Penulis : RD. Aloysius Sato Ndate
Ukurang : 14,8 X 21 Cm
Ketebalan : 532 halaman
ISBN : Sedang diproses
Tahun Terbit : 2026
Harga : –
Sejarah • Teologi • Iman • Identitas • Pengharapan
Israel Mitra Allah – Dari Abraham hingga Yesus Kristus, dari Mesir hingga Inggris, dan dari Tanah Perjanjian hingga lahirnya Negara Israel Modern tahun 1948 mengajak pembaca menelusuri perjalanan panjang bangsa Israel dalam lintasan sejarah, iman, dan karya keselamatan Allah. Buku ini tidak hanya menyajikan rangkaian peristiwa sejarah, tetapi berusaha memperlihatkan bagaimana sejarah manusia menjadi ruang pewahyuan dan karya Allah yang berlangsung secara bertahap hingga mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus.
Pembahasan dimulai dari perspektif arkeologis dan teologis mengenai Israel, kemudian menelusuri kisah para leluhur—Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf—hingga Musa dan perjalanan pembebasan Israel dari Mesir. Selanjutnya, pembaca diajak mengikuti pembentukan bangsa Israel di Tanah Perjanjian, masa Yosua dan para hakim, lahirnya sistem monarki melalui Saul, kejayaan pemerintahan Daud dan Salomo, pembangunan Bait Allah, hingga perpecahan dan keruntuhan kerajaan Israel.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut melalui masa penaklukan, pembuangan, pemulihan, dan perjuangan mempertahankan identitas Israel di tengah kekuasaan berbagai imperium. Buku ini juga menguraikan kehidupan dan kelompok-kelompok Yahudi pada masa Bait Allah Kedua, pembentukan kanon Kitab Suci Ibrani, serta tradisi dan pesan para nabi. Dengan demikian, pembaca dapat melihat hubungan erat antara sejarah, arkeologi, Kitab Suci, tradisi keagamaan, dan perkembangan identitas Israel.
Salah satu bagian penting buku ini adalah pembahasan mengenai Yesus dari Nazaret sebagai Mesias dan penggenapan janji Allah. Perjalanan Israel ditempatkan dalam kesinambungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga pembaca dapat memahami konteks historis dan teologis kelahiran, pelayanan, wafat, dan kebangkitan Yesus serta lahirnya Gereja perdana.
Narasi kemudian diperluas hingga sejarah Tanah Suci pada masa Kristen awal, pemerintahan Islam, Perang Salib, Kesultanan Mamluk dan Ottoman, Mandat Inggris, hingga lahirnya Negara Israel modern pada tahun 1948 dan perkembangan konflik Arab-Israel. Dengan cakupan tersebut, buku ini memperlihatkan bagaimana suatu wilayah yang relatif kecil menjadi titik perjumpaan berbagai bangsa, agama, kebudayaan, dan kekuatan politik selama ribuan tahun.
Keistimewaan buku ini terletak pada upaya mempertemukan kajian sejarah, arkeologi, penelitian akademik, kesaksian Kitab Suci, dan refleksi iman Katolik secara seimbang. Penulis tidak bermaksud menjadikan buku ini sebagai kata akhir mengenai seluruh sejarah Israel, melainkan sebagai jembatan bagi pembaca untuk memasuki dunia sejarah Israel secara lebih luas, mendalam, dan bertanggung jawab.
Judul “Israel Mitra Allah” merujuk pada relasi perjanjian yang istimewa antara Allah dan umat yang dipanggil-Nya. Israel dipahami sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah dan sebagai sarana karya-Nya bagi bangsa-bangsa, yang dalam iman Kristiani mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus.
Pada akhirnya, buku ini tidak hanya mengajak pembaca mengenal masa lalu, tetapi juga mengundang pembaca untuk menemukan makna iman di balik perjalanan sejarah. Di tengah kegagalan, penderitaan, pembuangan, konflik, dan perubahan zaman, tampak sebuah benang merah: kesetiaan Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Sejarah Israel menjadi cermin bahwa Allah tetap bekerja dalam sejarah manusia dan bahwa harapan selalu terbuka di tengah berbagai krisis dan keterbatasan.
Buku ini ditujukan terutama bagi mahasiswa teologi, dosen dan pemerhati Kitab Suci, imam, biarawan-biarawati, frater, suster, katekis, pelayan pastoral, serta siapa saja yang ingin memahami sejarah Israel, Tanah Suci, dan akar sejarah iman Kristiani secara lebih utuh.
Dengan membaca Israel Mitra Allah, pembaca diajak bukan hanya untuk mengetahui sejarah sebuah bangsa, tetapi untuk memahami bagaimana sejarah, iman, identitas, pengharapan, dan karya keselamatan Allah saling berkelindan dalam perjalanan umat manusia.
