Skip to content
ledalero-publisher.com

ledalero-publisher.com

ledaleropublisher

  • HOME
  • BERITA BUKU
  • HUBUNGI KAMI
  • PRODUK
  • KATALOG
  • RESENSI BUKU
  • TENTANG KAMI
  • Toggle search form
  • Konsili Yohanes XXIII Berpancawindu 1962-2002 Gereja
  • KEKRISTENAN: SEBUAH IKHTISAR Lain-lain
  • Mendengarkan Apa Kata Roh Kepada Gereja Agama
  • MEMBONGKAR DERITA – Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi Filsafat
  • Memperkenalkan Teologi Feminis Teologi
  • Terus Berubah Tetap Setia; Dasar, Pola, Konteks Misi Agama
  • MERANGKAI IDENTITAS MARIA Gereja
  • Melakukan Teologi di Abad Plural Teologi

MONOLOGION – Ketika Kata Bertingkah

Posted on 14 Juli 201711 Juli 2023 By ledalero

Jika Anda tidak ingin disindir tutup dan buanglah buku ini di tempat sampah!

Pengarang   : Fredy Sebho
Penerbit       : Ledalero
ISBN             : 978-602-1161-24-1
Terbit            : Juni 2016
Ukuran          : 140 mm x 210 mm
Jumlah hlm.  : 192 halaman
Harga             : Rp. 50.000

Monologion ini dibuka dengan sebuah proposisi tentang kata. Kata mendasari universum dan kepadanyalah segala sesuatu tergantung. Kata itu tampak mulai dari yang paling renik sampai yang paling rumit dan, seperti diamini penulis buku ini, hingga tak lagi bisa ditemukan oleh bahasa.

Jika memang demikian, bagaimanakah sesuatu yang tidak bisa ditemukan oleh bahasa terpahami, sementara bahasa dimafumi sebagai sarana pengantar manusia kepada pengertian, termasuk kepada pemahaman akan kata sebagai fundamen segala keberadaan? Dan apakah yang tidak bisa ditemukan oleh bahasa itu pada akhirnya, sekali lagi, ekuivalen dengan kata?

Pertanyaan eksistensial ini mewadahi permenungan setiap pencari kebenaran, termasuk mereka yang menggunakan tulisan sebagai instrumen. Melalui tulisan sesuatu yang disebut rahasia terungkap. Hal ini tentu bukan tujuan satu-satunya, sebab menurut Roland Barthes menulis itu tidak hanya menyingkapkan rahasia, tetapi pada akhirnya harus bersifat revolusioner, yakni menolak makna.[1] Namun, apa itu “menolak makna”? Barthes tentu tidak salah, walaupun juga tidak selamanya benar.

Penulis, seturut Barthes, belum berhasil jika sekadar puas dengan ramuan kata yang sedap bagi mata dan telinga. Pesannya ialah penolakan terhadap kedangkalan makna dan pesan di dalam teks. Hanya saja cukup banyak penulis yang gagal, sebab salah memilih cara menyampaikan pesan. Tidak sedikit penulis yang merasa puas dengan mendikte pembaca, dan berpikir bahwa sebuah tulisan telah cukup mengubah dunia.

Dalam rangka menyingkapkan rahasia dan melawan kedangkalan pesan, cukup banyak penulis menggunakan dialog sebagai metode. Namun, pada sebagian, rahasia justru terungkap melalui teknik monolog(ion). Di dalam teknik ini sindiran dipilih bukan karena dianggap etis, melainkan karena lebih baik daripada mendikte.   

Di dalam buku monologion ini diberi arti “kembara tanpa batas ke dalam diri sendiri”. Namun, arti tersebut kehilangan daya magisnya jika tidak dikaitkan dengan kembara iman dan intelektual manusia yang paling primordial. Dalam rangka ini, kita mesti kembali pada era medieval, zaman di mana eksistensi Allah dicari melalui pergulatan intelektual, dan saat di mana siapa pun pasti terpaut dengan Anselmus dari Canterbury. Selain kita terpesona oleh pembuktian Anselmus akan keberadaan Allah yang didaulatnya melalui rasio murni dan silogisme, kita berjumpa dengan sumber dari mana terma “monologion” yang dipakai penulis buku ini berasal. 

Bahasa & Sastra Tags:Bicara, Fredy, Ketika kata berbicara, Ledalero, monologion, Sebho

Navigasi pos

Previous Post: Ilmu Perbandingan Agama
Next Post: MGR. PETRUS NOYEN, SVD – Perintis Misi SVD di Indonesia

Related Posts

  • Seni Bicara Bahasa & Sastra
  • Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan Bahasa & Sastra
  • Biar Susah Sungguh! Bahasa & Sastra
  • TERLIBAT – Kumpulan Sajak Bahasa & Sastra
  • Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Bahasa & Sastra
  • The Local Stories and Legends – KODAJA INA AMA GEN’A – Handed Down By The Ancestors From Udak-Lewuka-Lembata Antropologi
  • Agama
  • Antropologi
  • Bahasa & Sastra
  • Biografi
  • Ekonomi
  • Etika
  • Filsafat
  • Gereja
  • Keluarga
  • Komunikasi
  • Lain-lain
  • Liturgi dan Kitab Suci
  • Pastoral
  • Pendidikan
  • Politik
  • Psikologi
  • Sejarah
  • Seni dan Budaya
  • Sosiologi
  • Spiritualitas
  • Spritualitas
  • Teologi
  • Ekoteologi Orang Manggarai
  • Reduplikasi Morfemis Bahasa Manggarai
  • Menyambut Harapan, Merajut Masa Depan
  • Kurban yang Berkenan Kepada Allah – Kurban Dalam Tradisi Gereja dan Diskursus Teologi
  • Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja
  • ETIKA KRISTIANI -1 Pendasaran Teologi Moral Etika
  • Alam Belum Berhenti Bercerita Gereja
  • Ekoteologi Orang Manggarai Agama
  • Sejarah Keuskupan Larantuka Gereja
  • Konsili Yohanes XXIII Berpancawindu 1962-2002 Gereja
  • Filsafat Politik Filsafat
  • DIPANGGIL UNTUK KEMERDEKAAN -Sebuah Studi Mengenai Gereja Masehi Injili di Timor dalam Hubungan dengan Lingkungannya Agama
  • Sai Miu? Ata Nggela -Lio Ende Antropologi

Copyright © 2026 ledalero-publisher.com.

Powered by PressBook News WordPress theme