Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • TEOLOGI TERLIBAT – Politik & Budaya dalam Terang Teologi Spritualitas
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • ALLAH MENGGUGAT ALLAH MENYEMBUHKAN Teologi
  • Ilmu Perbandingan Agama Agama
  • Mati dan Bangkit Lagi Pastoral
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat
  • Allah Akbar-Allah Akrab Agama
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks Agama

MORAL SAMARITAN
Dari kenisah menuju tepi jalan

Posted on 17 Januari 202317 Januari 2023 By ledalero

Judul               : Moral Samaritan – Dari Kenisah Menuju Tepi Jalan

Penulis            : Fredy Sebho

Ketebalan        : 188 halaman

Ukuran           : 140 x 210 mm

ISBN               : 978-602-1161-52-4

Tahun Terbit  : 2018

Sungguhkah kekudusan hidup itu melulu muncul dari sikap tunduk semadi dalam kuil-kuil peribadatan? Semata dari sembahyang yang panjang dan bertele-tele dalam kenisah-kenisah pemujaan?

Banyak orang yang merasa ‘sudah cukup’ untuk menjadi agamawan yang saleh hanya dengan bersembahyang dan tunduk sujud di kenisah, mengheningkan cipta lalu selesai. Dengan demikian, surga sudah niscaya dicapai. Ini keliru, sebab agama yang sehat dan otentik itu selalu memiliki keutamaan etis rangkap: emosi dan tindakan. Ini bukan saja mutlak, tetapi juga sebagai semacam kemestian kodrati.

Seandainya kita sudah ‘merasa cukup’ seperti ini, kita sesungguhnya sedang terjebak dalam kesalahan laten yaitu menjadi kaum agamawan yang hanya mengindahkan tuntutan transendensi dalam rumah pemujaan, sambil memunggungi tuntutan sosial duniawi yang sedang terjadi di luar tembok rumah pemujaan tersebut. Bukan tidak mungkin, kesalahan laten macam ini bisa membuat seseorang mudah tergelincir dalam kesalahan baru lagi yakni keangkuhan yang naif dan fanatisme yang dangkal.

Keunggulan agama tidak melulu terletak pada kelaziman untuk menjalankan ritus-seremonial. Ritualitas memang wajar dan mesti ada. Tak bisa dihilangkan seenaknya saja. Tetapi, ada aspek lain juga yang tidak boleh disepelehkan begitu saja yakni kasih nyata pada sesama sebagai bentuk pembenaran iman. Sebab, kesalehan kultis jika tidak dibarengi dengan kesalehan sosial adalah bentuk nonsense upon stilts, omong kosong yang muluk. Manusia bisa menjadi lebih mulia hidupnya ketika ia bukan hanya sebagai makhluk yang hanya pintar berharap, tapi juga serentak sebagai makhluk pembawa harapan saat ia memberikan dirinya dan membagikan kelebihannya dalam cinta yang total-utuh untuk mereka yang mendambakannya. Makanya, «tidak akan pernah ada orang yang dihormati karena apa yang dia terima, melainkan karena apa yang dia berikan.»

Membaca buku ini, moralitas dan keagamaan kita seakan sedang dicolek penulis sembari bercermin pada injil Lukas 10: 25-37.   Bolehkah kita percaya bahwa moral dan agama bisa sama-sama saling bersentuhan satu dengan yang lainnya? Boleh saja! Tetapi, perkara  akan muncul kalau kita mulai mempersoalkan bagaimana kalau kaum teis dan ateis memiliki konsepsi yang berlainan tentang, bahkan bertentangan terhadap keduanya.

Kata lainnya, jika seseorang diminta untuk mendeskripsikan persentuhan yang simbiosik antara moral dan agama dalam makna yang seluas dan seumum mungkin, bisa jadi ia akan mengalami kendala yang rumit dan pelik. Sebab, di satu sisi, ada yang mengakui bahwa moral dan agama memang tidak bisa dipisahjauhkan satu dengan yang lain karena keduanya dijadikan sebagai kerangka orientasi hidup yang wajib dimiliki dengan suasana hati penuh penerimaan, dan mematuhinya dengan kebahagiaan penuh antusias. Namun, di sisi lain, ada yang melihat bahwa agama, dalam fungsinya yang maksimal, samasekali tidak ada sangkut pautnya dengan moralitas seseorang, atau sebaliknya, moralitas seseorang tidak  perlu mensyaratkan agama. Keduanya terpisah secara jelas dan akurat!

Penting untuk ditekankan bahwa isi buku ini samasekali bukanlah sebuah interpretasi biblikal atau penafsiran ipsissima verba, kata per kata atas injil Lukas 10: 25-37. Sekali lagi, bukan! Tetapi lebih merupakan sebuah pembeberan ala kadarnya mengenai unsur-unsur hidup keberagamaan dan moralitas berdasarkan teks injil tersebut. Tepatnya, inti keberagamaan dan moral bersamaan dengan pemahaman dan penghayatannya. Tujuannya bukanlah untuk “mengajari”, apalagi “menggurui” seseorang bagaimana seharusnya ia beragama dan bermoral. Saya tidak pernah merasa mampu dan berhak untuk itu. Buku ini juga sama sekali tidak bermaksud “mengadili” orang-orang beragama, karena dalam urusan-urusan agamawi, pengadilan sesungguhnya diserahkan saja pada saat akhirat kelak.

“Saya lebih suka Gereja yang memar, terluka dan kotor
karena telah keluar di jalan-jalan,
daripada Gereja yang tidak sehat
karena dibatasi dan menempel pada kenyamanan dirinya sendiri”
[Paus Fransiskus]

 


Agama, Etika, Spritualitas Tags:Moral Samaritan

Navigasi pos

Previous Post: Bukan Berhala – Penghormatan Kepada Roh Orang Meninggal
Next Post: BAHTERA TERANCAM KARAM – Lima Masalah Sosial Ekonomi dan Politik yang Meruntuhkan Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Related Posts

  • VOICE IN THE WILDERNESS – Pesan Paus Paulus II Untuk Hari Komunikasi Sedunia Gereja
  • SPIRITUALITAS IMAMAT-MOTOR KEHIDUPAN IMAM Pastoral
  • BERSAING ATAU BERSAHABAT? Dakwah Islam – Misi Kristen di Afrika Agama
  • COVID-19 DAN VISI MASA DEPAN KEHIDUPAN BERSAMA Lain-lain
  • Allah Akbar-Allah Akrab Agama
  • Merambah Jalan Cinta Menggapai Kesempurnaan Agama
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Khazanah Pemikiran Philipus Tule, SVD – Rumah Sebagai Teks
  • Filsafat Politik: Dasar-Dasar Filosofis Kehidupan Bernegara
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • PERJANJIAN LISBON TAHUN 1859 DAN AKIBATNYA BAGI PULAU TIMOR, FLORES,SOLOR DAN SEKITARNYA (1847-2024)
  • KOKOR GOLA KOLANG- Pesan-Pesan Kearifan Tradisi Pante Pembuatan Gula Aren di Manggarai Barat Antropologi
  • Pengantar Pendidikan Pendidikan
  • SOSIOLOGI Lain-lain
  • Terus Berubah Tetap Setia; Dasar, Pola, Konteks Misi Agama
  • Redeskripsi dan Ironi Cita Rasa Kemanusiaan Filsafat
  • Metodologi Seni Menulis Karya Ilmiah Bahasa & Sastra
  • Allah Akbar-Allah Akrab Agama
  • Semana Santa di Larantuka – Sejarah dan Liturgi Agama

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme