkan pada keputusan yang menentukan. Melakukan metanoia yang jujur atau terus berkanjang dalam ritualisme yang memunggungi dunia dan sejarah adalah alternatif yang mesti kita pilih. Dan pada pilihan itu akan ditentukan kredibilitas keimanan dan keagamaan kita. Pada dasarnya intevensi Allah ke dalam dunia selalu membawa manusia ke tebing waktu. Intervensi yang dirayakan dalam ritus tertentu pada tempat dan waktu khusus, menyadarkan manusia akan kondisi tempat dan waktunya yang aktual, serta mendorong manusia untuk mengambil sikap sadar untuk menata masa depan pribadi dan kolekti. Hari-hari besar agama Kristen sebagai perayaan kenangan dan harapan akan intervensi Allah pun memiliki makna yang sama yakni membawa manusia ke tebing waktu agar dia membarui komitmen untuk melibatkan diri sebagai orang beriman di dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dunia serta sejarah.

OASE SURGAWI: Khotbah Menurut Tahun Gereja

Published by:

Oase sorgawi - depanPengarang : Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo
Jenis Kertas : Book paper 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : x + 346 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp 50.000,-

Buku ini berisi renungan-renungan untuk kembali menguatkan jiwa setelah letih menempuh perjalanan dalam hidup dan karya. Bagi perjalanan sepanjang tahun Gereja ditawarkan refleksi-refleksi yang mendalam dan aktual, yang bertolak dari Kitab Suci dan kenyataan hidup sehari-hari. Oase Surgawi memberikan kesegaran ilahi untuk perjalanan insani di bumi.

MEMBUAT LANGIT TERSENYUM: Khotbah Sepanjang Tahun Gereja

Published by:

Membuat Langit tersenyum - depanPengarang : Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xxiv + 540 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp 79.000,-

“Membuat Langit Tersenyum”, menggambarkan tentang adanya sukacita di sorga. Di belakang ungkapan Yesus ini tergambar dengan jelas bahwa penghuni langit (syamayim) yang juga diartikan sebagai surga selalu mengamati hal-hal yang berlangsung di bumi. Apa yang terjadi di bumi mempengaruhi suasana di surga di hadapan takhta Allah. Kalau di bumi terjadi kejahatan dan berbagai bentuk pemberontakan, kemurungan dan dukacita terlihat dalam ekspresi wajah penghuni surga. Sebaliknya, kalau kehidupan di bumi diwarnai damai, kerukunan, dan persaudaraan isi surga penuh dengan sukacita dan tawa-ria. Itu berarti kita patut menjalani hidup di bumi ini begitu rupa untuk membuat surga tersenyum. Alkitab menegaskan bahwa itu merupakan satu persyaratan untuk Allah mengirim berkat kehidupan selama-lamanya ke bumi itu (Mzm 133:3). Kalau nilai ini sudah terwujud, kerinduan lama untuk pergi ke surga sebagaimana yang mentradisi dalam devosi Kristen perlu dirumuskan kembali. Kalau surga pun sudah ikut tersenyum memandang lakon orang-orang percaya di bumi, mimpi untuk pergi ke surga sepertinya tidak lagi dibutuhkan.
Kumpulan khotbah dalam buku ini menjiwai kerinduan tadi dengan menjadikan perayaan hari-hari gerejawi yang dikelompokkan dalam lima musim perayaan: kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan Tuhan Yesus dan keturunan Roh Kudus sebagai bingkai pemberitaan. Eksplorasi yang dalam dan elaborasi yang segar mengenai makna dari hari-hari raya itu diartikulasikan dengan mencengangkan.

Kompendium Ajaran Sosial Gereja

Published by:

Kompendium Ajaran Sosial Gereja -depanPengarang : Komisi Kepausan Untuk Keadilan dan Perdamaian
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xxvi + 560 halaman
Ukuran : 155 mm x 225 mm
Harga : Rp 98.000,-
Isi Ringkas :
Buku ini merupakan karya besar yang berhasil dikerjakan Komisi Kepausan Untuk Keadilan dan Perdamaian. Buku ini secara sistematis menyajikan landasan-landasan untuk ajaran sosial Gereja. Buku “Kompendium Ajaran Sosial Gereja” juga menunjukkan nilai ajaran sosial Gereja sebagai sebuah sarana penginjilan (bdk. Centesimus Annus, 54), karena ia menempatkan pribadi manusia dan masyarakat dalam hubungan dengan terang Injil. Prinsip-prinsip ajaran sosial Gereja, yang dilandaskan pada hukum kodrati, selanjutnya diperkokoh dan diperkuat dalam iman Gereja oleh Injil Kristus.

You might also likeclose