Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • MEMBUAT LANGIT TERSENYUM: Khotbah Sepanjang Tahun Gereja Pastoral
  • Allah Menggugat Sebuah Dogmatik Kristiani Teologi
  • TEOLOGI TERLIBAT – Politik & Budaya dalam Terang Teologi Spritualitas
  • EVANGELISASI Gereja yang Bergerak Keluar Agama
  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • Melakukan Teologi di Abad Plural Teologi
  • Model-Model Teologi Kontekstual Teologi
  • Dakwah Kristen – Undangan Allah Yang Menyelamatkan Semua Manusia & Alam Ciptaan melalui Yesus Kristus Agama

Jamahan Kasih di Taman Kehidupan

Posted on 13 Oktober 201525 Juni 2025 By ledalero

Judul :Jamahan Kasih Jamahan Kasih di Taman Kehidupan
Penulis : Alfons Betan, SVD
Penerbit : Penerbit Ledalero, cetakan ke-2, Oktober 2015
Jlh hlm : 112
Ukuran buku: 14,8 x 21 cm
ISBN : 979-9447-60-7
Kategori : Spiritualitas Alkitabiah
Harga : Rp.30.000

Buku ini merupakan refleksi spiritual yang menggali makna relasi manusia dalam terang kasih Allah, dengan fokus utama pada kisah Injil Yohanes tentang hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena. Dalam relasi yang intens dan transformatif ini, penulis menyoroti bagaimana kasih ilahi dapat menyentuh kehidupan manusia secara mendalam — baik dalam perjumpaan, kebersamaan, maupun perpisahan.

Kasih sebagai Pengalaman Kehidupan

Dalam Jamahan Kasih di Taman Kehidupan, Alvons Betan, SVD menegaskan bahwa kasih bukan hanya ajaran moral atau tuntutan agama, melainkan pengalaman konkret yang membentuk dan memperbarui hidup manusia secara menyeluruh secara psikologis, sosial, dan spiritual. Kasih menjadi daya hidup yang memberi arah, identitas, dan kekuatan untuk tumbuh.

Pengalaman dikasihi melalui perhatian kecil, sapaan hangat, kehadiran setia, bahkan dalam luka dan perpisahan adalah wujud nyata dari kasih yang sederhana namun mendalam. Kasih demikian membangun rasa aman dan harga diri, serta membuka ruang pertobatan dan transformasi.

Lebih jauh, kasih dipahami sebagai jalan rohani yang berpangkal pada Allah, sumber cinta sejati. Melalui kasih sesama, kita sesungguhnya dijamah oleh kasih ilahi yang menyapa dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Kasih ini menggerakkan kita untuk berubah, mengampuni, dan menjadi pribadi yang menghadirkan kasih bagi sesama.

Penulis menunjukkan bahwa kasih bukan konsep ideal, tetapi realitas hidup yang terbentuk dalam relasi baik dalam keluarga, komunitas, maupun dalam perjumpaan dengan orang yang berbeda. Di sanalah kasih diuji dan dimurnikan, menjadi jalan menuju kedewasaan iman dan kemanusiaan.

Yesus dan Maria Magdalena: Figur Relasional

Dalam Jamahan Kasih di Taman Kehidupan, relasi antara Yesus dan Maria Magdalena diangkat sebagai gambaran simbolis dari relasi mendalam antara Allah dan manusia. Maria Magdalena, yang dalam tradisi dilukiskan sebagai sosok yang terluka dan pernah jatuh, menjadi figur yang mewakili setiap pribadi yang pernah mengalami kegagalan, luka batin, atau penolakan.

Namun justru melalui kasih Kristus, ia dijamah, dipulihkan, dan diteguhkan martabatnya. Relasinya dengan Yesus bukan hanya emosional atau personal, melainkan menjadi cerminan kasih Allah yang menyembuhkan dan mengangkat. Dalam perjumpaan, kebersamaan, dan bahkan perpisahan mereka seperti tergambar dalam kisah di makam pada pagi Paskah tampak kekuatan kasih yang melampaui batas-batas manusiawi: kasih yang tidak menghakimi, tetapi membebaskan.

Melalui tokoh ini, penulis mengajak pembaca merenungkan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk disentuh dan dipulihkan oleh kasih Tuhan. Maria Magdalena adalah ikon harapan: bahwa siapa pun tak peduli masa lalu atau lukanya dapat mengalami transformasi batin ketika membuka diri terhadap kasih yang meneguhkan. Dengan demikian, relasi antara Yesus dan Maria Magdalena menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika spiritual kita sendiri: bagaimana Allah hadir, menyapa, dan mencintai manusia secara personal dan menyeluruh.

Relasi sebagai Jalan Pertumbuhan

Perjumpaan dengan sesama entah sesama jenis maupun lawan jenis merupakan ruang pertumbuhan yang penting dalam kehidupan manusia. Relasi yang otentik membuka kesempatan bagi seseorang untuk mengenal dirinya secara lebih jujur dan mendalam, karena dalam pantulan wajah orang lain, ia belajar melihat kekuatan, kelemahan, kebutuhan, dan potensi dirinya.

Dalam proses itu, pribadi dibentuk secara intelektual melalui dialog dan pertukaran gagasan, emosional melalui pengalaman saling memahami, spiritual melalui nilai-nilai yang dihayati bersama, dan afektif melalui ikatan kasih yang sehat dan bertanggung jawab. Relasi bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan medan formasi kepribadian yang kaya makna.

Karena itu, relasi yang dibina dengan kesadaran dan integritas menjadi salah satu jalan menuju kedewasaan sejati tempat di mana seseorang menemukan arah hidupnya, mematangkan pilihan, dan menumbuhkan komitmen atas dasar kasih yang memanusiakan.

Pilihan Hidup dan Kedewasaan Iman

Jamahan Kasih di Taman Kehidupan menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk menentukan arah hidupnya secara sadar, bebas, dan bertanggung jawab. Entah itu hidup berkeluarga, memilih hidup religius, atau menempuh bentuk bakti lain, setiap pilihan hidup yang sejati harus berakar pada kasih kasih yang matang, reflektif, dan tidak egoistik.

Pilihan hidup bukan sekadar hasil kehendak pribadi atau desakan lingkungan, tetapi buah dari proses pendewasaan iman: dari pengalaman dikasihi, dari keberanian untuk mengasihi, dan dari kesediaan untuk memberi diri. Dalam terang kasih ilahi, seseorang diajak untuk mengenali panggilannya, membedakan jalan yang hendak ditempuh, serta menjalaninya dengan komitmen dan sukacita.

Kasih menjadi fondasi keputusan karena hanya kasih yang sanggup menopang kesetiaan, meneguhkan di saat sulit, dan menghidupkan kembali ketika semangat mulai redup. Dengan demikian, buku ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar memilih jalan hidup, tetapi memilihnya dengan utuh sebagai tanggapan iman atas panggilan Allah yang menyapa melalui peristiwa hidup sehari-hari.

Syukur dan Penghayatan Kasih

Dalam Jamahan Kasih di Taman Kehidupan, penulis menekankan pentingnya menghidupi syukur sebagai respons spiritual terhadap kasih yang kita terima. Setiap pribadi yang hadir dalam hidup kita entah melalui perjumpaan singkat, pendampingan setia, maupun pengalaman sulit telah mengambil bagian dalam membentuk siapa kita hari ini. Oleh karena itu, mengenang mereka dengan hati yang penuh terima kasih adalah bentuk penghayatan kasih yang paling manusiawi dan rohani.

Namun, kasih tidak berhenti pada penerimaan. Kasih sejati menuntut pembagiaan. Apa yang telah kita alami sebagai berkat, diubah menjadi panggilan untuk melayani, menguatkan, dan mengasihi kembali bukan hanya kepada mereka yang dekat, tetapi juga kepada mereka yang lemah, tersisih, dan membutuhkan uluran hati.

Rasa syukur yang sejati mendorong kita untuk bertanggung jawab secara sosial: menjadikan kasih yang kita terima sebagai sumber daya untuk membangun sesama, komunitas, dan dunia yang lebih manusiawi. Dengan begitu, hidup kita menjadi saluran kasih Allah yang terus mengalir, memberi, dan menghidupkan.

Buku Jamahan Kasih di Taman Kehidupan bertujuan membantu pembaca, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan komunitas, untuk merenungkan kembali makna relasi dan pengalaman kasih dalam kehidupan sehari-hari. Melalui refleksi atas perjumpaan, interaksi, dan perpisahan yang menyentuh hati, buku ini mengajak setiap orang untuk melihat kasih bukan sebagai hal abstrak, melainkan sebagai realitas konkret yang membentuk, memulihkan, dan mengarahkan hidup.

Dengan bertumpu pada spiritualitas Injili, khususnya inspirasi dari relasi Yesus dan Maria Magdalena, buku ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan kedewasaan iman: iman yang tumbuh dari pengalaman dikasihi, dikuatkan melalui relasi yang sehat, dan diwujudkan dalam tanggung jawab hidup yang penuh kasih serta pelayanan yang otentik.

Liturgi dan Kitab Suci, Spritualitas Tags:Alfons Betan SVD, Jamahan kasih, Ledalero, Taman Kehidupan

Navigasi pos

Previous Post: Mengapa Gereja (Harus) Tolak Tambang – Sebuah tinjauan etis, filosofis dan teologis atas korporasi tambang
Next Post: LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah

Related Posts

  • Imam Masa Kini Gereja
  • Adoremus – Kumpulan Doa-Doa Salve Liturgi dan Kitab Suci
  • Mengiringi Kematian – 73 Homili/Renungan untuk Misa dan Ibadat Kematian Agama
  • OASE SURGAWI: Khotbah Menurut Tahun Gereja Keluarga
  • Semana Santa di Larantuka – Sejarah dan Liturgi Agama
  • TEOLOGI PERJANJIAN LAMA: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan Liturgi dan Kitab Suci
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Reduplikasi Morfemis Bahasa Manggarai
  • Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • KEKRISTENAN – Gerakan Universal-Sebuah Ulasan Sejarah Dari Kekristenan Bahari Sampai Tahun 1453 Gereja
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat
  • Orang-Orang Dalam Perjalanan Pendidikan
  • Seni Bicara Bahasa & Sastra
  • Dakwah Kristen – Undangan Allah Yang Menyelamatkan Semua Manusia & Alam Ciptaan melalui Yesus Kristus Agama
  • Adoremus – Kumpulan Doa-Doa Salve Liturgi dan Kitab Suci
  • MAFIA BANK DUNIA & IMF – Alat Penjajahan Baru Negara Industri Terhadap Negara Berkembang Sejak Akhir Perang Dunia Ekonomi
  • Memahami Ibadat Harian – Doa Tanpa Henti Dari Semua Anggota Gereja Liturgi dan Kitab Suci

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme