Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • Terus Berubah Tetap Setia; Dasar, Pola, Konteks Misi Agama
  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • TEOLOGI PERJANJIAN LAMA: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan Liturgi dan Kitab Suci
  • Memperkenalkan Teologi Feminis Teologi
  • DALAM MONCONG NEOLIBERALISME-Kritik Kenabian terhadap Penyelewengan Pembangunan dengan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Era Otonomi Daerah di Indonesia Ekonomi
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • KEKRISTENAN: SEBUAH IKHTISAR Lain-lain
  • Hidup Yang Sesungguhnya Spritualitas

Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi

Posted on 11 September 201913 Desember 2023 By ledalero

Penulis: Otto Gusti Madung
Tahun Terbit: 2017,
Jumlah Halaman: 198 hlm.
Ukuran: 150 x 230 mm
Penerbit: Ledalero
ISBN: 978-602-1161-30-2
Harga: Rp.60.000
————————

Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi oleh setiap masyarakat multikultural ialah relasi timpang antara kelompok mayoritas dan minoritas. Di Indonesia, akibat dari relasi timpang ini sering diderita oleh kelompok-kelompok minoritas penganut kepercayaan. Penganut Sapto Darmo di Berebes, Jawa Tengah misalnya kesulitan memakamkan keluarganya di pemakaman umum karena kolom agamanya di KTP kosong. Demikianpun perkawinan penganut kepercayaan Marapu di Sumba, Nusa Tenggara Timur, tidak dicatat negara. Akibatnya anak-anaknya tak memiliki akta kelahiran. Bahkan anak- anak Sunda Wiwitan sering harus berbohong soal identitas agamanya agar dapat bersekolah.
Praktik-praktik toleransi yang berbasis pada relasi timpang tidak mengakui prinsip kesetaraan dan hak asasi setiap warga negara untuk diperlakukan secara sama. Toleransi adalah hadiah yang diberikan oleh kelomopok mayoritas kepada kelompok minoritas. Model toleransi seperti ini sangat rapuh dan mudah sekali diprovokasi lewat isu-isu sektarian. Dalam kasus kerusuhan Tanjung Balai, Tolikara dan di tempat-tempat lain di tanah air, kita dapat menyaksikan bagaimana warga begitu gampang meninggalkan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan tradisi toleransi yang sudah diwariskan cukup lama hanya karena hasutan di media sosial. Sesama warga tak segan-segan dihabisi hanya karena berbeda agama dan kayakinan.Satu bukti bahwa toleransi belum tampil sebagai kebajikan politik demokrasi yang harus diperjuangkan. Toleransi dipandang sebagai sikap terpaksa membiarkan yang lain hidup lantaran factum pluralitas.
Kualitas demokrasi di Indonesia yang plural sangat ditentukan oleh kualitas kebajikan toleransi yang berpijak pada prinsip hak, kebebasan dan kesetaraan. Karena itu sudah saatnya untuk beralih dari model toleransi belas kasihan menuju paradigma hak. Bangsa Indonesia harus meninggalkan konsep toleransi pasif yang berbasiskan tradisi semata menuju toleransi otentik dengan penekanan pada persamaan hak antara kelompok mayoritas dan minoritas.
Buku “Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi” ini merupakan sebuah ikhtiar untuk memberikan kontribusi bagi penataan masyarakat Indonesia yang multikultural, beradab, setara dan inklusif.

Agama, Filsafat, Gereja, Politik

Navigasi pos

Previous Post: Pendekatan Reduksionis Terhadap Agama
Next Post: Menjelang Senja di Santiago: Otobiografi Seorang Diplomat

Related Posts

  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • DRAKULA ABAD 21 – Membongkar Kejahatan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Sebagai Kapitalisme Mutakhir Berhukum Rimba dan Ancamannya Terhadap Sistem Ekonomi Pancasila Ekonomi
  • Pendekatan Reduksionis Terhadap Agama Agama
  • Ilmu Perbandingan Agama Agama
  • Negara, Agama dan HAM Politik
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Teologi Publik untuk Konteks Indonesia
  • ISRAEL MITRA ALLAH – Dari Abraham Hingga Yesus Kristus, Dari Mesir Hingga Inggris, dan Dari Tanah Perjanjian Hingga Lahirnya Negara Israel Modern Tahun 1948
  • TEOLOGI TANAH ORANG MANGGARAI – Pendekatan Kontekstual Pascakolonial Tentang Iman, Adat, dan Keadilan Agraria
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks
  • Teologi Dalam Perspektif Global: Sebuah Pengantar Gereja
  • Merambah Jalan Cinta Menggapai Kesempurnaan Agama
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi Agama
  • MENDEKAP YANG TERHEMPAS – Masalah-Masalah Sosial dan Strategi Pastoral Konseling Gereja
  • Mengapa Gereja (Harus) Tolak Tambang – Sebuah tinjauan etis, filosofis dan teologis atas korporasi tambang Gereja
  • OASE SURGAWI: Khotbah Menurut Tahun Gereja Keluarga
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • Orang-Orang Katolik di Indonesia Jilid 1 & 2 Agama

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme