Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman Agama
  • Konsili Yohanes XXIII Berpancawindu 1962-2002 Gereja
  • MERANGKAI IDENTITAS MARIA Gereja
  • Ekoteologi Orang Manggarai Agama
  • Model-Model Teologi Kontekstual Teologi
  • TEOLOGI PERJANJIAN LAMA: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan Liturgi dan Kitab Suci
  • Seri: KEHIDUPAN RELIGIUS SEBUAH PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH – Teologi Kehidupan Religius Teologi
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja

DI TEBING WAKTU – Dimensi Sosio Politis Perayaan Kristen

Posted on 11 Agustus 201525 Juni 2025 By ledalero

PengaraDi Tebing Waktu - depanng : Dr. Paul Budi Kleden
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xx + 246 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 42.000

Agama merupakan ekspresi perjumpaan yang mendalam antara dunia dan sejarah dengan Yang Kudus, serta perayaan iman akan keterlibatan-Nya yang aktif dalam keduanya. Dunia di sini melambangkan ruang atau tempat, sementara sejarah merujuk pada dimensi waktu dalam kehidupan manusia yang profan. Dalam kerangka itu, Yang Kudus dipahami sebagai realitas yang melampaui ruang dan waktu, transenden sekaligus imanen, menjadi sumber utama, pendamping setia, dan tujuan akhir dari ziarah manusia di tengah arus sejarah.

Pembedaan antara yang kudus dan yang profan tampak nyata dalam praktik pengkhususan: ruang dan waktu tertentu dipisahkan dari keseharian untuk menandai kehadiran Yang Kudus. Di tempat-tempat dan pada waktu-waktu khusus itu, ritus diselenggarakan oleh pribadi-pribadi yang telah ditahbiskan atau dipersiapkan secara religius, sesuai dengan tradisi iman masing-masing. Karena itu, hampir semua agama mengenal hari raya keagamaan — momen-momen liturgis yang tidak sekadar mengulang, tetapi menghadirkan kembali intervensi ilahi yang pernah terjadi dalam sejarah dan terus hidup dalam harapan umat beriman.

Dalam konteks ini, metafora “di tebing waktu” menjadi sangat signifikan. Seperti seseorang yang berdiri di tebing curam, manusia dalam momen-momen tertentu dihadapkan pada situasi yang menuntut kesadaran penuh dan keputusan eksistensial. Di tebing waktu, manusia tidak dapat bersikap netral: ia harus memilih antara pertobatan yang otentik (metanoia) atau keterjebakan dalam ritualisme kosong yang kehilangan daya ubah terhadap dunia dan sejarah.

Setiap intervensi Allah dalam sejarah manusia — yang dirayakan dalam ritus-ritus liturgis — sejatinya adalah ajakan untuk menyadari kenyataan waktu dan tempat secara aktual. Perayaan religius tidak sekadar memutar ulang narasi suci, tetapi menyentak kesadaran dan menggugah tanggung jawab manusia untuk menata kembali masa depan, baik secara pribadi maupun kolektif. Dengan demikian, hari-hari besar dalam kekristenan — seperti Natal, Paskah, dan Pentakosta — bukan hanya kenangan akan karya Allah, melainkan juga undangan untuk memperbarui komitmen iman dalam menanggapi suka dan duka, harapan dan kecemasan dunia serta sejarah.

Agama, pada akhirnya, tidak bisa dilepaskan dari dinamika hidup manusia di dalam dunia. Justru dalam dunia dan sejarah itulah Yang Kudus menjumpai manusia, menuntunnya ke tebing waktu, dan menawarkan kesempatan untuk bertumbuh dalam kesadaran, pertobatan, dan perutusan. Kredibilitas iman kita diuji bukan hanya dalam ritus, tetapi dalam cara kita menanggapi panggilan itu dengan tanggung jawab dan keberanian moral.

Gereja, Keluarga, Pastoral, Spritualitas

Navigasi pos

Previous Post: TEOLOGI PERJANJIAN LAMA: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan
Next Post: BERDIRI DI AMBANG BATAS – Pergumulan Seputar Iman dan Budaya

Related Posts

  • GEREJA YANG TERLIBAT – Dialog Iman, Budaya dan Teologi Paus Fransisikus Agama
  • DIPANGGIL UNTUK KEMERDEKAAN -Sebuah Studi Mengenai Gereja Masehi Injili di Timor dalam Hubungan dengan Lingkungannya Agama
  • COVID-19 DAN VISI MASA DEPAN KEHIDUPAN BERSAMA Lain-lain
  • EXODUS MENOLAK LUPA – Catatan Kenangan Para Saksi Korban Banjir Bandang, Lamanele, 4 April 2021 Keluarga
  • DALAM MONCONG NEOLIBERALISME-Kritik Kenabian terhadap Penyelewengan Pembangunan dengan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Era Otonomi Daerah di Indonesia Ekonomi
  • Semana Santa di Larantuka – Sejarah dan Liturgi Agama
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Teologi Publik Untuk Konteks Indonesia
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Reduplikasi Morfemis Bahasa Manggarai
  • Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • VOICE IN THE WILDERNESS – Pesan Paus Paulus II Untuk Hari Komunikasi Sedunia Gereja
  • PARRHESIA: Mozaik-Mozaik Aksara untuk Kemanusiaan  dan Indonesia Maju Agama
  • Tingkahlaku Kolektif dan Gerakan Sosial – Sebuah Pengantar Lain-lain
  • SOLIDARITAS BENTENG IMAN Gereja
  • Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman Agama
  • PERJANJIAN LISBON TAHUN 1859 DAN AKIBATNYA BAGI PULAU TIMOR, FLORES,SOLOR DAN SEKITARNYA (1847-2024) Politik
  • Kopdit Boawae Pemberdayaan dan Keberlanjutan Ekonomi
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme