Penerbit : Penerbit Ledalero
Cetakan : I ……….. 2025
Jumlah Halaman : xii + 132 hlm
Ukuran : 140 x 210 mm
ISBN : 978-623-6724-51-4
Harga :
Kurban merupakan salah satu bentuk ekspresi religius yang paling purba dan universal dalam sejarah peradaban manusia. Dalam hampir seluruh tradisi keagamaan, kurban memainkan peran sentral sebagai sarana komunikasi vertikal antara manusia dan Yang Ilahi. Secara fundamental, kurban tidak hanya dipahami sebagai persembahan material, melainkan sebagai simbol eksistensial dari sikap penyerahan diri, ungkapan syukur, permohonan ampun, serta harapan akan berkat dan keselamatan. Dalam dimensi ini, kurban merepresentasikan relasi timbal balik antara yang profan dan yang sakral, antara manusia yang terbatas dan Allah yang transenden.
Dalam tradisi Kristen, khususnya dalam lingkup teologi Katolik, konsep kurban mengalami perkembangan teologis yang kompleks dan dinamis. Dimulai dari sistem kurban dalam Perjanjian Lama, yang bercirikan ritual liturgis dan simbolisme pengampunan dosa, pemahaman ini kemudian mengalami transformasi radikal dalam terang Perjanjian Baru, khususnya melalui misteri kurban Kristus di salib, yang dipahami sebagai sacrificium perfectum—kurban sempurna dan final. Realitas ini menjadi pusat refleksi teologis Gereja sepanjang sejarah, baik dalam liturgi Ekaristi, ajaran para Bapa Gereja, maupun dalam perumusan dogmatis dan diskursus teologi kontemporer.
Dalam konteks pastoral dan kultural Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Kalimantan, konsep dan praktik kurban mengambil bentuk yang lebih kompleks karena berinteraksi langsung dengan tradisi dan budaya lokal yang kuat. Di banyak komunitas adat, praktik kurban tradisional masih dipraktikkan sebagai bagian integral dari sistem kepercayaan dan kosmologi lokal. Hal ini menimbulkan dinamika dan bahkan ketegangan antara iman Kristen yang diwartakan melalui proses evangelisasi dan warisan budaya leluhur yang masih hidup dalam imajinasi dan praksis keagamaan masyarakat setempat.
Fenomena tersebut menciptakan ruang dialog yang menuntut refleksi teologis yang kritis dan kreatif, terutama dalam perspektif inkulturasi iman. Inkulturasi, sebagai proses integrasi antara Injil dan budaya lokal, menuntut suatu pendekatan hermeneutik yang mampu membedakan antara elemen budaya yang kompatibel dengan pesan Injil dan elemen yang bertentangan dengannya. Dalam konteks ini, tema kurban menjadi medan ujian yang nyata bagi perjumpaan antara iman dan budaya, serta bagi konstruksi identitas iman umat Katolik yang kontekstual dan otentik.
Buku Kurban yang Berkenan kepada Allah karya Puplius Meinrad Buru merupakan respons reflektif dan pastoral atas tantangan-tantangan tersebut. Melalui pendekatan interdisipliner yang mencakup analisis biblis, historis, antropologis, dan teologis, karya ini menyuguhkan pemahaman menyeluruh mengenai kurban dalam tradisi Gereja dan dalam diskursus teologi masa kini. Dengan mendasarkan diri pada khazanah ajaran Gereja serta refleksi para teolog besar seperti Odo Casel, Karl Rahner, hingga Joseph Ratzinger, buku ini menuntun pembaca untuk memahami makna kurban secara mendalam, baik dalam aspek doktrinal maupun praksis pastoral.
Tujuan utama dari karya ini adalah menyediakan kerangka konseptual dan pastoral bagi para pelayan Gereja dan teolog lokal, agar mereka dapat menanggapi dilema iman umat secara bijak, khususnya terkait praktik kurban tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini juga berupaya mendorong suatu proses disermen kultural yang bertanggung jawab: mengidentifikasi unsur-unsur budaya yang dapat dipertahankan dan diintegrasikan dalam terang iman Katolik, serta membedakan unsur yang perlu ditinggalkan demi kesetiaan pada Injil.
Dengan demikian, karya ini bukan sekadar kontribusi akademik terhadap pengembangan teologi kurban, melainkan juga merupakan bentuk keterlibatan pastoral yang relevan dan kontekstual. Dalam masyarakat multikultural dan religius seperti Indonesia, pendekatan semacam ini menjadi sangat penting demi membangun iman yang tidak asing terhadap budayanya sendiri, namun tetap berakar dalam kebenaran Injil yang membebaskan dan menyelamatkan.
