Penulis : Puplius M. Buru, dkk.
Editor : Puplius M. Buru, Bernardus S. Hayong
Ketebalan : 214 hlm.
Ukuran Buku : 14 x 21 cm
ISBN : Masih dalam proses
Tahun : Mei 2024
Ungkapan “dialog dengan realitas” sangat tepat untuk merangkum inti dari seluruh isi buku ini. Sejak awal sejarahnya, Gereja telah dipanggil untuk senantiasa membuka diri dan berdialog dengan kenyataan-kenyataan konkret yang dihadapinya, baik di ranah budaya, sosial, maupun eksistensial.
Realitas pertama yang dihadapi oleh Gereja perdana adalah tantangan untuk berdialog dengan budaya yang berbeda. Gereja yang lahir dari rahim tradisi Yahudi, harus segera berhadapan dengan dunia Helenistik yang sangat berbeda dalam cara berpikir, nilai-nilai, dan gaya hidup. Namun, alih-alih menolak atau menutup diri, Gereja justru menyambut perjumpaan ini dengan sikap terbuka dan kreatif. Pertemuan antara iman Kristiani dan budaya Yunani ini tidak hanya memperkaya kehidupan Gereja, tetapi juga menjadi sumber inspirasi teologis dan pastoral. Perjumpaan lintas budaya ini bisa menjadi paradigma penting bagi Gereja masa kini dalam mewujudkan misi evangelisasi yang kontekstual dan relevan.
Realitas kedua yang tak terelakkan dalam sejarah Gereja adalah pengalaman penderitaan. Sejak salib Kristus menjadi pusat iman, Gereja telah menapaki jalan yang ditandai oleh luka, penganiayaan, dan pengorbanan. Namun dari pengalaman getir inilah lahir sebuah komunitas alternatif—Gereja—yang dibangun di atas fondasi solidaritas dan harapan. Dalam dunia yang sarat ketimpangan dan ketidakadilan, Gereja diundang untuk menjadi tanda harapan melalui kasih yang nyata antaranggota dan komitmennya terhadap dunia yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, dialog dengan realitas bukanlah pilihan, melainkan jantung dari keberadaan Gereja itu sendiri. Di situlah Gereja menemukan panggilan sejatinya: hadir, menyapa, dan berjalan bersama dunia—dengan iman yang teguh dan cinta yang terbuka.
***
