Editor : Hendrikus Maku, SVD, Felix Baghi, SVD
Ukuran : 15 cm X 23 cm
Ketebalan : 228 halaman
Tahun Terbit : 2026
Nomor ISBN : 978-623-6724-55-2
Buku Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks merupakan sebuah kesadaran bahwa pemikiran Pater Philipus Tule memiliki pengaruh luas dalam bidang antropologi budaya, Islamologi, filsafat agama, kepemimpinan, serta pelayanan pastoral-misioner. Para penulis berusaha merangkai kembali gagasan-gagasan beliau yang tersebar dalam ruang kelas, diskusi ilmiah, refleksi pastoral, hingga tulisan akademik menjadi satu narasi utuh tentang seorang imam, ilmuwan, dan misionaris.
Dalam buku ini, imamat dipahami bukan sekadar jabatan gerejawi, melainkan partisipasi dalam imamat Kristus sendiri. Pater Philipus digambarkan sebagai imam yang hidup di tengah altar sekaligus dunia gagasan, yang mampu menjembatani iman, budaya, dan realitas sosial masyarakat.
Salah satu kontribusi penting beliau tampak dalam bidang Islamologi dan filsafat Islam. Pater Philipus menempatkan dialog antaragama sebagai jalan perjumpaan dan persaudaraan. Ia tidak berhenti pada studi teoritis tentang Islam, tetapi mendorong dialog kehidupan yang menekankan manfaat bagi sesama manusia, penghormatan terhadap pluralitas, dan pencarian titik temu antara iman dan kemanusiaan.
Dalam bidang antropologi budaya, Philipus Tule memandang kebudayaan sebagai ruang makna tempat manusia membangun identitas, relasi, dan memahami keberadaannya. Melalui konsep “Rumah sebagai Teks”, budaya dibaca sebagai jaringan simbol yang merekam memori kolektif, spiritualitas, relasi komunal, dan kearifan lokal. Karena itu, budaya Nusa Tenggara Timur tidak sekadar warisan tradisional, melainkan sumber pengetahuan dan kebijaksanaan yang perlu ditafsirkan secara kritis untuk menjawab tantangan zaman.
Buku ini juga menyoroti relevansi pemikiran Pater Philipus dalam menghadapi persoalan dunia modern, seperti ketimpangan sosial, krisis ekologis, konflik sumber daya alam, dan persoalan geothermal di Flores. Dalam situasi dunia yang terluka (wounded world), pemikiran beliau hadir sebagai suara profetis yang membela kehidupan, martabat manusia, dan kelestarian alam.
Buku ini disusun dalam beberapa bagian utama:
Antropologi Budaya
Dalam bidang antropologi budaya, Philipus Tule memberikan outlook baru tentang “Rumah” (Rumah Adat). Dalam konsep “Rumah sebagai Teks”, Tule berpandangan, manusia adalah makhluk yang hidup dalam jejaring makna, simbol, dan praktik budaya. Baginya, Rumah Adat bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah “teks” yang menyimpan dan menyampaikan makna-makna budaya yang terus dibaca, ditafsirkan, dan diwariskan oleh masyarakat.
Bagi Tule, kebudayaan tidak hanya hadir dalam bahasa, cerita, atau dokumen tertulis, tetapi juga diwujudkan dalam simbol-simbol material seperti Rumah Adat. Struktur bangunan, pembagian ruang, letak tiang, ritus yang dilaksanakan di dalamnya, hingga hubungan rumah dengan lingkungan sosial dan kosmologis merupakan simbol yang mengandung pesan tentang identitas, sistem kekerabatan, relasi dengan leluhur, hubungan dengan alam, dan pemahaman tentang Yang Ilahi. Karena itu, rumah dapat dibaca layaknya sebuah teks yang memuat pandangan dunia dari suatu masyarakat.
Pendekatan ini tampak kuat dalam perhatian Philipus Tule terhadap budaya-budaya di Nusa Tenggara Timur. Ia melihat bahwa masyarakat lokal menyimpan kearifan tradisional yang kaya melalui simbol dan praktik budaya mereka. Rumah Adat menjadi salah satu ruang utama, tempat nilai-nilai solidaritas, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, identitas komunal, dan spiritualitas diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, rumah bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga “arsip budaya” dan “ruang memori kolektif” masyarakat.
Secara filosofis, gagasan”Rumah sebagai Teks” menegaskan bahwa manusia selalu hidup dalam dunia yang penuh makna (meaningful). Untuk memahami suatu masyarakat, seseorang tidak cukup melihat bentuk fisik rumahnya, tetapi harus menafsirkan simbol-simbol dan praktik budaya yang hidup di dalamnya. Melalui pembacaan semacam itu, rumah menjadi jendela untuk memahami kebijaksanaan lokal, identitas budaya, serta cara suatu komunitas membangun relasi antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan.
Singkatnya, dalam pemikiran Philipus Tule, rumah adalah teks budaya karena di dalamnya terjalin jaringan makna (webs of significance), simbol, dan praktik kehidupan yang mengungkapkan jati diri serta kearifan suatu masyarakat. Membaca rumah berarti membaca kebudayaan itu sendiri.
Islamologi
Dalam bidang Islamologi, Pater Philipus Tule menghadirkan wajah dialog antaragama yang terbuka dan mendalam. Ia memandang Islam bukan sebagai objek yang harus dipertentangkan, tetapi sebagai tradisi iman yang perlu dipahami dengan sikap hormat dan persaudaraan. Pendekatan beliau menekankan pentingnya dialog kehidupan, yakni perjumpaan nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dibangun atas dasar kemanusiaan bersama. Pemikiran ini menjadi sangat relevan dalam masyarakat Indonesia yang plural, di mana toleransi dan kerja sama lintas agama menjadi kebutuhan mendasar bagi perdamaian sosial.
Sosiologi
Dari perspektif sosiologi, pemikiran beliau menunjukkan perhatian kuat terhadap persoalan masyarakat modern seperti ketimpangan sosial, marginalisasi, konflik identitas, dan perubahan budaya akibat globalisasi. Pater Philipus melihat bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki keberpihakan pada manusia, terutama mereka yang kecil dan rentan. Karena itu, refleksi akademik tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus menyentuh realitas konkret masyarakat dan mendorong transformasi sosial yang lebih adil dan manusiawi.
Filsafat Agama
Dalam filsafat agama, Pater Philipus Tule berusaha memperlihatkan bahwa agama memiliki dimensi rasional sekaligus spiritual. Agama tidak semata-mata berkaitan dengan ritus dan doktrin, tetapi juga menyentuh pertanyaan mendasar tentang makna hidup, relasi manusia dengan Tuhan, dan tanggung jawab moral terhadap sesama. Melalui pendekatan filosofis, beliau mengajak pembaca melihat agama sebagai ruang refleksi yang memperkaya dialog, memperdalam kemanusiaan, dan membangun keterbukaan terhadap perbedaan.
Kepemimpinan
Pemikiran tentang kepemimpinan dalam buku ini menampilkan model kepemimpinan yang berakar pada pelayanan dan keteladanan. Kepemimpinan tidak dipahami sebagai kekuasaan yang dominatif, melainkan sebagai tanggung jawab moral untuk melayani, mendengarkan, dan membangun sesama. Dalam diri Pater Philipus Tule, kepemimpinan tampak sebagai perpaduan antara kedalaman intelektual, kepekaan sosial, dan kesederhanaan hidup. Model kepemimpinan seperti ini menjadi penting di tengah dunia modern yang sering kali lebih menonjolkan kekuasaan daripada pengabdian.
Bagian terakhir berisi kesaksian personal tentang kepribadian, pengaruh, dan perjalanan hidup Pater Philipus sebagai imam, dosen, pemimpin, dan sahabat.
Secara keseluruhan, buku ini menjadi ruang refleksi bersama tentang makna iman, pelayanan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan. Buku ini tidak hanya mengenang perjalanan seorang imam dan intelektual, tetapi juga mengajak pembaca untuk melanjutkan semangat dialog, pelayanan, pencarian makna, dan keberpihakan pada kehidupan di tengah dunia yang terus berubah.
