Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat
  • Kekristenan dan Teologi Asia: Inkulturasi, Dialog Antaragama, Pembebasan Paripurna Agama
  • Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman Agama
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks Agama
  • Allah Menggugat Sebuah Dogmatik Kristiani Teologi
  • Mengenal dan Mencintai Muslim dan Muslimat Agama
  • TEOLOGI PERJANJIAN LAMA: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan Liturgi dan Kitab Suci
  • DALAM MONCONG NEOLIBERALISME-Kritik Kenabian terhadap Penyelewengan Pembangunan dengan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Era Otonomi Daerah di Indonesia Ekonomi

Jalan Sunyi untuk Pulang

Posted on 23 Mei 202510 Juni 2025 By ledalero

Penulis            : Claudia Karangora

Ketebalan       : 190 halaman

Ukuran           : 14cm x 21 cm

Terbit             : 2025

ISBN               : 978-623-6724-47-7

Harga             :

“Jalan Sunyi untuk Pulang” karya Claudia Karangora merupakan kumpulan puisi reflektif yang menyajikan perjalanan batin, sosial, dan spiritual manusia dalam bingkai kesunyian, cinta, dan pengabdian. Setiap puisi adalah potret fragmen kehidupan yang mengundang pembaca untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan merenungkan makna langkah-langkah kecil yang kerap terabaikan. Dalam bait-baitnya, tersirat kerinduan akan kedamaian, pencarian akan kebenaran, dan penyerahan penuh pada kehendak Ilahi.

Buku ini tak hanya berbicara tentang relasi dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga menyentuh ranah kemanusiaan dan kebangsaan, seperti yang tampak dalam “Harmoni Indonesia”, “Busur Pendidikan”, dan “Cerita tentang Keadilan”. Cinta dalam berbagai bentuknya—baik cinta kepada orang tua, sahabat, pasangan, maupun kepada sesama manusia—terlukis lembut dalam puisi “Cinta Emas”, “Cinta: Komunikasi dengan Hati”, dan “Persahabatan bagai Cermin Retak”.

Melalui puisinya, Claudia menghadirkan ruang sunyi yang bukan berarti sepi, melainkan penuh makna. Sunyi dalam karya ini adalah ruang kontemplasi, tempat untuk pulang, mereguk kembali semangat hidup, serta merangkul kembali identitas terdalam sebagai manusia yang rapuh namun berharga. Dengan gaya bahasa yang puitis namun membumi, setiap puisi menjadi lentera kecil yang menerangi jalan pulang itu—jalan sunyi yang sarat harapan.

Dalam hidup, ada jalan-jalan yang tak ramai…Jalan yang sunyi, sepi, namun justru di situlah kita menemukan makna terdalam. Jalan Sunyi untuk Pulang karya Claudia Karangora bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah undangan—untuk pulang. Pulang ke hati. Pulang ke asal. Pulang ke Sang Sumber.

Dalam bait demi bait, pembaca diajak menyusuri Titik Nol, titik mula perjalanan hidup.
Tempat di mana keringat dan air mata menjadi pupuk bagi integritas. Di sana kita belajar apa itu kecewa, bagaimana bersikap dalam diam yang sering disalahpahami. Kita lalu bertemu dengan pesan-pesan lembut namun tajam. Seperti dalam puisi Religius: Minyak Wangi dan Orang Pinggiran, yang mengingatkan kita bahwa panggilan hidup bukan tentang sorotan, tapi tentang menjadi aroma kebaikan bagi mereka yang terpinggirkan.

Claudia tidak takut untuk bertanya pada Tuhan. Dalam puisi Bagi Tugas, ia menggambarkan percakapan batin yang getir,saat kelelahan menjelma menjadi doa, dan harapan diserahkan penuh pada Sang Sahabat. Ada pula Putus, yang menyuarakan luka karena cinta yang tak dijelaskan. Bukan sekadar patah hati antar manusia, tapi juga retaknya rasa percaya kepada Yang Ilahi. Lalu dalam Ayah: Cinta dalam Diam, kita diajak mengenali cinta yang bekerja tanpa suara, cinta yang tidak meledak-ledak, tapi nyata dalam keringat dan tanggung jawab.

Di halaman lain, kita tersenyum bersama anak kecil dalam Berkat. Istvan dan Papa Fransiskus, merasakan kehangatan kasih, sekaligus kerinduan akan damai yang tulus. Dan ketika kita membaca Berbagi… Haruskah Dipenjarakan?, kita tersentak—bahwa bahkan di balik jeruji, kemanusiaan masih bisa bersemi. Bahwa berbagi tak pernah layak dibatasi. Dalam puisi Hening itu Mujizat, kita merenungi kekuatan diam. Sementara Nilai Tukar dan Cerita tentang Keadilan mengajak kita berpikir ulang: Apa arti harga diri, dan siapa yang sebenarnya adil?

Claudia menulis bukan hanya dengan pena, tapi dengan pengalaman. Ia mencatat rasa, merekam luka, dan menuangkan cinta ke dalam kata. Jalan Sunyi untuk Pulang adalah ziarah batin. Ia menyapa pembaca tak hanya sebagai penikmat, tapi sebagai peziarah. Peziarah yang sedang, atau mungkin baru akan memulai pulangnya masing-masing. Maka, mari kita buka lembar-lembar sunyi ini bersama. Dengan hati yang hening, dan langkah yang perlahan. Sebab kadang… jalan pulang memang dimulai dari kesunyian.

Bahasa & Sastra, Spiritualitas Tags:Claudia Karangora, Jalan Sunyi, Jalan Sunyi untuk Pulang, puisi, Pulang

Navigasi pos

Previous Post: Merambah Jalan Cinta Menggapai Kesempurnaan
Next Post: Kekristenan dan Teologi Asia: Inkulturasi, Dialog Antaragama, Pembebasan Paripurna

Related Posts

  • The Local Stories and Legends – KODAJA INA AMA GEN’A – Handed Down By The Ancestors From Udak-Lewuka-Lembata Antropologi
  • PENGANTAR LINGUISTIK NARIQ EDANG Sebuah Kajian Tentang Struktur Internal Bahasa Kedang Bahasa & Sastra
  • Biar Susah Sungguh! Bahasa & Sastra
  • MONOLOGION – Ketika Kata Bertingkah Bahasa & Sastra
  • Mengemas Perih Menjahit Rindu Bahasa & Sastra
  • Mengenal Budaya dan Bahasa Masyarakat Suku Krowe Sika di Kabupaten Sikka Propinsi NTT Antropologi
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks
  • Filsafat Politik: Dasar-Dasar Filosofis Kehidupan Bernegara
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • PERJANJIAN LISBON TAHUN 1859 DAN AKIBATNYA BAGI PULAU TIMOR, FLORES,SOLOR DAN SEKITARNYA (1847-2024)
  • Serpihan Budaya NTT Seni dan Budaya
  • Imam Masa Kini Gereja
  • Negara, Agama dan HAM Politik
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja Keluarga
  • Mengemas Perih Menjahit Rindu Bahasa & Sastra
  • Resolusi Masa Depan Pelajar – Teguhkan Iman, Menata Otak, Meraih Mimpi Lain-lain
  • PEMBURU YANG CEKATAN – Anjangsana Bersama Karya-Karya E. Douglas Lewis Antropologi
  • TERLIBAT – Kumpulan Sajak Bahasa & Sastra

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme