Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • Allah Menggugat Sebuah Dogmatik Kristiani Teologi
  • DALAM MONCONG NEOLIBERALISME-Kritik Kenabian terhadap Penyelewengan Pembangunan dengan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Era Otonomi Daerah di Indonesia Ekonomi
  • Gerakan Ekumene Agama
  • Mati dan Bangkit Lagi Pastoral
  • Kompendium Ajaran Sosial Gereja Gereja
  • KEKRISTENAN: SEBUAH IKHTISAR Lain-lain
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat

EXODUS MENOLAK LUPA – Catatan Kenangan Para Saksi Korban Banjir Bandang, Lamanele, 4 April 2021

Posted on 27 Maret 20244 Agustus 2025 By ledalero

Penulis     : Ansel B. Molan

Ketebalan : 246 halaman

Ukuran    : 14 X 21 cm

ISBN        : 978-623-6724-38-5

Terbit       : 2024

EXODUS, Menolak Lupa: Sebuah Ziarah Ingatan, Luka, dan Harapan

Pada 4 April 2021, badai Siklon Tropis Seroja menyapu wilayah timur Nusa Tenggara Timur dengan kekuatan yang memorakporandakan. Di antara tempat-tempat yang paling terpukul adalah desa Nelelamadike di Pulau Adonara. Banjir bandang yang datang bersama badai itu tak sekadar menghancurkan rumah-rumah dan memutus jalur kehidupan, tetapi juga merenggut nyawa, mengguncang batin, dan meninggalkan jejak luka yang dalam di tubuh masyarakat.

EXODUS, Menolak Lupa hadir sebagai sebuah karya dokumenter dan reflektif yang mencoba menyusun kembali potongan-potongan kenangan yang tercecer dalam kepedihan dan keheningan para korban. Buku ini bukan semata-mata kumpulan kisah sedih; ia adalah suara dari puing-puing, sebuah seruan untuk mengingat, dan lebih dari itu, tindakan perlawanan terhadap kelupaan.

Mengapa “Exodus”?

Pilihan kata “Exodus” sebagai judul buku tidaklah kebetulan. Exodus – keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir menuju tanah kebebasan – merupakan kisah spiritual pergerakan dari keterpurukan menuju pengharapan, dari luka menuju pemulihan. Dalam konteks Nelelamadike, exodus adalah pelarian para korban dari terjangan banjir, namun sekaligus pelarian dari bayang-bayang trauma menuju ruang-ruang pemaknaan yang memberi harapan.

Buku ini mencatat tidak hanya eksodus secara fisik, tetapi juga eksodus batin, suatu perjalanan spiritual dari keterpanaan menuju pemahaman; dari ketakutan menuju keberanian untuk mengingat. Karena dalam masyarakat yang mudah lupa, mengingat adalah tindakan profetik – ia memelihara kemanusiaan kita.

Mengingat Sebagai Perlawanan, Menulis Sebagai Penyembuhan

Setiap narasi dalam buku ini dituturkan oleh mereka yang menyaksikan dan mengalami. Ada luka dalam tiap kata. Namun justru dalam menyusun kata-kata dari luka itulah muncul kekuatan penyembuhan. Menulis menjadi cara untuk menemukan kembali suara yang sempat hilang. Menulis adalah ruang aman untuk mengisahkan rasa bersalah yang tak terucapkan, kehilangan yang tak bisa ditangisi, dan kekuatan yang pelan-pelan bangkit dari puing-puing reruntuhan.

Dan karena itu, mengingat bukan untuk merawat trauma, melainkan untuk memberi tempat bagi luka, supaya luka itu tidak membusuk dalam diam. Melalui kenangan-kenangan ini, para korban diundang untuk berdamai dengan masa lalu tanpa harus melupakannya, dan masyarakat luas diajak untuk berempati secara konkret, bukan sekadar simpatik secara lisan.

Melawan Budaya Lupa

Kita hidup di zaman yang cepat melupakan. Bencana datang dan pergi. Berita-berita berganti setiap hari. Namun bagi mereka yang menjadi korban, waktu tidak berjalan secepat itu. Luka mereka tidak sembuh secepat berita itu menghilang dari layar televisi. Karena itu, buku ini menjadi penting. Ia menjadi penanda bahwa peristiwa itu pernah ada dan tidak boleh dihapus dari sejarah kolektif kita.

Dengan mengangkat kembali kisah-kisah dari desa kecil yang nyaris terpinggirkan dari narasi besar nasional, EXODUS juga menjadi suara dari pinggiran, dari mereka yang jarang didengar. Dan inilah hakikat keadilan naratif – bahwa setiap penderitaan, sekecil apa pun, layak diberi tempat dalam sejarah.

Dibebaskan, Disembuhkan, tetapi Tidak Melupakan

Kita boleh berharap pada masa depan, tapitidak dengan mengubur masa lalu. Kita bisa bangkit dan menyusun kembali hidup, namun tidak dengan berpura-pura bahwa tragedi itu tak pernah terjadi. Seperti Yesus yang bangkit dengan luka di tangan-Nya, demikian pula kita dipanggil untuk bangkit sambil tetap mengingat luka – bukan untuk meratap, tetapi untuk menghargai kehidupan.

Buku ini adalah ziarah: ke dalam kenangan, ke dalam luka, dan akhirnya ke dalam pengharapan. Ia tidak hanya mencatat bencana, tetapi juga mengisahkan iman, ketabahan, solidaritas, dan kekuatan manusia untuk bertahan dan melanjutkan hidup.

Dan dalam semuanya itu, satu pesan utama mengalun pelan tapi pasti: Kita telah dibebaskan. Kita mungkin disembuhkan. Tapi kita tidak boleh melupakan.

Keluarga, Lain-lain, Sosiologi Tags:Banjir Bandang, Catatan kenangan para saksi korban banjir, Exodus, Lamanele, Menolak lupa

Navigasi pos

Previous Post: PARRHESIA: Mozaik-Mozaik Aksara untuk Kemanusiaan  dan Indonesia Maju
Next Post: GEREJA YANG TERLIBAT – Dialog Iman, Budaya dan Teologi Paus Fransisikus

Related Posts

  • MEMAHAMI IMAN DALAM DUNIA SEKULER Lain-lain
  • COVID-19 DAN VISI MASA DEPAN KEHIDUPAN BERSAMA Lain-lain
  • MAFIA BANK DUNIA & IMF – Alat Penjajahan Baru Negara Industri Terhadap Negara Berkembang Sejak Akhir Perang Dunia Ekonomi
  • DRAKULA ABAD 21 – Membongkar Kejahatan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Sebagai Kapitalisme Mutakhir Berhukum Rimba dan Ancamannya Terhadap Sistem Ekonomi Pancasila Ekonomi
  • Tingkahlaku Kolektif dan Gerakan Sosial – Sebuah Pengantar Lain-lain
  • Bahasa Indonesia Identitas Kita Lain-lain
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Reduplikasi Morfemis Bahasa Manggarai
  • Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman Agama
  • BERSAING ATAU BERSAHABAT? Dakwah Islam – Misi Kristen di Afrika Agama
  • Menggugat Logika APBN Politik
  • Kisah Pengembaraan Ibarruri Putri Alam – Anak sulung D.N. Aidit Biografi
  • DRAKULA ABAD 21 – Membongkar Kejahatan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Sebagai Kapitalisme Mutakhir Berhukum Rimba dan Ancamannya Terhadap Sistem Ekonomi Pancasila Ekonomi
  • PERJANJIAN LISBON TAHUN 1859 DAN AKIBATNYA BAGI PULAU TIMOR, FLORES,SOLOR DAN SEKITARNYA (1847-2024) Politik
  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • Model-Model Teologi Kontekstual Teologi

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme