Judul : Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan
Penulis : Baltasar Rengga Ado & Dolinius Ladon
Ketebalan : 78 halaman
Ukuran : 12 x 19 cm
ISBN : 978-623-6724-52-1
Tahun Terbir : November 2025
Harga :
Buku Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan merupakan kumpulan pantun dan puisi yang merangkum kekayaan ekspresi sastra dari dua generasi berbeda. Penulis pertama, Dr. Baltasar Rengga Ado, mewakili generasi akademisi yang matang dalam permenungan; sementara Dolinius Ladon tampil sebagai representasi generasi muda abad XXI dengan gaya yang ekspresif, spontan, dan penuh kreativitas.
Buku ini tersusun dalam dua bagian besar, masing-masing dengan sifat dan keindahan sastra yang berbeda: Bagian pertama memuat beragam pantun Melayu Nusantara dengan cakupan tema yang luas: rohani, percintaan, peringatan pesta imamat, perayaan ulang tahun, hingga pantun berbahasa daerah Nagekeo. Pantun-pantun dalam bagian ini tidak hanya menghadirkan permainan rima yang indah, tetapi juga membawa pesan moral, nasihat, humor, kerinduan, pengalaman hidup, dan spiritualitas. Dengan ciri 4 baris bersajak (a-b-a-b atau a-a-a-a), pantun disajikan sebagai sastra lisan yang mendidik, melatih seseorang berpikir kreatif, sekaligus mengajak pembaca menyelami nilai budaya Nusantara. Bagian ini juga menegaskan posisi pantun sebagai warisan budaya dunia, setelah ditetapkan oleh UNESCO pada 17 Desember 2020 sebagai warisan budaya tak benda.
Bagian kedua berisi puisi modern karya penulis muda Dolinius Ladon. Gaya bahasanya kreatif, metaforis, dan emosional, menawarkan pengalaman batin yang lebih personal dibanding pantun yang bersifat umum dan publik.
Tema-temanya meliputi:
- Religi dan iman, seperti pada Perhentian Salib, Janji Maria, dan Yesus Naik ke Sorga
- Kasih sayang keluarga, misalnya pada Ma’Ma, Peluk Ibu, atau Ujud Ibu
- Renungan kehidupan dan kematian, tampak pada RIP 1–2, Tiada, atau Sial-sia
- Pencarian jati diri dan eksistensi, seperti Saya atau Kamu? dan Bayang-bayang
- Budaya dan identitas daerah, misalnya Lewotobi, Ruteng, dan Di mana Jampi?
Puisi-puisi tersebut menggunakan bahasa puitis yang bebas, simbolik, dan kadang menantang norma bahasa, selaras dengan karakter sastra modern yang mengejar ekspresi emosional ketimbang kaidah ketat.
Melalui perpaduan pantun lama dan puisi modern, buku ini menampilkan dialog antar-generasi dalam dunia sastra. Keduanya menyuarakan hal yang sama: bahwa bahasa adalah warisan budaya yang harus dijaga, dirawat, dan diteruskan.
Buku ini mengajak pembaca, khususnya generasi muda, untuk:
✔ mengenali identitas budaya melalui sastra
✔ menikmati keindahan bahasa sebagai karya seni
✔ mempertahankan tradisi sambil terus berkreasi
✔ menyambut masa depan tanpa meninggalkan akar budaya
Buku Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan adalah sebuah perjalanan sastra antara masa lalu dan masa kini. Pantun membawa warisan budaya Nusantara, sementara puisi membuka ruang ekspresi bebas generasi sekarang. Keduanya bersama-sama menjahit harapan dalam satu benang merah: merawat dan merajut identitas bangsa lewat bahasa.
