Pengarang : Dr. John M. Prior
Jenis Kertas : HVS 60 gram
Cover : Ivory 230 grm doft
Jumlah halaman : xxii + 232 halaman
Ukuran : 140 mm x 210 mm
Harga : Rp. 40.000
Buku Berdiri di Ambang Batas merupakan refleksi seorang misionaris yang hidup lintas budaya dan agama, khususnya dalam konteks Asia dan Indonesia. Penulis menegaskan bahwa pewartaan Injil sejati harus berakar pada spiritualitas dialogal-profetis: Injil hanya dapat diwartakan dengan otentik melalui sikap dialog, mendengarkan, belajar dari yang lain, serta bersaksi dengan keberanian profetis. Spiritualitas ini menuntut pewarta untuk hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai tamu yang diterima dengan keramahtamahan, sekaligus tetap dianggap sebagai orang asing. Dari posisi marginal inilah pewarta diundang untuk berpartisipasi dalam transformasi sosial dan budaya secara rendah hati.
Refleksi penulis bergerak dari pengalaman konkret, terutama di Nusa Tenggara dan Papua, menuju permenungan teologis yang lebih luas. Tapal batas budaya dan agama dipahami sebagai sesuatu yang ambivalen: ia bisa menjadi palang yang memisahkan, tetapi juga bisa menjadi jembatan yang menghubungkan. Perbedaan tidak boleh dihapus, namun juga tidak boleh diabsolutkan. Justru, dengan melintasi batas inilah muncul kemungkinan lahirnya identitas baru yang lebih inklusif, yang disebut penulis sebagai “peradaban cinta”.
Buku ini juga menekankan bahwa “yang lain” bukan sekadar lawan, melainkan belahan dari diri kita sendiri. Identitas sejati tidak bisa dipahami tanpa keterhubungan dengan budaya dan agama lain. Karena itu, misi Kristen tidak dimengerti sebagai upaya memperluas wilayah pengaruh, melainkan sebagai partisipasi dalam missio Dei — karya Allah sendiri yang melampaui batas-batas institusi Gereja. Dalam konteks globalisasi dan bangkitnya ekstremisme yang menebalkan sekat-sekat identitas, misi justru dipanggil untuk membangun jembatan, mempertemukan, mendamaikan, dan merawat kebersamaan.
Penulis menggambarkan jalan hidup pewarta lintas budaya sebagai “membangun rumah di angin”: sebuah eksistensi rapuh, penuh ketidakpastian, namun ditopang oleh iman pada Kristus yang wafat dan bangkit. Proses ini dijalani dalam empat fase: menyelam dalam kebudayaan lain, mengkaji secara ilmiah, merenungkan dalam terang Injil, lalu kembali dalam tindakan transformatif. Semua fase ini mesti dijalani berulang, sepanjang hidup. Dalam proses keberalihan ini, pewarta dipanggil untuk menjalani spiritualitas kenosis — mengosongkan diri, hadir tanpa kuasa, bersaksi tanpa ambisi mengendalikan.
Isi buku disusun dalam lima bab reflektif:
-
Corat-Coret Asmat (1999–2006): pengalaman pastoral dan sosio-kultural di Papua, dengan sorotan pada transformasi masyarakat dan Gereja lokal.
-
Martabat dan Jati Diri: perjuangan suku bangsa pribumi di Asia mempertahankan identitas di tengah arus globalisasi.
-
Nilai-Nilai Manusiawi: refleksi bersama para waligereja Asia (FABC) mengenai pencarian kemanusiaan yang utuh.
-
Dialog dan Kebudayaan: perenungan seorang musafir lintas iman dan budaya, dengan penekanan pada inkulturasi dan spiritualitas penziarahan.
-
Antara Pernyataan dan Kenyataan: ketegangan antara dokumen-dokumen Gereja dan realitas pastoral sehari-hari, serta tantangan mewujudkan inkulturasi yang otentik.
Sebagai penutup, penulis menegaskan bahwa misi pada masa kini adalah kehadiran lintas batas: hadir dengan kesetiaan, kebebasan, dan bela rasa kosmis yang mencakup segenap ciptaan. Dengan demikian, Berdiri di Ambang Batas bukan hanya catatan pengalaman, melainkan juga tawaran visi teologi misi yang berakar pada dialog, profetisme, dan spiritualitas kenosis — sebuah ajakan untuk hidup sebagai penziarah yang terus melintasi tapal batas, demi menghadirkan kehidupan dalam segala kelimpahannya.
