Penulis : Sefrianus Juhani
Penerbit : Ledalero
Ketebalan : 184 halaman
Ukuran : 15 x 23cm
ISBN : 978-623-6724-53-8
Tahun Terbit : November 2025
Krisis ekologis dewasa ini telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Pemanasan global, perubahan iklim, deforestasi, pencemaran, dan eksploitasi alam besar-besaran merupakan tanda-tanda betapa rapuhnya bumi sebagai rumah bersama. Luka ekologis itu bukan hanya masalah teknis yang dapat diselesaikan dengan teknologi, melainkan krisis peradaban yang menyentuh cara manusia memandang dirinya, lingkungannya, dan relasinya dengan Yang Ilahi. Situasi inilah yang menjadi latar keprihatinan Sefrianus Juhani ketika menulis karyanya Ekoteologi Orang Manggarai.
Dalam pengantarnya, Juhani menegaskan bahwa bumi bukan sekadar ruang fisik yang dihuni manusia, melainkan rumah bersama yang sakral. Manusia lahir dari tanah, bergantung pada tanah, dan kelak kembali ke tanah. Kesadaran ini, yang sejatinya merupakan inti iman kristiani, menemukan bentuk konkret dalam praktik budaya masyarakat Manggarai. Melalui sistem lingko, masyarakat tidak hanya mengatur tata guna tanah, melainkan juga menegaskan ikatan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kosmologi.
Lingko adalah warisan leluhur Manggarai berupa sistem pengelolaan tanah ulayat. Secara fisik, lingko digambarkan seperti jaring laba-laba (lodok), di mana tanah dibagi ke dalam sektor-sektor yang diberikan kepada setiap keluarga dalam komunitas kampung (béo). Namun pembagian itu tidak berarti kepemilikan individual yang absolut, sebab hak atas tanah tetap bersifat komunal. Lebih dari sekadar mekanisme agraris, lingko mengandung nilai sosial, religius, dan ekologis. Setiap kali tanah diolah, masyarakat mengadakan ritus adat untuk memohon restu Mori Keraéng. Melalui ritus tersebut, manusia menegaskan bahwa dirinya bukan penguasa mutlak, melainkan bagian dari jejaring kehidupan yang lebih luas.
Juhani menyoroti bahwa modernisasi pertanian dan pembangunan ekonomi sering kali justru mengabaikan nilai-nilai ekologis ini. Orientasi pada produktivitas, penggunaan teknologi tanpa kendali, serta ekspansi industri ekstraktif telah melahirkan luka ekologis: hutan gundul, air berkurang, tanah rusak, dan masyarakat adat tersingkir. Situasi ini, menurut penulis, merupakan tanda krisis spiritual. Manusia telah kehilangan kesadaran kosmiknya; ia melihat alam hanya sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai sahabat dan saudara.
Di sinilah relevansi ekoteologi. Ekoteologi bukan sekadar cabang baru dalam teologi, melainkan upaya untuk menempatkan relasi manusia, alam, dan Tuhan dalam kerangka yang utuh. Bagi orang Manggarai, lingko menjadi locus theologicus—tempat di mana pengalaman iman dihayati secara nyata. Melalui lingko, manusia belajar tentang keterbatasan dirinya, tentang kebersamaan dalam komunitas, dan tentang kesakralan tanah. Kesadaran semacam ini beresonansi dengan ajaran Gereja universal, terutama sebagaimana dikumandangkan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. Paus menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama dan menyerukan pertobatan ekologis.
Apa yang disuarakan Paus Fransiskus dalam level global sesungguhnya telah lama dihidupi masyarakat Manggarai dalam kearifan lokalnya. Dengan demikian, ekoteologi Manggarai tidak sekadar bernostalgia pada budaya leluhur, melainkan menawarkan model praksis bagi dunia modern. Nilai-nilai dalam lingko—penghormatan pada tanah, solidaritas komunal, dan ritus yang mempersatukan manusia dengan Sang Pencipta—menjadi sumber inspirasi untuk membangun pola pembangunan yang ramah lingkungan dan berkeadilan.
Kekuatan buku ini terletak pada keberanian penulis untuk menafsir ulang tradisi lokal dalam horizon teologi. Juhani tidak jatuh pada romantisme budaya, melainkan mengajukan konstruksi ekoteologi yang dialogis dengan sains, spiritualitas, dan konteks global. Ia menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi jawaban atas persoalan ekologis dunia, sejauh ia dibaca dalam terang iman dan dihidupi secara nyata.
Akhirnya, Ekoteologi Orang Manggarai bukan hanya karya akademis, tetapi juga seruan profetis. Seruan itu mengingatkan manusia bahwa ia adalah adamah, makhluk tanah yang rapuh, yang hidupnya tergantung pada bumi, dan yang dipanggil untuk merawat ciptaan sebagai bagian dari panggilannya di hadapan Allah. Buku ini mengajak kita menengok kembali akar budaya, menemukan spiritualitas ekologis di dalamnya, dan menjadikannya bekal untuk menghadapi krisis lingkungan global. Dengan bahasa yang jernih dan refleksi yang mendalam, penulis menegaskan bahwa jalan menuju masa depan bumi yang lestari dapat dimulai dari tanah Manggarai, dari lingko yang sederhana namun sarat makna.
