Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • ALLAH MENGGUGAT ALLAH MENYEMBUHKAN Teologi
  • TEOLOGI TERLIBAT – Politik & Budaya dalam Terang Teologi Spritualitas
  • MEMBUAT LANGIT TERSENYUM: Khotbah Sepanjang Tahun Gereja Pastoral
  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • Gerakan Ekumene Agama
  • Mati dan Bangkit Lagi Pastoral
  • Memperkenalkan Teologi Feminis Teologi
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja

Berani Berhenti Berbohong – 50 Tahun Pascaperistiwa 1965-1966

Posted on 29 Januari 2016 By ledalero

cover depan Akulah Allah leluhurmu… Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka. Ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang
pemeras dan menuntun mereka keluar dari negeri itu… (Kel 3:6-8)

******
Apakah perlu buku ini memperingatkan – seakan-akan mengungkit kembali – kekejaman masa lalu? Apakah tidak lebih baik kita tetap lupa, tetap tipu diri, karena apa yang sudah berlalu sudah berlalu? Menghadap pertanyaan yang meruncing ini, kita diajak berpaling pada apa yang ditandaskan oleh penyintas Sho’ah, survivor kamp penyiksaan konsentrasi Nazi, Elie Wiesel: Melupakan kekejaman manusia pada masa lalu, atau mengabaikan kekejaman yang terjadi pada masa kini, hari ini, yang terjadi di terlalu banyak tempat di seantero dunia, sungguh mengebalkan perasaan, dan bersifat picik lagi cupet. Melupakan kekejaman membuka peluang hingga kekerasan dapat terjadi lagi, malah lebih sering, lebih dekat kediaman kita. Itu sudah jelek. Namun, adalah bahaya yang sama besar jika kita mengabaikan tindakan keberanian orang yang mencenangkan lagi mengancam dirinya, tindakan keberanian yang meniadakan, membatalkan – malah membalikkan – tindakan kekerasan, dan yang sekaligus menjunjung tinggi hak dan martabat kita bagai manusia. Dengan melupakan masa lalu kita melepaskan catatan sejarah manusia ke dalam genggaman sosok-sosok yang menghancurkan, bukan di dalam tangan mereka yang menyelamatkan dan membangun.

Franz Magnis-Suseno dalam artikelnya mengajak bangsa Indonesia setelah 50 tahun gonosida 65/66 untuk berani menatap sejarahnya secara jujur dan membicarakannya secara terbuka. Bangsa Indonesia harus mengajukan pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah extraordinary crime against humanity pernah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan menjunjung tinggi nilai harmoni. Pertanyaan ini perlu diajukan demi integritas dan harga diri bangsa Indonesia sendiri. Magnis
mengingatkan dan menggarisbawahi bahwa membongkar sejarah tahun 65 bukan berarti mau menghidupkan kembali PKI.
Masalahnya bukan apakah PKI berada di belakang G30S atau tidak. Penulis sendiri tidak meragukan suatu keterlibatan Ketua PKI D.N. Aidit dan beberapa pimpinan lain PKI. Masalahnya adalah: Mengapa tidak cukup kalau PKI dilarang dan dibubarkan saja? Mengapa sampai sejuta rakyat (bisa lebih) mesti dibunuh?

Berharap sekalipun tak ada alasan untuk berharap (Lih. Rm 4:18). Karena itu, supaya kita benar-benar menolak penipuan penguasa dan melawan lupa penderitaan rakyat, telah hadir ke tengah Anda sebuah buku berjudul Berani Berhenti Berbohong. Buku ini berisikan sejumlah artikel seputar pembantaian 1965/1966. Sebagian besar artikel memberikan perhatian pada daerah NTT, diiringi berbagai analisis politik, psikologis dan agama.

Etika, Politik

Navigasi pos

Previous Post: LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah
Next Post: PAKET-PAKET RINDU Kumpulan Sajak (1) Adrian Ola Duli

Related Posts

  • MORAL SAMARITAN
    Dari kenisah menuju tepi jalan
    Agama
  • Negara, Agama, dan Hak-Hak Asasi Manusia Agama
  • DRAKULA ABAD 21 – Membongkar Kejahatan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Sebagai Kapitalisme Mutakhir Berhukum Rimba dan Ancamannya Terhadap Sistem Ekonomi Pancasila Ekonomi
  • Bukan Doping Politik Politik
  • Menggugat Logika APBN Politik
  • Filsafat Politik: Dasar-Dasar Filosofis Kehidupan Bernegara Etika
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks
  • Filsafat Politik: Dasar-Dasar Filosofis Kehidupan Bernegara
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • PERJANJIAN LISBON TAHUN 1859 DAN AKIBATNYA BAGI PULAU TIMOR, FLORES,SOLOR DAN SEKITARNYA (1847-2024)
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • DI ATAS BUMI SEPERTI DI DALAM LANGIT – Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada Antropologi
  • Jalan Sunyi untuk Pulang Bahasa & Sastra
  • PEMBURU YANG CEKATAN – Anjangsana Bersama Karya-Karya E. Douglas Lewis Antropologi
  • Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Bahasa & Sastra
  • MONOLOGION – Ketika Kata Bertingkah Bahasa & Sastra
  • KEKRISTENAN – Gerakan Universal-Sebuah Ulasan Sejarah Dari Kekristenan Bahari Sampai Tahun 1453 Gereja
  • Satu Abad Paroki Roh Kudus Nelle – Tetap Tegar di Tengah Badai (1921-2021) Gereja

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme