Category Archives: Sosiologi

Pendekatan Reduksionis Terhadap Agama

Published by:

Apa tujuan yang diharapkan oleh buku ini, dengan fokus dan level pendekatan yang demikian, untuk para pembacanya? Tujuan umumnya adalah untuk memampukan pembaca agar bisa melihat relasi antara satu fenomen agama dengan pelbagai kenyataan sosial yang mengitarinya. Dengan
kata lain, ia diharapkan bisa membangun kesadaran teoretis (sosiologis) dalam diri pembaca dalam menyikapi sebuah fenomen agama.
Tujuan umum ini bisa dijelaskan lebih jauh sebagai berikut. Pertama, agar pembaca bisa mempelajari beberapa teori sosiologis yang berkaitan dengan analisis agama, dan menerapkannya dalam SOSA. Haruslah diingat bahwa SOSA itu cumalah satu ilmu terapan dari teori sosiologis
pada umumnya. Kedua, agar pembaca bisa menjadi lebih peka terhadap relasi antara yang sosial dan fenomen agama. Dan ketiga, agar pembaca bisa
membangun suatu sikap metodologis yang pas dalam hadapi satu fenomen agama.

Buku ini cuma membahas tiga perspektif dominan sebagai model. Mereka adalah perspektif Freud, Marx dan Durkheim akan didiskusikan sebagai model. Bagian III akan membahas bagaimana fenomen agama mempengaruhi kenyataan sosial lainnya. Misalnya, ia membahas apa peran agama dalam soal memaknai (e.g. pandangan Geertz dan Weber). BAGIAN IV: Tempat agama dalam dunia (post) modern. Di sini, ia bisa membahas tema seperti sekularisasi, Agama Sipil dan gejala pindah Agama. Akan tetapi, buku kecil cuma akan membicarakan bagian I dan II dari keseluruhan tema di atas. Ini akan ditutup dengan sebuah catatan singkat tentang pendekatan reduksionis mereka.

LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah

Published by:

Luka Lawo NgawuJudul : LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah
Penulis : Prof. Dr. Willemijn de Jong
Penerbit : Penerbit Ledalero, Cet. 1 Oktober 2015
Jumlah Hlm : xiv + 456 hlm
Ukuran buku : 150 x 230 mm
ISBN : 978-602-1161-14-2
Harga : Rp.95.000
Kategori : Sosio Antropologi

Pokok pembicaraan dalam buku ini ialah perempuan-perempuan penenun di Lio, Pulau Flores, serta arti sosial yang menyeluruh dari tenunan mereka yang bernilai tinggi dari segi prestise dan seni, yang kebanyakannya ditenun dengan pola ikat yang indah, yang dikerjakan dengan cara rumit dan kompleks. Tenunan-tenunan itu, dipandang sebagai kekayaan kain (clothwealth), yang penting untuk dipakai, dijual, dan dihadiahkan, terutama sebagai pemberian balasan untuk belis. Yang hendak ditelaah selanjutnya ialah arti penting dan nilai dari kain tenunan itu dalam bidang pekerjaan, perkawinan, dan apa pengaruhnya untuk posisi perempuan serta hubungan antara jenis kelamin di dalam masyarakat kampung mereka. Di dalamnya terungkap pendapat dari perempuan-perempuan penenun dengan latar belakang sosial yang berbeda-beda, serta keterikatan mereka dengan anggota-anggota keluarga terdekat dan juga pendapat dari tokoh-tokoh lokal yang mempunyai kewenangan.
Buku ini berusaha menyoroti suasana kehidupan petani dari sebuah wilayah dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang pada umumnya dipandang miskin, jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Dengan memusatkan perhatian pada tenunan sebagai sebuah bentuk kekayaan lokal yang penting, sebagai karya seni budaya, dan sebagai objek harta dan prestise, kiranya buku ini dapat mewakili suatu pandangan yang menyeluruh, tanpa hendak meremehkan masalah-masalah ekonomi yang sudah sangat tersebar, yang juga dikemukakan sebagai tema dalam hubungan dengan pekerjaan menenun.
Edisi karya penelitian ini, sudah terbit hampir dua puluh tahun lalu dalam Bahasa Jerman. Edisi kedua ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia mencakup bagian etnografis yang kiranya menarik perhatian pembaca Indonesia. Satu edisi lengkap membutuhkan pengolahan ulang dari bagian pertama, yaitu bagian teoretis dari karya ini. Suatu diskusi teoretis mengenai kekayaan tenunan, belis dan hubungan antar jenis kelamin ada pada bab penutup buku ini. Ini adalah diskusi dan telaahan dari perspektif sosio-antropologis, yang dibuat dengan cara melakukan beragam pengamatan, wawancara, pembicaraan informal hingga informasi, dan data dianalisa. Tesis-tesis, konsep-konsep serta pengertian-pengertian utama dari studi ini dikemukakan dalam bentuk yang singkat dalam bab pendahuluan yang telah dikerjakan ulang. Dalam hubungan dengan posisi penelitian, buku ini terutama mencerminkan perdebatan-perdebatan dari tahun 1980-an dan tahun 1990-an. Hanya beberapa publikasi yang terpilih, yang sudah terbit sesudah tahun 1998 dimasukkan lagi di dalam bab pendahuluan dan bab penutup. Hanya sedikit sekali perubahan yang diadakan dalam hubungan dengan etnografi itu sendiri. Perubahan-perubahan ini berhubungan terutama dengan aspek-aspek formal dan di beberapa tempat diadakan perbaikan-perbaikan kecil untuk melindungi para narasumber, baik perempuan maupun laki-laki.
Beberapa pengertian yang digunakan dalam karya ini, membutuhkan suatu uraian yang lebih tepat dari sudut pandang sekarang. “Tradisi-tradisi”, “cara tradisional” pada umumnya menunjuk pada jaman kolonialisme sampai tahun 1945 dan masa pemerintahan Presiden Soekarno sampai pertengahan tahun 1960-an. Namun dalam banyak konteks pengertian-pengertian ini digunakan dalam hubungan dengan modernitas. “Tradisi-tradisi” dari sudut pandang pribumi pada waktu diadakan penelitian ini, sangat sentral, dan tetap sentral sampai sekarang. Tradisi-tradisi lokal yang kerapkali diasosiasi dengan seluruh kompleks norma-norma hukum adat dan praktek-praktek adat yang berkaitan, bersama membentuk keterikatan historis – dan demikian bagian-bagian yang penting – dari bentuk-bentuk yang spesifik dari modernitas di Indonesia. Juga Orde Baru dari Presiden Soeharto yang mengarah kepada perkembangan telah mendorong timbulnya bentuk-bentuk khusus dan regional yang baru dari modernitas ini. Terutama dengan perkembangan pertanian, kerajinan tangan, pendidikan dan kesehatan oleh Misi Katolik dan Pemerintah Indonesia, di Flores, telah berkembang bentuk-bentuk modernitas tersendiri, di mana tradisi-tradisi tetap memainkan peranan yang penting.
Penulis memandang publikasi ini sebagai suatu penghormatan kepada budaya yang hidup dari kerajinan tangan di Indonesia dan khususnya sebagai penghormatan untuk perempuan-perempuan penenun, yang memiliki pengetahuan khusus dan kemampuan yang luar biasa – dan didukung oleh keluarga mereka – serta mempesona para pemerhati lokal dan asing. Namun “seni ikat” tidak mudah terpantau oleh mata yang tidak terlatih, seperti yang dikemukakan oleh peneliti asal Flores, P. Sareng Orinbao, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1972 dengan judul “Seni Tenun suatu Segi Kebudayaan Orang Flores”. Kekhususan dan arti tenunan baru dapat terbuka melalui pembahasan yang mendalam. Kita berharap kekayaan tenunan di Flores, latar belakangnya, gerakannya, dan implikasinya oleh sebuah publikasi lebih lanjut dalam bahasa Indonesia dapat terbuka untuk suatu kelompok pembaca yang lebih luas dan dengan demikian makin diperkenalkan kepada masyarakat luas. Dengan itu, pengetahuan dan kemampuan perempuan-perempuan penenun di Indonesia Timur ini semakin dikenal.

ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA – Sebuah Pengantar

Published by:

ANTROPOLOGI Sosial - depanPengarang : Thomas Hyllan Eriksen
Jumlah Hal. : xvi + 572 hlm.
Ukuran : 15.5 cm x 22.5 cm
Jenis Kertas Isi : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
ISBN : 978-979-9447-80-0
Harga : Rp. 95.000
Buku ini merupakan ikhtisan komprehensif mengenai ilmu antropologis social dan budaya. Pelbagai aspek metode kerja cabang ilmu ini dibahas, begitu juga aliran penting dan topic-topik sentral yang lazimnya diuraikan dalam ilmu antropologi. Penulis sendiri menjelaskna tujuan buku ini sebagai berikuti: Sasaran saya dalam buku ini ialah untuk mengajari para mahasiswa-mahasiswi prasarjana baik tentang pokok soal antrologis social maupun tentang suatu cara berpikir yang bercorak antropologis. Saya yakin bahwa kaji banding antara masyarakat dan kebudayaan merupakan sebuah aktivitas intelektual fundamental yang memiliki potensi eksistensial dan politis yang sangat ampuh. Melalui kajian atas aneka ragam masyarakat, kita belajar sesuatu yang hakiki tidak saja tentang dunia, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Menyitir kata-kata Kristen Hastrup, apa yang dilakukan para antropolog adalah setali dengan membuat familia itu eksotik dan yang eksotik itu familiar. Oleh karena itu, perbandingan dengan masyarakat “Barat” merupakan sebuah persoalan yang melandasi keseluruhan buku ini, juga bila tema yang tengah dibicarakan bersangkut paut dengan model pemberian hadiah masyarakat Melanesia, ritual orang-orang Malagasi, atau politik kaum Nuer. Bahkan keseluruhan buku ini dapat dibaca sebagai serangkaian “kuliah perbandingan.”

ATA PU’AN – Tatanan Sosial dan Seremonial Tana Wai Brama di Flores

Published by:

Ata Pu'an - depanPenulis : Dr. E Douglas Lewis
Harga : Rp. 100.000
Tebal : 596 hlm.
Ukuran : 15.5cm x 23.5cm
Kertas isi : Bookpaper 60 gr
Kertas Cover : Ivory 230gr, doft laminating
ISBN : 978-979-9447-02-X
Buku ini merupakan satu catatan awal tentang penelitian lapangan di Tana ‘Ai. Ata Pu’an dimaksudkan sebagai yang pertama dari studi berjilid tiga tentang Ata Tana ‘Ai atau “Orang dari Negeri Hutan” di Flores tengah bagian timur. Buku ini ditujukan secara khusus untuk mempelajari organisasi sosial Tana Wai Brama, dengan bermula pada gagasan-gagasan tentang asal usul wilayah itu seperti dikisahkan dalam hikayat-hikayat lisan yang dituturkan para juru ritusnya.
Etnografi yang baik melibatkan semacam penyingkapan yang berlangsung secara teratur. Ihwal melukiskan sebuah masyarakat dan menyajikan ide-ide yang menopangnya menuntut pembabaran secara saksama. Namun apresiasi tentang pentingnya segi-segi eksposisi ini hanya bisa datang secara retrospektif tatkala etnografi berhasil membuat satu budaya lebih dipahami. Hal ini terutama berlaku untuk Ata Pu’an. Ia menelisik sebuah masyarakat yang tidak memiliki kumpulan literatur apa pun sebelumnya dan mesti merancang langkah demi langkah suatu pemahaman etnografi yang sistematis.
Namun Ata Pu’an lebih daripada sekadar etnografi tentang sebuah masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki dokumen apa pun di kawasan timur Indonesia. Ia adalah studi tentang sebuah masyarakat yang organisasi sosialnya menyajikan beberapa variasi yang sangat mencolok dibanding pola-pola umum di seluruh kawasan itu. Dari sudut pandang perbandingan, buku ini adalah studi yang sangat penting.

You might also likeclose