Awal Mula Penerbit Ledalero
Gagasan untuk menerbitkan jurnal ilmiah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero berangkat dari kesadaran akan pentingnya sebuah ruang akademik yang mampu menampung dan menyebarluaskan pemikiran ilmiah. Kesadaran ini mengemuka dalam sidang dewan dosen pada 5 Oktober 2001, yang kemudian memutuskan perlunya sebuah jurnal ilmiah sebagai media publikasi berkala. Dalam kesempatan itu, P. Paulus Budi Kleden, SVD ditunjuk sebagai ketua, didampingi oleh P. Philipus Tule, SVD sebagai wakil ketua bidang publikasi.
Pada tahap awal, jurnal ini dimaksudkan sebagai wadah bagi para dosen untuk mempublikasikan karya ilmiah mereka. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kebutuhan tersebut semakin meluas. Tidak hanya jurnal, tetapi juga penerbitan buku ilmiah, karya mahasiswa yang layak terbit, serta hasil penelitian dari berbagai lembaga di lingkungan Serikat Sabda Allah (SVD) menjadi bagian dari kebutuhan yang mendesak. Lembaga-lembaga seperti Pusat Penelitian Candraditya, Pusat Kerasulan Kitab Suci (PPKS) Ledalero, dan Sanggar Musik Arnoldus (SMAR) Ledalero turut memperkaya dinamika ini.
Dalam konteks inilah muncul gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga penerbit. Gagasan tersebut sejalan dengan visi P. Georg Kirchberger, yang saat itu memimpin biro penerbitan Lembaga Pembentukan Berlanjut Arnoldus Janssen (LPBAJ) Ledalero. Ia membayangkan pengembangan biro tersebut menjadi sebuah penerbit berbadan hukum yang dikelola secara lebih profesional, dengan jangkauan kerja yang lebih luas.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, dibentuklah sebuah tim kecil yang terdiri dari P. Georg Kirchberger, P. Hendrik Dori, P. Philipus Tule, dan P. Paulus Budi Kleden. Tim ini bertugas merumuskan konsep serta menyiapkan langkah-langkah strategis bagi penerbitan jurnal sekaligus pembentukan lembaga penerbit.
Melalui proses diskusi dan pertimbangan yang matang, tim akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah penerbit baru dengan mengintegrasikan biro penerbitan LPBAJ ke dalam suatu lembaga berbadan hukum. Penerbit tersebut pada awalnya diberi nama Penerbit Sang Sabda, yang kemudian berkembang dan dikenal sebagai Penerbit Ledalero.
Secara yuridis, Penerbit Ledalero berada di bawah naungan Yayasan Santo Paulus (YASSPA), sebagaimana STFK Ledalero. Legalitasnya ditegaskan melalui Surat Keputusan YASSPA tertanggal 8 Juni 2002. Tanggal ini kemudian dikenang sebagai tonggak berdirinya Penerbit Ledalero—sebuah langkah penting dalam perjalanan panjang pengembangan tradisi intelektual di Ledalero, yang terus berupaya menghadirkan karya-karya ilmiah bagi Gereja dan masyarakat luas.
VISI DAN MISI PENERBIT LEDALERO:
Visi:
Penerbit Ledalero hendak memberikan sumbangannya dengan menyajikan bahan-bahan bacaan ilmiah dan bermutu bagi masyarakat umumnya dan warga Gereja pada khususnya sebagai masukan bagi mereka dalam usahanya untuk memberdayakan dirinya menuju masyarakat yang cerdas, kritis dan dewasa.
Misi:
Untuk melaksanakan misi di atas Penerbit Ledalero berusaha untuk:
-
- mengkoordinasikan berbagai kegiatan publikasi di lingkungan STFK Ledalero.
- Melayani kebutuhan ilmiah bagi kalangan ilmuwan dan masyarakat pada umumnya.
- Memberikan sumbangan pemikiran ilmiah untuk mendampingi masyarakat dalam usaha pemberdayaan dirinya.
TENTANG NAMA ‘LEDALERO’
Tentang Nama “Ledalero”
Pada tahap awal pembentukannya, lembaga ini sempat direncanakan bernama Penerbit Sang Sabda. Namun, setelah melalui proses diskusi dan pertimbangan yang mendalam—terutama berkaitan dengan visi dan misi yang hendak diemban—diputuskan untuk menggunakan nama Penerbit Ledalero.
Hingga kini, pemahaman mengenai asal-usul dan makna kata Ledalero masih memunculkan beragam pendapat. Perbedaan tafsir tersebut tetap dihargai sebagai bagian dari kekayaan perspektif budaya. Dalam konteks penerbitan dan publikasi, nama ini dipilih dengan merujuk pada pengertian morfologisnya.
“Ledalero” merupakan nama sebuah bukit – tempat dimana penerbit ini didirikan. Secara etimologis, Ledalero berasal dari bahasa Sikka, yang terdiri dari dua kata: leda yang berarti “sandaran” dan lero yang berarti “matahari”. Dengan demikian, Ledalero dapat dimaknai sebagai “sandaran matahari”. Dalam imajinasi masyarakat setempat, ungkapan ini kerap merujuk pada sebuah bukit atau tempat di mana matahari seakan “bertengger” sebelum memancarkan cahayanya ke lembah dan perbukitan di sekitarnya.
Makna simbolis ini kemudian menjadi inspirasi bagi identitas Penerbit Ledalero. Sebagai “sandaran matahari”, penerbit ini diharapkan menjadi tempat bernaungnya terang kebijaksanaan—yakni ilmu pengetahuan, nilai-nilai iman, dan ajaran moral—yang terus dipancarkan ke berbagai penjuru. Dengan demikian, nama Ledalero tidak sekadar menunjuk pada lokasi geografis, tetapi juga mengandung cita-cita untuk menjadi sumber terang yang memberi arah dan makna bagi kehidupan bersama.
BIDANG PENERBITAN
Selaras dengan visi, misi, dan makna filosofis yang terkandung dalam namanya, Penerbit Ledalero berupaya menghadirkan diri sebagai sumber inspirasi yang memancarkan cahaya pencerahan. Kehadirannya ditujukan bagi masyarakat luas, dan secara khusus bagi umat Gereja, dalam upaya bersama membangun kehidupan yang bermartabat, beriman, cerdas, kritis, dan dewasa.
Dalam kerangka tersebut, Penerbit Ledalero memberikan perhatian pada beragam bidang keilmuan yang relevan dengan pengembangan manusia dan masyarakat. Bidang-bidang tersebut meliputi teologi, Kitab Suci dan liturgi, pastoral, etika, filsafat, antropologi, seni dan budaya, pendidikan, serta kajian tentang Gereja dan masyarakat. Selain itu, perhatian juga diberikan pada disiplin ilmu sosial seperti sosiologi dan psikologi, serta bidang-bidang lain yang sejalan dengan semangat pengembangan wawasan dan pembinaan kehidupan bersama.
Dengan cakupan ini, Penerbit Ledalero menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam memperkaya khazanah intelektual dan spiritual, sekaligus menghadirkan terang refleksi yang relevan bagi dinamika kehidupan manusia di tengah perubahan zaman.
MITRA PENERBIT LEDALERO:
Dalam mengembangkan karya dan jangkauan pelayanannya, Penerbit Ledalero menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik di bidang penerbitan maupun pemasaran.
Pada bidang penerbitan, selain terbuka untuk bekerja sama dengan para penulis lokal, Penerbit Ledalero juga membangun kemitraan dengan sejumlah penerbit internasional. Beberapa di antaranya adalah Catholic Foreign Mission Society of America, Inc. (Orbis Books), Ignatius Press, Macmillan Publisher, serta Libreria Editrice Vaticana. Kerja sama ini memperkaya khazanah publikasi sekaligus memperluas akses terhadap karya-karya ilmiah dan rohani dari berbagai konteks global.
Dalam bidang pemasaran, Penerbit Ledalero bekerja sama dengan Group PT Suka Buku Jakarta dan CV Solusi Distributor Yogyakarta, serta menjalin jaringan dengan berbagai toko buku dan distributor yang tersebar di seluruh Indonesia. Kolaborasi ini memungkinkan karya-karya Penerbit Ledalero menjangkau pembaca yang lebih luas.
Selain itu, Penerbit Ledalero juga didukung oleh mitra distribusi di beberapa wilayah, antara lain:
- Kupang: Frans Wayan, Perpustakaan UNIKA Kupang, Jl. A. Yani No. 50–52 (HP: 0813 3940 7106)
- Ruteng: Anselmus Waton (HP: 0813 3929 1324)
- Kalimantan: Philipus Wuring, Jl. MT. Haryono KM 3, RT 32, Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Sintang, Kalimantan Barat (HP: 0812 5675 091 / 0813 5229 0452)
Sebagai pusat layanan, Penerbit Ledalero juga mengelola toko buku yang berlokasi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Maumere 86152, Flores – NTT. Untuk komunikasi lebih lanjut, dapat menghubungi melalui email ledaleropublisher@yahoo.com / penerbitledalero@gmail.com – atau kontak 0822 3507 0533.
Melalui jejaring kemitraan ini, Penerbit Ledalero terus berupaya memperluas jangkauan pelayanan intelektual dan spiritualnya, sekaligus menghadirkan karya-karya yang relevan bagi Gereja dan masyarakat luas.

We love you, PL…
Terima kasih.
Kami menanti tulisan lain.