Pengara
ng : Dr. Paul Budi Kleden
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xx + 246 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 42.000
Agama merupakan ekspresi perjumpaan yang mendalam antara dunia dan sejarah dengan Yang Kudus, serta perayaan iman akan keterlibatan-Nya yang aktif dalam keduanya. Dunia di sini melambangkan ruang atau tempat, sementara sejarah merujuk pada dimensi waktu dalam kehidupan manusia yang profan. Dalam kerangka itu, Yang Kudus dipahami sebagai realitas yang melampaui ruang dan waktu, transenden sekaligus imanen, menjadi sumber utama, pendamping setia, dan tujuan akhir dari ziarah manusia di tengah arus sejarah.
Pembedaan antara yang kudus dan yang profan tampak nyata dalam praktik pengkhususan: ruang dan waktu tertentu dipisahkan dari keseharian untuk menandai kehadiran Yang Kudus. Di tempat-tempat dan pada waktu-waktu khusus itu, ritus diselenggarakan oleh pribadi-pribadi yang telah ditahbiskan atau dipersiapkan secara religius, sesuai dengan tradisi iman masing-masing. Karena itu, hampir semua agama mengenal hari raya keagamaan — momen-momen liturgis yang tidak sekadar mengulang, tetapi menghadirkan kembali intervensi ilahi yang pernah terjadi dalam sejarah dan terus hidup dalam harapan umat beriman.
Dalam konteks ini, metafora “di tebing waktu” menjadi sangat signifikan. Seperti seseorang yang berdiri di tebing curam, manusia dalam momen-momen tertentu dihadapkan pada situasi yang menuntut kesadaran penuh dan keputusan eksistensial. Di tebing waktu, manusia tidak dapat bersikap netral: ia harus memilih antara pertobatan yang otentik (metanoia) atau keterjebakan dalam ritualisme kosong yang kehilangan daya ubah terhadap dunia dan sejarah.
Setiap intervensi Allah dalam sejarah manusia — yang dirayakan dalam ritus-ritus liturgis — sejatinya adalah ajakan untuk menyadari kenyataan waktu dan tempat secara aktual. Perayaan religius tidak sekadar memutar ulang narasi suci, tetapi menyentak kesadaran dan menggugah tanggung jawab manusia untuk menata kembali masa depan, baik secara pribadi maupun kolektif. Dengan demikian, hari-hari besar dalam kekristenan — seperti Natal, Paskah, dan Pentakosta — bukan hanya kenangan akan karya Allah, melainkan juga undangan untuk memperbarui komitmen iman dalam menanggapi suka dan duka, harapan dan kecemasan dunia serta sejarah.
Agama, pada akhirnya, tidak bisa dilepaskan dari dinamika hidup manusia di dalam dunia. Justru dalam dunia dan sejarah itulah Yang Kudus menjumpai manusia, menuntunnya ke tebing waktu, dan menawarkan kesempatan untuk bertumbuh dalam kesadaran, pertobatan, dan perutusan. Kredibilitas iman kita diuji bukan hanya dalam ritus, tetapi dalam cara kita menanggapi panggilan itu dengan tanggung jawab dan keberanian moral.
