Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • Terus Berubah Tetap Setia; Dasar, Pola, Konteks Misi Agama
  • Kompendium Ajaran Sosial Gereja Gereja
  • Merambah Jalan Cinta Menggapai Kesempurnaan Agama
  • Allah Akbar-Allah Akrab Agama
  • GEREJA YANG TERLIBAT – Dialog Iman, Budaya dan Teologi Paus Fransisikus Agama
  • Konsili Yohanes XXIII Berpancawindu 1962-2002 Gereja
  • Ilmu Perbandingan Agama Agama
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat

Berani Berhenti Berbohong – 50 Tahun Pascaperistiwa 1965-1966

Posted on 29 Januari 2016 By ledalero

cover depan Akulah Allah leluhurmu… Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka. Ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang
pemeras dan menuntun mereka keluar dari negeri itu… (Kel 3:6-8)

******
Apakah perlu buku ini memperingatkan – seakan-akan mengungkit kembali – kekejaman masa lalu? Apakah tidak lebih baik kita tetap lupa, tetap tipu diri, karena apa yang sudah berlalu sudah berlalu? Menghadap pertanyaan yang meruncing ini, kita diajak berpaling pada apa yang ditandaskan oleh penyintas Sho’ah, survivor kamp penyiksaan konsentrasi Nazi, Elie Wiesel: Melupakan kekejaman manusia pada masa lalu, atau mengabaikan kekejaman yang terjadi pada masa kini, hari ini, yang terjadi di terlalu banyak tempat di seantero dunia, sungguh mengebalkan perasaan, dan bersifat picik lagi cupet. Melupakan kekejaman membuka peluang hingga kekerasan dapat terjadi lagi, malah lebih sering, lebih dekat kediaman kita. Itu sudah jelek. Namun, adalah bahaya yang sama besar jika kita mengabaikan tindakan keberanian orang yang mencenangkan lagi mengancam dirinya, tindakan keberanian yang meniadakan, membatalkan – malah membalikkan – tindakan kekerasan, dan yang sekaligus menjunjung tinggi hak dan martabat kita bagai manusia. Dengan melupakan masa lalu kita melepaskan catatan sejarah manusia ke dalam genggaman sosok-sosok yang menghancurkan, bukan di dalam tangan mereka yang menyelamatkan dan membangun.

Franz Magnis-Suseno dalam artikelnya mengajak bangsa Indonesia setelah 50 tahun gonosida 65/66 untuk berani menatap sejarahnya secara jujur dan membicarakannya secara terbuka. Bangsa Indonesia harus mengajukan pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah extraordinary crime against humanity pernah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan menjunjung tinggi nilai harmoni. Pertanyaan ini perlu diajukan demi integritas dan harga diri bangsa Indonesia sendiri. Magnis
mengingatkan dan menggarisbawahi bahwa membongkar sejarah tahun 65 bukan berarti mau menghidupkan kembali PKI.
Masalahnya bukan apakah PKI berada di belakang G30S atau tidak. Penulis sendiri tidak meragukan suatu keterlibatan Ketua PKI D.N. Aidit dan beberapa pimpinan lain PKI. Masalahnya adalah: Mengapa tidak cukup kalau PKI dilarang dan dibubarkan saja? Mengapa sampai sejuta rakyat (bisa lebih) mesti dibunuh?

Berharap sekalipun tak ada alasan untuk berharap (Lih. Rm 4:18). Karena itu, supaya kita benar-benar menolak penipuan penguasa dan melawan lupa penderitaan rakyat, telah hadir ke tengah Anda sebuah buku berjudul Berani Berhenti Berbohong. Buku ini berisikan sejumlah artikel seputar pembantaian 1965/1966. Sebagian besar artikel memberikan perhatian pada daerah NTT, diiringi berbagai analisis politik, psikologis dan agama.

Etika, Politik

Navigasi pos

Previous Post: LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah
Next Post: PAKET-PAKET RINDU Kumpulan Sajak (1) Adrian Ola Duli

Related Posts

  • BAHTERA TERANCAM KARAM – Lima Masalah Sosial Ekonomi dan Politik yang Meruntuhkan Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia Ekonomi
  • Menalar Keadilan Etika
  • MANUSIA BUKAN KAMBING-Bongkar & Hentikan Kejahatan Perdagangan Jual-Beli Manusia Ekonomi
  • ETIKA KRISTIANI -2 Kewajiban Moral Dalam Hidup Keagamaan Etika
  • PARRHESIA: Mozaik-Mozaik Aksara untuk Kemanusiaan  dan Indonesia Maju Agama
  • ETIKA KRISTIANI -1 Pendasaran Teologi Moral Etika
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Reduplikasi Morfemis Bahasa Manggarai
  • Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • Resolusi Masa Depan Pelajar – Teguhkan Iman, Menata Otak, Meraih Mimpi Lain-lain
  • Pengantar Pendidikan Lain-lain
  • Ekoteologi Orang Manggarai Agama
  • Pendekatan Reduksionis Terhadap Agama Agama
  • DALAM MONCONG NEOLIBERALISME-Kritik Kenabian terhadap Penyelewengan Pembangunan dengan Sistem Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Era Otonomi Daerah di Indonesia Ekonomi
  • Misi-Evangelisasi-Penghayatan Iman Agama
  • Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Bahasa & Sastra
  • Mengemas Perih Menjahit Rindu Bahasa & Sastra

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme