Pengarang : Stephen B. Bevans
Jumlah halaman : xxii + 311 halaman
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Harga : Rp. 80.000
Gagasan besar yang melandasi lahirnya teologi kontekstual berakar pada kesadaran bahwa iman Kristen tidak pernah hidup dalam ruang hampa. Sejak awal sejarahnya, iman selalu menyejarah, menyatu dengan bahasa, simbol, dan dinamika sosial budaya di mana ia dihidupi. Stephen B. Bevans, melalui karyanya Model-Model Teologi Kontekstual, berupaya menunjukkan bahwa kontekstualisasi bukanlah sekadar tren akademik kontemporer, melainkan sebuah imperatif teologis yang lahir dari natur iman itu sendiri. Injil, yang bersifat universal, hanya dapat sungguh bermakna ketika ia dialami dan diungkapkan dalam konteks konkret manusia yang beragam.
Dalam kerangka ini, Bevans menawarkan enam model kontekstualisasi sebagai cara pandang atau pendekatan yang dapat membantu umat beriman merumuskan teologi yang hidup. Model pertama adalah model terjemahan, yang menekankan bahwa pesan Injil memiliki inti universal yang dapat “diterjemahkan” ke dalam bahasa dan budaya lokal. Model ini menjaga kesetiaan pada tradisi, tetapi berisiko kurang peka terhadap dinamika sosial yang kompleks. Berbeda dengan itu, model antropologis berangkat dari keyakinan bahwa Allah telah lebih dahulu hadir dalam budaya manusia. Tugas teologi adalah menemukan dan meneguhkan benih Injil yang tersembunyi di dalam tradisi lokal. Pendekatan ini menghargai kearifan budaya, tetapi dapat tergelincir pada bahaya sinkretisme.
Lebih radikal adalah model praksis, yang memandang teologi sebagai hasil refleksi atas pengalaman perjuangan dalam sejarah, terutama di tengah ketidakadilan dan penindasan. Teologi di sini bukan sekadar wacana, melainkan tindakan yang membebaskan. Kekuatan model ini adalah keberpihakannya yang jelas, namun ia rentan terjebak dalam ideologi sosial. Di sisi lain, model sintesis mencoba menjembatani ketegangan dengan menggabungkan unsur tradisi dan konteks secara seimbang. Ia lebih akomodatif, meski risikonya bisa jatuh pada kompromi yang terlalu longgar.
Bevans juga mengangkat model transendental, yang menekankan subjektivitas teolog itu sendiri. Teologi dipahami sebagai refleksi personal yang lahir dari pengalaman batin seseorang yang beriman. Model ini memberi ruang bagi kedalaman rohani, namun dapat terkesan terlalu individualistik. Terakhir, dalam edisi revisinya, Bevans menambahkan model budaya tandingan. Model ini memandang bahwa Injil tidak hanya perlu diterjemahkan atau didialogkan dengan budaya, melainkan juga harus berani mengkritisi budaya dominan yang menindas, sekaligus menawarkan visi alternatif yang lebih manusiawi.
Keseluruhan model tersebut, menurut Bevans, bukanlah pilihan yang saling meniadakan. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu model pun yang bisa diklaim sebagai yang paling unggul. Justru, model-model itu bersifat heuristik: masing-masing membantu menyingkap dimensi tertentu dari hubungan antara Injil dan konteks. Pemilihan model yang digunakan selalu bergantung pada situasi nyata di mana teologi dibangun. Dengan demikian, teologi kontekstual adalah seni sekaligus disiplin yang terus bergerak, menempatkan Injil dalam dialog kritis dengan dunia, tanpa kehilangan kesetiaannya pada tradisi iman.
Pada akhirnya, pesan Bevans menjadi jelas: teologi yang hidup adalah teologi yang kontekstual. Iman hanya dapat diwartakan dengan otentik apabila ia berakar pada realitas konkret, menyerap bahasa dan simbol masyarakat, serta berani berbicara profetis terhadap struktur budaya yang tidak adil. Melalui kerangka ini, Model-Model Teologi Kontekstual menjadi peta konseptual yang kaya bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana Injil dapat hadir, berakar, sekaligus mentransformasi dunia di setiap ruang dan zaman.
