Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • Dakwah Kristen – Undangan Allah Yang Menyelamatkan Semua Manusia & Alam Ciptaan melalui Yesus Kristus Agama
  • Mati dan Bangkit Lagi Pastoral
  • Terus Berubah Tetap Setia; Dasar, Pola, Konteks Misi Agama
  • TEOLOGI TERLIBAT – Politik & Budaya dalam Terang Teologi Spritualitas
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • Melakukan Teologi di Abad Plural Teologi
  • Teologi Publik untuk Konteks Indonesia Agama
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks Agama

MEMBANGUN RUANG PERJUMPAAN BAGI GEREJA KATOLIK DAN KOMUNITAS LGBT – Bagaimana Gereja Katolik dan Komunitas LGBT Dapat Menjalin Hubungan Berlandaskan Sikap Hormat, Bela Rasa, dan Kepekaan

Posted on 20 Juli 20234 Agustus 2025 By ledalero

Penulis                                    : James Martin, SJ

Penerjemah                         : Antonius Sumarwan, SJ dan Dicky Sugianto

Ketebalan                              : 206 hlm

Ukuran                                   : 14 cm x 21 cm

ISBN                                         : 978-623-6724-19-4

Tahun Terbit                         : Januari 2022

 Harga                                      :

Gambaran Umum dan Latar Sosial

James Martin memulai ulasannya dengan mencatat suatu koinsidensi yang memilukan: pada tahun 2016, komunitas LGBT di Amerika Serikat dan Indonesia mengalami bentuk-bentuk kekerasan dan penindasan yang berbeda namun sama-sama menyakitkan. Di AS, kekerasan itu hadir dalam bentuk brutal—penembakan massal di klub malam gay Pulse, Orlando, yang menewaskan 49 orang. Sementara di Indonesia, penindasan muncul dalam bentuk wacana dan kebijakan negara, stigmatisasi, serta meningkatnya homofobia sistemik.

Dua konteks yang berbeda secara budaya dan politik ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap komunitas LGBT tidak mengenal batas negara. Di satu sisi, pengakuan dan perlindungan hukum belum otomatis menjamin rasa aman; di sisi lain, kebungkaman negara (dan masyarakat) terhadap kekerasan simbolik dan struktural menambah beban psikologis dan sosial komunitas yang sudah termarjinalkan.

Respons Sosial dan Gereja

Yang menyedihkan, ujar Martin, adalah diamnya banyak pemimpin Gereja Katolik—baik di AS maupun di Indonesia—terhadap peristiwa-peristiwa ini. Diam bisa berarti ketakutan, ketidaktahuan, atau kebingungan tentang bagaimana bersikap dalam menghadapi isu yang dianggap sensitif ini. Namun yang jelas, diam juga bisa berarti menyetujui status quo, dan itu bisa menyakitkan bagi komunitas LGBT yang berharap pada Gereja sebagai rumah rohani.

Ironisnya, kata Martin, dalam banyak kasus umat Katolik mengenal komunitas LGBT bukan dari relasi nyata dan personal, tetapi dari media massa atau sumber daring yang penuh prasangka. Akibatnya, jarang ada ruang perjumpaan yang tulus dan membebaskan antara komunitas iman dan komunitas LGBT.

Sikap dan Langkah Paus Fransiskus

Dalam kontras yang menyejukkan, Paus Fransiskus telah menunjukkan teladan kepemimpinan rohani yang berbeda. Ia membuka ruang dialog, menampilkan kasih dan kehangatan, dan mengangkat martabat komunitas LGBT sebagai sesama manusia yang layak dihormati dan dicintai. Dengan ungkapan terkenalnya, “Siapakah saya untuk menghakimi?”, Fransiskus menggeser pendekatan dari legalisme dan penghakiman menuju empati dan pendampingan pastoral.

Langkah konkret Paus seperti mendukung pengakuan ikatan sipil sesama jenis, menyambut orang-orang LGBT dan keluarga mereka dalam audiensi Vatikan, serta mengangkat tokoh LGBT dalam pelayanan Gereja, menjadi sinyal kuat bahwa kasih Kristus harus lebih nyata daripada doktrin yang membatasi.

Makna Buku Ini

Melalui buku ini, James Martin mengajak pembaca—khususnya umat Katolik—untuk masuk ke dalam “ruang perjumpaan”. Sebuah ruang di mana umat dan komunitas LGBT bisa berbicara dengan jujur, saling mendengarkan, dan mengalami kehadiran Allah yang menyembuhkan dan mengangkat. Ia tidak mendorong perubahan ajaran secara frontal, tetapi mengusulkan perubahan sikap: dari menolak menjadi menerima, dari menghakimi menjadi memahami, dari menjauh menjadi mendekat.

Martin percaya bahwa perjumpaan semacam ini adalah bagian dari pertobatan: sebuah perubahan batin menuju kasih yang lebih inklusif. Dan inilah, menurutnya, esensi dari perutusan Gereja—melanjutkan karya Yesus di dunia, bukan sekadar mempertahankan batas-batas doktrinal.

Harapan untuk Gereja dan Masyarakat Indonesia

Konteks Indonesia—dengan populasi Katolik yang kecil, budaya religius yang konservatif, serta arus politik identitas yang kian kuat—membuat seruan ini terasa sangat relevan. Martin tidak mengingkari kompleksitasnya, namun justru mengajak agar Gereja menjadi pelopor dialog, bukan benteng penghakiman.

Ia berharap buku ini dibaca tidak hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga oleh mereka dari agama lain yang memiliki keprihatinan serupa: bagaimana membangun masyarakat yang memanusiakan semua orang, tanpa kecuali.

Ujung dari seluruh tulisan ini adalah seruan moral dan spiritual yang kuat: Gereja dan masyarakat perlu menciptakan ruang hidup yang lebih ramah dan adil bagi komunitas LGBT—bukan karena tekanan zaman, tetapi karena tuntutan kasih Kristus sendiri. Dalam dunia yang kerap menghakimi dan mengusir, Gereja dipanggil untuk merangkul dan merawat.

Gereja, Lain-lain, Pastoral Tags:Gereja Katolik, Hubungan Gereja dan LGBT, Komunitas Lgbt, LGBT

Navigasi pos

Previous Post: Dakwah Kristen – Undangan Allah Yang Menyelamatkan Semua Manusia & Alam Ciptaan melalui Yesus Kristus
Next Post: Pengantar Pendidikan

Related Posts

  • Teologi Dalam Perspektif Global: Sebuah Pengantar Gereja
  • Setia Kasih-Mu Kekal Tuhanku – Kumpulan Refleksi Perak Imamat Imam Tahbisan Tahun 1987 Ledalero dan Ritapire Pastoral
  • OASE SURGAWI: Khotbah Menurut Tahun Gereja Keluarga
  • Dakwah Kristen – Undangan Allah Yang Menyelamatkan Semua Manusia & Alam Ciptaan melalui Yesus Kristus Agama
  • Bukan Berhala – Penghormatan Kepada Roh Orang Meninggal Agama
  • MAFIA BANK DUNIA & IMF – Alat Penjajahan Baru Negara Industri Terhadap Negara Berkembang Sejak Akhir Perang Dunia Ekonomi
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Teologi Publik untuk Konteks Indonesia
  • ISRAEL MITRA ALLAH – Dari Abraham Hingga Yesus Kristus, Dari Mesir Hingga Inggris, dan Dari Tanah Perjanjian Hingga Lahirnya Negara Israel Modern Tahun 1948
  • TEOLOGI TANAH ORANG MANGGARAI – Pendekatan Kontekstual Pascakolonial Tentang Iman, Adat, dan Keadilan Agraria
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks
  • Kisah Pengembaraan Ibarruri Putri Alam – Anak sulung D.N. Aidit Biografi
  • Allah Akbar-Allah Akrab Agama
  • ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA – Sebuah Pengantar Antropologi
  • Merambah Jalan Cinta Menggapai Kesempurnaan Agama
  • Gerakan Ekumene Agama
  • DRAKULA ABAD 21 – Membongkar Kejahatan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Sebagai Kapitalisme Mutakhir Berhukum Rimba dan Ancamannya Terhadap Sistem Ekonomi Pancasila Ekonomi
  • PENGANTAR LINGUISTIK NARIQ EDANG Sebuah Kajian Tentang Struktur Internal Bahasa Kedang Bahasa & Sastra
  • MORAL SAMARITAN
    Dari kenisah menuju tepi jalan
    Agama

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme