Category Archives: Politik

DEMOKRASI MINUS DISKURSUS

Published by:

Penulis                  : Silvianus M. Mongko
Penerbit                : Ledalero
Tahun Terbit        : Oktober 2016
ISBN                      : 978-602-1161-28-9
Ukuran Buku        : 140mm X 210 mm
Ketebalan Buku   : 246 halaman
Harga                    : –

“Demokrasi  Minus   Diskursus”.  Demikian   judul buku  kecil  ini.  Sebuah judul yang mungkin tidak terlalu ‘menohok’, tapi serentak mengundang diskusi. Sejak awal, saya merasa perlu mengingatkan Anda, supaya jangan terlalu ‘membuang’ waktu  untuk   membayangkan ‘kerennya’  isi  buku  ini. Syukurlah kalau Anda tidak  sampai mengerutkan dahi! Saya tak  mau  Anda akhirnya ‘menyesal’  karena setelah membaca buku ini, Anda mungkin tidak mendapatkan apa- apa sebagaimana Anda harapkan. Sebab, apa yang tersaji di sini lebih sebagai ungkapan kekecewaan, letupan emosi, umpatan, rasa sesal, sinisme, cercaan, celotehan, dan di atas segalanya ialah hembusan spirit keprihatinan penulis ketika menyaksikan bagaimana dunia, sejarah, dan peradaban kita terjungkal ke titik nadir. Mungkin Anda menganggap saya berlebihan! Tapi memang begitulah kenyataannya, jika kita ingin melihat dan mengungkapkan secara jujur panorama sosial di sekitar kita. Kita sedang berziarah pada sebuah lintasan sejarah yang kian mencemaskan!

Abad yang mencemaskan ini ditandai oleh kemiskinan dan  ‘ketersesatan’  berpikir, kelalaian untuk  memikirkan lebih serius tentang masa depan sejarah dan peradaban kita, bahkan sikap ‘malas  tahu’  terhadap ketidakadilan situasi sosial, ekonomi,  politik,  hukum,  budaya,  yang  sedang menggilas dan mengjungkirbalikkan sisi-sisi kehidupan kita. Kita sedang apatis dengan apa yang datang, atau yang sengaja diciptakan oleh perlakuan kekuasaan, yang membahayakan masa depan sejarah dan  perabadan kita sendiri. Karena kita, saya, Anda, dan institusi-institusi yang mengitari kita (sosial, politik, hukum,  agama, budaya, dan pendidikan) tidak serius memikirkan, mendiskusikan, menemukan solusi serta berkomitmen pada panggilan masing-masing, maka kita menganggap sejarah degradasi moral yang ‘mencincang’ kemanusiaan dan  peradaban bangsa sebagai pengalaman biasa  (banal).  Sikap  ‘remeh-temeh’  untuk   memikirkan masa depan sosialitas dalam ‘kerangkeng’ politik kekuasaan ini dapat dijadikan definisi sederhana dari apa yang saya maksudkan dengan “Demokrasi Minus Diskursus’.

“Demokrasi    Minus     Diskursus”    berbicara    soal ‘ketidakseriusan’ kekuasaan untuk mengurus negara, mulai dari  kebablasan basis konseptual (kesadaran epistemis), ‘kegagapan’ etika, dan ‘ketersesatan’ praksis politik. Pada titik  ini,  demokrasi ‘berkontribusi’  melahirkan paradoks dan ironi kehidupan bersama. Untuk itu, apa yang tertuang di sini lebih banyak manarasikan bagaimana para pelaku kekuasaan, atas  nama  demokrasi, justru  lebih  banyak bertindak sebagai ‘parasit’  demokrasi itu  sendiri. Mereka memanfaatkan ‘kemurahan’  demokrasi untuk  kemudian mengeruk keuntungan  bagi  diri  sendiri dan  kelompok oligarkis.

Berani Berhenti Berbohong – 50 Tahun Pascaperistiwa 1965-1966

Published by:

cover depan Akulah Allah leluhurmu… Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka. Ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang
pemeras dan menuntun mereka keluar dari negeri itu… (Kel 3:6-8)

******
Apakah perlu buku ini memperingatkan – seakan-akan mengungkit kembali – kekejaman masa lalu? Apakah tidak lebih baik kita tetap lupa, tetap tipu diri, karena apa yang sudah berlalu sudah berlalu? Menghadap pertanyaan yang meruncing ini, kita diajak berpaling pada apa yang ditandaskan oleh penyintas Sho’ah, survivor kamp penyiksaan konsentrasi Nazi, Elie Wiesel: Melupakan kekejaman manusia pada masa lalu, atau mengabaikan kekejaman yang terjadi pada masa kini, hari ini, yang terjadi di terlalu banyak tempat di seantero dunia, sungguh mengebalkan perasaan, dan bersifat picik lagi cupet. Melupakan kekejaman membuka peluang hingga kekerasan dapat terjadi lagi, malah lebih sering, lebih dekat kediaman kita. Itu sudah jelek. Namun, adalah bahaya yang sama besar jika kita mengabaikan tindakan keberanian orang yang mencenangkan lagi mengancam dirinya, tindakan keberanian yang meniadakan, membatalkan – malah membalikkan – tindakan kekerasan, dan yang sekaligus menjunjung tinggi hak dan martabat kita bagai manusia. Dengan melupakan masa lalu kita melepaskan catatan sejarah manusia ke dalam genggaman sosok-sosok yang menghancurkan, bukan di dalam tangan mereka yang menyelamatkan dan membangun.

Franz Magnis-Suseno dalam artikelnya mengajak bangsa Indonesia setelah 50 tahun gonosida 65/66 untuk berani menatap sejarahnya secara jujur dan membicarakannya secara terbuka. Bangsa Indonesia harus mengajukan pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah extraordinary crime against humanity pernah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan menjunjung tinggi nilai harmoni. Pertanyaan ini perlu diajukan demi integritas dan harga diri bangsa Indonesia sendiri. Magnis
mengingatkan dan menggarisbawahi bahwa membongkar sejarah tahun 65 bukan berarti mau menghidupkan kembali PKI.
Masalahnya bukan apakah PKI berada di belakang G30S atau tidak. Penulis sendiri tidak meragukan suatu keterlibatan Ketua PKI D.N. Aidit dan beberapa pimpinan lain PKI. Masalahnya adalah: Mengapa tidak cukup kalau PKI dilarang dan dibubarkan saja? Mengapa sampai sejuta rakyat (bisa lebih) mesti dibunuh?

Berharap sekalipun tak ada alasan untuk berharap (Lih. Rm 4:18). Karena itu, supaya kita benar-benar menolak penipuan penguasa dan melawan lupa penderitaan rakyat, telah hadir ke tengah Anda sebuah buku berjudul Berani Berhenti Berbohong. Buku ini berisikan sejumlah artikel seputar pembantaian 1965/1966. Sebagian besar artikel memberikan perhatian pada daerah NTT, diiringi berbagai analisis politik, psikologis dan agama.

PLURALISME, DEMOKRASI DAN TOLERANSI

Published by:

Pluralisme, Demokrasi dan Toleransi - depanPengarang : Felix Baghi (ed.)
Jumlah Hal : 554 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas Isi : Bookpaper 60 gr
Cover : Fc. Ivory 230 grm, doft, laminating
Harga : Rp. 85.000
ISBN : 978-979-9447-30-5
Pada hakikatnya, demokrasi mengandung nilai-nilai yang inklusif karena demokrasi mempertemukan segala yang berbeda atau yang berlainan melalui satu konsepsi yang disebut human qua citizen – warga negara. Demokrasi menuntut solidaritas dan komitmen dari semua rakyat dengan tingkatan toleransi multikultural yang tinggi. Tutuntan agar demokrasi menjadi lebih optimal hanya mungkin terjadi apabila semua rakyat dapat mengenal satu sama lain, percaya satu sama lain, dan memiliki cita rasa akan komitmen terhadap yang lain. Oleh karena itu, nilai-nilai seperti saling pengertian (mutual understanding), saling menaruh kepercayaan (mutual trust) dan komitmen timbal balik (mutual commitmen) harus senantiasa diperbarui atau dirumuskan secara baru. Ini semua bukan hal yang gampang dalam berpolitik. Kita selalu tergoda untuk jatuh kembali ke dalam cara-cara yang lama sambil menyangkal setiap problem dan situasi politik yang nyata. Ini menyebabkan dilema dalam berdemokrasi.

Menggugat Logika APBN

Published by:

Menggugat LOGIKA APBN - depanPenulis : Fary Dj. Francis & Desmond J. Mahesa
Harga : Rp. 55.000
Tebal : 260 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-03-8

Dalam buku ini sidang pembaca dapat menyimak dengan sepenuh kebebasan yang dimiliki bagaimana seluk beluk penganggaran negara di pihak legislatif yang mungkin masih awam bagi banyak orang. Dengan gaya rekomposisi yang ringan, saudara penulis mencoba membawa sidang pembaca masuk ke area-area strategis di mana APBN diproses hingga layak dieksekusi. Upaya ini saya pandang sangat bermanfaat karena hanya dengan memahami proses penganggaran secara benar, rakyat Indonesia bisa turut mengawal implementasi APBN di lingkup dan jangkauan kewenangan masing-masing dapat dilakukan secara benar pula.
“Dalam kondisi di mana setiap wakil rakyat di DPR RI sedang menjadi sasaran sorotan publik dalam segala aspek dan gerak gerik mereka, kehadiran buku ini seperti oase di padang gurun yang dapat memberikan kelegaan baik kepada wakil rakyatnya sendiri maupun rakyat konstituennya.”

FILSAFAT POLITIK Dalam Bentangan Diskursus Filosofis

Published by:

FIL POLITIK OTTO - depanPenulis : Otto Gusti Madung
Harga : Rp. 60.000
Tebal : xxiii + 280 hlm.
Ukuran : 140mm x 210mm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-04-3
Di tengah sebuah era di mana pemahaman tentang politik sedang dikaburkan dan dideterminasi oleh praktik politik yang diwarnai tipu muslihat, perebutan kekuasaan dan korupsi, sebuah refleksi mendasar tentang konsep politik menjadi penting. Refleksi filosofis mengembalikan kesadaran kita kepada pemahaman politik yang sesungguhnya. Seperti actus refleksi filosofis pada umumnya, kegiatan refleksi filsafat politik tak pernah mendahului peristiwa, tapi selalu datang kemudian setelah kejadian berlalu. Karena itu filsafat politik tak pernah dapat mendidik orang untuk menjadi peramal, apalagi menjadi dukun politik. Atau dalam bahasa filsuf G.W.F. Hegel, filsafat politik itu ibarat “burung hantu dewi Minerva yang mulai mengepakkan sayapnya setelah matahari terbenam ditelan bumi”.

Filsafat Politik

Published by:

Filsafat Politik- Acry Deodatus - depanPenulis : Acry Deo Datus
Harga : Rp. 50.000
Tebal : xxx + 446 hlm.
Ukuran : 14cm x 21cm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-24-1
Bagi kebanyakan orang yang “awam ilmu politik” kata “politik” selalu dipahami sebagai suatu arena percaturan warga negara untuk mem¬peroleh kekuasaan dan kewenangan un¬tuk memerintah rakyat. Pengaruh cara pandang ini ternyata sangat kuat sehing¬ga apa yang disebut sebagai “percaturan politik” telah berubah makna menjadi suatu strategi kotor dan licik yang dengan menghalalkan pelbagai cara untuk memperoleh kekuasaan agar dapat memerintah rakyat.
Rupanya makna “politik” ini yang sangat kuat mempengaruhi perilaku politisi terutama yang bermain di arena poli¬tik seperti di lingkungan legislatif – yang rekuitmen keanggota¬annya melalui partai politik – maupun lingkungan eksekutif dan bahkan yudikatif. Karena itu tidaklah mengherankan apabila sebagian besar buku politik praktis selalu menampilkan wacana “strategi politik” dan jarang menampilkan wacana “filsafat poli¬tik”.
Jika kita menelaah pustaka ilmu politik maka umumnya terdapat dua kategori tulisan-tulisan tentang politik yang saling tumpang tindih, yakni tulisan-tulisan yang peduli pada tema HOW dan WHY suatu proses politik itu terjadi. Ke dalam kat¬egori pertama yakni tentang HOW proses politik dapat dikenal melalui nama-nama seperti Sun Tzu,Niccolo Machiavelli, dan George Washington Plunkitt sedangkan kategori kedua berkaitan dengan para filsuf politik yang berorientasi pada “seek to encourage the good in institutions” seperti Plato, Aristotle, Locke, Mills, Jefferson, Marx, dan Mao.
Buku Filsafat Politik yang ditulis oleh Sdr.Drs. AcryDeo Datus,MA ini nampaknya membidik para pembaca terutama dari segmen “para ilmuwan dan pelajar/mahasiswa ilmu poli¬tik” agar memahami filosofi dasar ilmu politik secara sungguh-sungguh yang pada gilirannya dapat memahami HOW dan WHY suatu proses politik itu terjadi.

Bukan Doping Politik

Published by:

bUKAN dOPING pOLITIKPenulis : Paul Budi Kleden
Harga : Rp. 25.000
Tebal : xxxiv + 203 hlm.
Ukuran : 120mm x 190mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-23-4
Tanpa usaha yang serius untuk meningkatkan mutu Pemilu, perhelatan yang mahal ini akan menjadi semata-mata doping yang membuat masyarakat merasa seolah-olah mempunyai kekuatan tak tertandingi dan memegang kedaulatan tertinggi dalam penyelenggaraan kekuasaan di negara ini. Mencegah kehancuran pamor Pemilu seperti itu adalah intensi dasar penerbitan buku ini. Tulisan-tulisan yang dikumpulkan di sini adalah refleksi atas situasi masyarakat selama proses Pemilu selama hampir sepuluh tahun. Bukan terutama untuk mengarsipkan apa yang terjadi, tetapi sebagai permenungan kritis atas situasi dan dorongan ke arah pembaruan. Kita perlu berjuang bersama agar Pemilu di negara ini tercegah dari bahaya degradasi menjadi semacam doping yang menyebabkan warga keliru menilai kondisi riil demokrasi bangsa ini. Demokrasi yang benar tidak bersifat musiman.

Negara, Agama dan HAM

Published by:

Negara Agama dan HAMJudul: Negara, Agama dan HAM
Pengarang : Otto Gusti Madung
Harga : Rp. 40.000
Tebal : xiv+ 176 hal
Ukuran : 140x210mm
Kertas isi : HVS 60 gr
Kertas Cover : Glossy Kilat 230gr, doft ,laminating
ISBN : 978-979-9447-94-4
Mantan Presiden Mahkamah Konstitusi Jerman, Ernst-Wolfgang Böckenförde, pernah mengungkapkan sebuah adagium paradoksal tentang relasi antara agama dan negara: “Der Staat lebt von Vorausetzungen, die er selbst nicht garantieren kann” – “negara hidup dari syarat-syarat yang tak dapat diciptakannya sendiri”. Syarat-syarat dimaksud adalah moralitas substansial yang membentuk akhlak warga. Negara membutuhkan warga yang bermoral agar dapat menata sebuah kehidupan bersama dan membangun jaringan solidaritas. Solidaritas sosial tak pernah bertahan jika sebuah komunitas hanya diisi oleh para egois. Akan tetapi kekuasaan negara tidak dapat menciptakan sendiri moralitas. Sebab jika hal tersebut terjadi negara akan terperosok ke dalam bahaya totalitarisme yang mengintervensi ranah privat dan membonsai kebebasan warganya. Moralitas sudah masuk dalam ranah masyarakat di mana agama, pendidikan, peguyuban-peguyuban dan organisasi-organisasi masyarakat sipil berkiprah. Kekerasan atas nama agama, intoleransi dan rezim moralitas merupakan patologi sosial yang berakar pada rancunya pemahaman tentang relasi antara agama dan negara. Buku Negara, Agama dan HAM coba ikut memberikan kontribusi dalam diskursus tentang relasi antara agama dan negara yang berkembang di tanah air.

You might also likeclose